Etika Dalam Bertetangga

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

(Q.S. An-Nisa’ [4]: 36)

Ayat di atas memerintahkan agar kita berbuat baik kepada tetangga, baik tetangga dekat maupun tetangga jauh. Tetangga yang dekat ialah orang yang tempat tinggalnya dekat dengan kita, kerabat dan se-agama. Sedangkan tetangga jauh adalah orang yang jauh dari tempat tinggal kita, bukan kerabat dan tidak se-agama.

Tetangga dalam bahasa Arab berasal dari kata al-Jaar ( الجار ) yang merupakan bentukan dari kata ja-wa-ra ( جور ) yang bermakna orang yang memiliki keunggulan tertentu, yang bisa melindungi kelompoknya. Menurut Al-Asfihani sebagaimana dikutip Waryono Abdul Ghafur, tetangga adalah orang yang rumahnya dekat dengan kita, atau orang yang tinggal di sekitar rumah kita, sejak dari rumah pertama hingga rumah keempat puluh. Dalam konteks sekarang tetangga tidak hanya dibatasi oleh jumlah empat puluh rumah, namun bisa dikategorikan dalam satu RT/RW atau bisa juga dalam satu komplek.

Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Manusia tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dia membutuhkan orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh sepele adalah ketika manusia makan sesuap nasi, dia membutuhkan tangan-tangan terampil orang lain agar mampu membuat makanan tersebut. Mulai dari tangan para petani yang menanam padi hingga memanennya, tangan pembajak sawah, tangan pembuat pupuk padi di pabrik, tangan penjual beras di pasar, tangan pemasak nasi, tangan pembuat kompor untuk memasak, tangan pembuat piring, sendok, gelas dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang lain sangat berarti bagi kehidupan kita. Jadi sangat naif jika kita menjadi orang yang ingin menang sendiri, egois, individualis, dan tidak menghiraukan orang lain.

Bertetangga adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan kita. Setiap orang yang akan membangun sebuah bangunan (rumah) tidak mungkin akan memilih lokasi di tengah hutan atau gunung yang jauh dari keramaian dan tanpa akses jalan. Tetapi mereka pasti lebih memilih tempat yang strategis dengan akses jalan yang mudah dan lokasi yang sudah dihuni banyak orang. Hal ini menunjukkan manusia memiliki naluri untuk hidup bersosial dan bertetangga dengan orang lain.

Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya menghormati tetangga. Banyak sekali hadits-hadits Nabi yang memperintahkan kita agar senantiasa menghormati tetangga. Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa kadar kualitas keimanan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana ia mampu berbuat baik kepada tetangganya. Nabi bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memperlakukan tetangganya dengan baik. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan (menghormati) tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bertutur kata yang baik, dan kalau tidak bisa lebih baik diam (jangan banyak bicara). (HR. Muttafaq ‘alaih).

Keistimewaan Tetangga

Tetangga memiliki peranan dan posisi sentral dalam kehidupan kita. Sebab, tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita. Tak jarang ketika kita sedang dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan cepat, maka tetanggalah yang siap memberikan bantuan. Misalkan terjadi sebuah kebakaran di rumah kita, secara otomatis tetanggalah yang pertama kali membantu memadamkan api. Jauh sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Karena pentingnya tetangga bagi kita, maka dalam ayat di atas Allah meletakkan kewajiban berbuat baik kepada tetangga sejajar dengan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim dan lain-lain. Bahkan Rasulullah SAW sempat mengira bahwa tetangga adalah bagian dari yang berhak menerima harta warisan. Beliau bersabda dari Abu Hurairah: “Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik dengan tetangga sehingga saya kira kemungkinan itu akan diberi hak waris.” (HR. Bukhori-Muslim).

Oleh karena itu hendaknya kita mampu menjadi tetangga yang baik bagi orang lain. Tetangga yang baik ialah tetangga yang dapat memberikan rasa aman, nyaman dan kedamaian di lingkungan tempat tinggalnya. Jangan sebaliknya kita menimbulkan rasa benci dan mengganggu tetangga, karena orang yang berbuat jahat kepada tetangga dosanya berlipat dibandingkan kepada selain tetangga. Rasulullah SAW bersabda dari Said bin Al-Musayyad: “Kehormatan tetangga kepada tetangganya bagaikan kehormatan ibu. Juga dapat berarti: Haramnya mengganggu tetangga sama dengan haramnya menggangu ibu kandung.

Macam-Macam Hak Tetangga

Dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Bakar al-Bazzar dari Jabir bin Abdullah dijelaskan bahwa: “Hak Tetangga itu ada tiga golongan. Ada tetangga yang hanya memiliki satu macam hak, ada tetangga yang mempunyai dua macam hak dan ada tetangga yang mempunyai tiga macam hak…”

Haryono Abdul Ghafur dalam buku Tafsir Sosial-nya membagi tetangga dalam tiga kategori, yaitu (1) tetangga muslim dan kerabat, (2) tetangga muslim bukan kerabat, dan (3) tetangga non-muslim.

Tetangga yang memiliki tiga macam hak adalah tetangga muslim dan masih kerabat. Tiga hak tersebut di antaranya:

  1. Hak sebagai sesama muslim, contohnya: mengunjungi jika sakit, mengurus jenazahnya, mendoakan ketika bersin, memberi salam dan lain-lain.
  2. Hak sebagai kerabat, contohnya: menyambung silarurrahim, mendahulukannya dalam pemberian hadiah dan lain-lain.
  3. Hak sebagai tetangga, dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi, bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami, dan bila tetangga kesukaran, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya kamu tutup-tutup dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, atau menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya“.

Tetangga yang memiliki dua macam hak ialah tetangga muslim yang bukan kerabat yang berupa hak sebagai muslim dan hak sebagai tetangga. Sedangkan tetangga yang hanya memiliki satu macam hak yaitu tetangga non-muslim yang berupa hak sebagai tetangga sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

Etika Terhadap Tetangga

Dalam menjalin hubungan dengan tetangga, kita tentu tidak dapat melepaskan diri dari yang namanya etika. Etika terhadap tetangga sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam bermasyarakat. Beberapa etika terhadap tetangga di antaranya adalah:

Pertama, hendaknya kita saling memberi pertolongan kepada tetangga yang sedang mengalami kesusahan. Firman Allah SWT: “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah , kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksanya” (QS. Al-Maidah: 2).

Kedua, bersikap positive thingking (berpikir positif) terhadap tetangga kita. Jangan sampai berprasangka buruk (su’udhan) apalagi merasa iri hati melihat tetangga kita sukses. Jika kita berpikir positif terhadap tetangga, sudah barang tentu mereka akan berpikir positif pula terhadap kita.

Ketiga, jangan pernah kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

Keempat, berupaya menjaga kerukunan dan kedamaian di antara tetangga. Jika melihat tetangga kita yang sedang berselisih, maka damaikanlah dengan adil. Jangan memihak salah satu di antaranya.

Kelima, tidak melakukan suatu kegaduhan yang dapat mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah SAW telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

Keenam, hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…–Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim senantiasa menghormati dan menjaga hubungan baik dengan tetangga. Jangan sekali-kali kita mengganggu apalagi menyakiti mereka. Jadilah orang yang bisa bermanfaat bagi tetangga kita karena dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain”.

Ali Murtadlo

(Koordinator Divisi Media dan Jaringan, Risma Al-Qomar)

One thought on “Etika Dalam Bertetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s