Milad sebagai Momentum Kebangkitan Risma Al-Qomar dalam Menghadapi Tantangan Perubahan Zaman

28 Februari merupakan tanggal istimewa bagi Risma Al-Qomar. Hal ini karena pada tanggal itulah Risma Al-Qomar dilahirkan (dibentuk, red). Organisasi Remaja Islam Masjid yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-6 ini memiliki tantangan yang semakin besar seiring perkembangan zaman.

Eksistensi Risma Al-Qomar di lingkungan masyarakat (jamaah) Masjid Al-Qomar sangatlah diperlukan. Risma Al-Qomar memiliki peran yang sangat urgen dalam usaha memakmurkan masjid yang dibangun bertepatan dengan peristiwa mendaratnya Neil Amstrong di bulan ini. Di mata para jamaah sendiri, kegiatan-kegiatan Risma Al-Qomar dinilai dapat membawa dampak yang positif bagi remaja dan masyarakat di sekitar masjid. Melalui wadah organisasi remaja Islam ini, para kawula muda di Pedukuhan Gowok dapat menyalurkan bakat dan minatnya untuk ikut serta dalam berdakwah menegakkan kalimatullah fil Ardi. Hal ini sesuai dengan visi Risma Al-Qomar yakni: “Risma Al-Qomar merupakan wadah bagi kalangan Remaja Islam di Gowok untuk belajar beragama dan bermasyarakat”. Dan lebih spesifik dituangkan dalam misinya yakni “membentuk kepribadian remaja Islam yang berakhlakul karimah”.

Salah satu tujuan dibentuknya Risma Al-Qomar sebagaimana dituangkan dalam AD/ART-nya adalah membentuk dan memberdayakan masyarakat Gowok khususnya remaja untuk bisa berperan aktif dalam memakmurkan masjid. Untuk bisa mencapai tujuan itu tentunya tidak semudah membalik kedua telapak tangan. Diperlukan adanya suatu usaha yang ekstra untuk bisa menggapainya mengingat kondisi sosial dan remaja dewasa ini sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu kala.

Di era komputerisasi dan globalisasi (kadang ada yang memplesetkannya dengan istilah goblokisasi) sekarang ini, remaja lebih cenderung melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat ketimbang mengurus kegiatan di Masjid. Misalnya mereka lebih suka membaca koran daripada Qur’an, lebih senang melihat tv daripada da’i, lebih piawai berbuat maksiat daripada manfaat, lebih gemar nongkrong di majlis kafe daripada majlis ilmu, dan lain sebagainya. Bahkan ‘virus’ internet sekarang telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Hampir di setiap tempat bisa mengakses situs internet dengan mudah mulai dari situs A sampai Z. Dan hampir setiap orang, baik tua-muda, laki-perempuan, kaya-miskin, tanpa mengenal batas usia, rata-rata memiliki akun di facebook atau twitter dan beberapa situs jejaring sosial lainnya. Meski dapat berdampak positif, dunia maya juga memiliki banyak mahdhorot. Hal inilah yang menjadikan mereka semakin jauh dari masjid dan nilai-nilai keislaman.

Untuk mengatasi problematika remaja di atas, perlu adanya strategi jitu yang melibatkan berbagai komponen, baik dari pihak takmir masjid, anggota Risma Al-Qomar maupun seluruh masyarakat (jamaah) Masjid Al-Qomar. Ketiga komponen tersebut harus saling mendukung satu sama lain jika ingin mencetak generasi islami di lingkungan Masjid Al-Qomar.

Kepedulian Takmir

Pengurus Takmir Masjid Al-Qomar memiliki peran yang sangat penting dalam upaya mewujudkan generasi islami. Takmir masjid harus senantiasa memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan Risma yang tentunya mampu membawa manfaat. Dukungan tersebut tidak hanya cukup berwujud materi (sumbangan dana) saja, tetapi juga dapat berupa arahan, teladan, serta mengontrol setiap perkembangan Risma.

Hubungan takmir dengan Risma bagaikan hubungan antara ayah dan anaknya. Ketika seorang ayah tidak peduli terhadap perkembangan anaknya, maka sang anak akan berbuat semau gue. Dia tidak akan mau lagi mendengar petuah sang ayah. Hal inilah yang harus kita hindari.

Peran sentral anggota Risma

Setiap anggota Risma harus memiliki sikap peka terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitarnya. Ketika kondisi lingkungannya sudah terinfeksi perbuatan yang non islami, maka ia harus cepat-tanggap dan punya kemauan kuat untuk mengubahnya. Hal itu dapat dilakukan dengan senantiasa aktif dalam keanggotaan dan kegiatan-kegiatan risma. Dia harus mencurahkan segala kemampuannya baik waktu, tenaga, pikiran bahkan materi sekalipun untuk menyukseskan setiap program kerja risma. Selain itu anggota risma juga dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengemas berbagai kegiatan agar seluruh jamaah khususnya remaja tertarik untuk ikut serta dalam setiap kegiatan tersebut.

Dukungan Masyarakat (jamaah)

Setiap masyarakat di manapun berada pasti menghendaki agar lingkungannya aman, tertib dan islami. Untuk mewujudkan lingkungan yang islami maka peran serta masyarakat itu sendiri tidak boleh diabaikan. Masyarakat (jamaah masjid) harus memberi dukungan yang riil dengan ikut serta dalam setiap kegiatan yang diadakan Risma Al-Qomar baik kegiatan yang bersifat keagamaan seperti pengajian, tadarusan, kajian keislaman, maupun kegiatan yang bersifat non keagamaan. Para jamaah juga harus menyuruh putra-putri agar mau dan ikut aktif dalam keaggotaan risma.

Ketika ketiga komponen di atas terpenuhi, insya Allah Risma Al-Qomar ke depan akan semakin lebih baik dan mampu menjawab berbagai tantangan perubahan zaman. Sehingga Masjid Al-Qomar akan mampu mencetak kader-kader Islam yang berakhlak Islami, unggul dalam prestasi dan terampil dalam teknologi, semoga. [/]

*Ketua Risma Al-Qomar dan Penjaga Masjid Al-Qomar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s