Inspirasi Dan Apresiasi Islam Dalam Budaya Dan Seni

PENDAHULUAN

Budaya atau kebudayaan dipahami sebagai tri potensi manusia, yakni berfikir, berkemauan dan berperasaan yang terjelma dalam kumpulan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah sosial dan kesenian. Dalam pengertian ini tergambar adanya proses yang menjadikan manusia – individu dan masyarakat sebagai wadah pembentukan potensi yaag dijelmakan dalam bentuk logika, etika dan estetika.

Sedang inspirasi dan apresiasi Islam dimaksudkan bagaimana nilai-nilai Islami memberi ilham dan semangat dalam budaya dan sastra lokal, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabatnya berhadapan dengan budaya global di suatu kawasan tertentu, misalnya budaya lokal pada setiap suku yang mayoritas penganut Islam di Indonesia.

Oleh karena itu, perlu adanya pelestarian dalam hal aplikasi seni budaya. Pada taraf global budaya sangat menentukan cirri khas, bahkan menunjukkan identitas suatu daerah tertentu. Maka dari itu, masyarakat secara bersama dan individu harus menjadi agen tunggal yang menjadi proses penyebaran budaya sekaligus mempertahankan eksistensi keberadaan budaya itu sendiri.

PEMBAHASAN

Manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan lingkungannya. Ikatannya adalah kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar dimungkinkan karena dalam kebudayaan terdapat sejumlah kaidah, aturan dan kategori, yang dapat diketahui melalui pengalaman dan pengamatan terhadap Ungkungan sosial. Selanjutnya, pencocokan dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebehunnya, dan akhimya interpretasi dengan kembali mengadakan sistematisasi dan kategorisasi.

Dalam proses analisis dan interpretasi, manusia selalu dihadapkan dengan “model pengetahuan” yang telah diketahui terlebih dahulu. Model pengetahuan ini memiliki variasi beraneka ragam, terkait dengan keragaman pengalaman dan pengamatan terhadap lingkungan sosial. Kaitan atau hubungan antara model-model pengetahuan membentuk sistem dan pola pikir. Inilah yang merupakan hakekat kebudayaan.

Manusia dapat membedakan kategori-katogori dari setiap model dan sistem dalam pola pikir melalui simbol. Simbol itu berwujud   “bahasa yang diketahui secara bersama dan tersebar luas. Misalnya masjid, pasar dan nightclub adalah simbol, ada modelnya dalam pola pikir manusia.

Masjid sebagai simbol dapat menjadi referensi sistem religi – tempat shalat, juga sistem teknologi – arsitektur. Demikian pula pasar dan nightclub adalah simbol untuk sistem ekonomi dan estetika, tersendiri atau kedua-duanya sekaligus.[1]

Integrasi Nilai-nilai Wahyu dalam Kebudayaan

Nilai-nilai budaya dalam keyakinan umat Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad sebagai hudan — petunjuk — bagi manusia untuk kebahagiaan hidupnya dunia-akhirat. Sunnah juga merupakan wahyu (QS. 53:1-11), meskipun untuk menyakini kewahyuannya diperlukan proses pentarjihan kesahihan sanad maupun matannya.

Budaya dan nilai-nilai Islami dapat saling isi dan karena kesamaan unsur   esensial. Esensi budaya adalah-pengetahuan, sedang sumber utama nilai-nilai Islam juga “pengetahuan” yang dapat mengendap dalam pola dan tata yang berfungsi untuk merespons setiap stimulus dari lingkungan sosial, melalui simbol-simbol bahasa.

Namun, bagi umat Islam karena sumber wahyu bersifat transendental maka diimani mutlak kebenarannya (QS. 3:60); sedang sumber budaya adalah manusia sendiri yang ada dalam dinamika perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, wahyu menjadi rujukan dalam pengembangan kebudayaan. Titik temu ini membawa integrasi wahyu dalam kebudayaan. Proses integrasi terjadi ketika penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan pensyarahan as-Sunnah ash-Shahihah dengan menggunakan metode dan sistematika disiplin ilmu tertentu dalam rangka inereson problem hidup dari berbagai aspeknya.

Apresiasi Islam terhadap Kebudayaan

Sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifah-Nya di dunia ini. Manusia terbagi dalam dua kelompok, sebagian mukmin dan sebagian kafir (QS. 64:2). Namun tidak analog bahwa umat Islam melahirkan budaya Islam, sedang yang kafir melahirkan budaya kafir. Wahyu terintegrasi dalam kebudayaan sejak manusia menghuni bumi ini, sampai kiamat; sedang manusia mukmin dan non mukmin terlahir baik selaku individu maupun sebagai umat, pada gilirannya berhadapan dengan ajal dan kematian (QS. 6:60; 7:43).

Inspirasi dan apresiasi nilai Islam ini dihadapkan pada arus perubahan sosial dan tantangan “budaya global” yang cukup berpengaruh. Arus perubahan yang paling menonjol antara lain:

1. Perubahan dari era agraris yang tradisional ke era industri mod­ern. Meskipun di Barat perubahan ini dimulai awal abad ke. 20, namun pengaruhnya di Indonesia dirasakan kemudian pada awal pemerintahan Orde Baru, yakni sekitar tahun 65-an.

2. Setelah Perang Dunia II, terjadi pergeseran antara kekuatan kolektif, nation-state, dan kekuatan individu, negara dikuasai konglomerasi. Pengaruh ini dirasakan di Indonesia pada masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru, tepatnya dekade 90-an.

3. Menjelang abad 21 (millineum III), terjadi pergeseran dari ideologi negara dan ideologi individu ke arah ideologi global yang pada gilirannya membuat batas-batas negara menjadi semakin longgar dan memberi peluang terbentuknya “budaya global”. Pengaruh ini juga dirasakan di Indonesia sejalan dengan arus reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru sejak Mei 1998.

Cita-cita perubahan ke arah ideologi global ini. arusnya dapat dilihat pada:

1. Terbukanya berbagai kesempatan untuk kegiatan interaksi secara global baik di bidang ekonomi, perdagangan, industri, dan jasa, maupun di bidang pendidikan dan kebudayaan.

2. Tumbuhnya bentuk-bentuk kerja sama antara bangsa-bangsa pada tingkat internasional dan regional, dengan melibatkan seluruh wilayah negara di bidang ekonomi, maupun bidang sosial budaya.

3.  Terjadinya strukturisasi yang mencakup wilayah kawasan dunia sebagai, satu keseluruhan global baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Dengan ciri-ciri utama seperti disebutkan di atas, mendorong bangsa-bangsa di dunia cepat atau lambat, menjalani proses perubahan menuju suatu budaya global.

Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya”: “Siapa yang tidak terkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.[2]

Quraish Shihab berpendapat: “Mengabaikan sisi-sisi keindahan di alam raya ini, berarti mengabaikan salah satu sisi dari bukti keesaan Allah; dan dengan demikian mengekspresikannya dapat merupakan upaya membuktikan kebesaran-Nya. Tidak kalah – kalau enggan berkata lebih kuat — daripada upaya membuktikannya dengan akal fikiran melalui dakwah lisan atau tulisan. Islam adalah agama fitrah.

Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya. Seni adalah fitrah; kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian manusia selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia vang suci itu. Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.[3]

Kontekstualisme Ajaran Islam tentang Seni

Sebenarnyalah, dalam literatur Islam klasik pernah dipersoalkan seni rupa yang obyeknya adalah makhluk bernyawa, manusia atau binatang. Terdapat kekhawatiran “menjadi penyebab kemusyrikan”. Oleh karena itu, seniman penciptanya sangat dicela dengan ancaman bakal diminta untuk meniupkan ruh pada karyanya itu.

Sementara itu, kolektor penikmat seni rupa “mahluk bernyawa” diancam, rumahnya tak akan dimasuki Malaikat pembawa rahmat, begitu pula dengan dipersoalkan tentang seni suara, yang dipandang sebagai lahw al-hadiih yang diartikan sama dengan nyanyian yang tidak berguna, karena menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuannya (QS. Luqman, 31:6). Namun, persoaian ini dapat ditemukan jalan penyelesaiannya melalui analisis kontekstual, rasional dan estetika terhadap kedua obyek seni tersebut.

Di antara berbagai cabang kesenian, seni rupa merupakan” kesenian yang paling jelas dan paling sederhana. Dengan mengandalkan pendekatan visual dan peradaban, seni rupa langsung menggambarkan sisi paling konkrit suatu karya artistic di lingkungan alam sekitarnya.

Pada dasarnya, seni rupa bertolak dari asumsi bahwa manusia normal itu dapat memberi reaksi terhadap bentuk, permukaan, massa, volume dan sebagainya dari hal-hal yang ia hadapi. Dalam suasana tertentu, dengan didukung oleh pengalaman subjektif, suatu bentuk dapat memancing sensasi, kesan dan pengalaman dalam perasaan. Hubungan-hubungan tersebut membangun citra tentang keindahan yang memberi rasa bahagia.

Dengan demikian, penolakan al-Qur’an bukan tertuju pada basil karya seni rupa yang berupa patung tersebut, tetapi pada kemusyrikan dan penyembahan terhadapnya.

Demikan pula penolakan al-Qur’an terhadap lahw al-hadfth, dan ayat yang semakna dengannya, bukan karena keindahan olah vokal dan alat-alat instrumen yang menyertainya, tetapi pada kata atau kalimat yang tidak berguna yang menjadi alat “komunikasi” untuk menyesatkan manusia, membangkitkan syahwat untuk berbuat .maksiat dan menebar fitnah serta permusuhan.

Selanjutnya, al-Qur’an memberi isyarat bahwa menikmati nyanyian dan   instrumen pengiringnya yang merdu dapat dikategorikan sebagai at-tayyibat min ar-rizq, sesuatu yang baik dan indah dari yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan zinatallah mengandung isyarat bahwa hiasan dari Allah  sebagai sesuatu yang mengandung nilai yang mencakup semua cabang kesenian (QS. 7:32).

Sekarang, ketika kekhawatiran itu dapat diantisipasi, dan obyek seni rupa dan seni buaru selain menjadi komoditi ekonomi yang bernilai tinggi, juga dapat dijadikan “media estetika” mendekatkan diri pada keindahan, yang pada gilirannya mengarahkan kepada kedekatan dengan Allah. Sebagian besar ulama di abad modern ini memfatwakan  kebolehan  melukis, dan   mematung  makhluk bernyawa serta menfatwakan kebolehan seni suara, seni tari serta instrumen yang menyertainya.

Dalam dataran ini pula diletakkan konteks inspirasi dan apresiasi nilai Islam dalam budaya lokal yang sementara bergelut menghadapi budaya global. Selama tidak terjebak dalam “lahw al-hadith”, selama itu pula budaya lokal dapat diekspresikan pada setiap cabang seni dan budaya.

PENUTUP

Mengingat manusia sepanjang hayat sejarahnya berada dalam budaya pluralis yang membedakan antara satu bangsa (etnis) dan bangsa lain, dan juga membedakan antara satu pemeluk agama (kepercayaan) dengan pemeluk agama lain, dan bahkan antara generasi pewaris dan generasi penerus, maka globalisasi sebagai proses yang dihadapkan pada peristiwa lintas budaya dengan beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama, pertemuan antar budaya yang member peluang terjadinya proses saling mempengaruhi antara satu system budaya dengan system budaya lain.

Kedua, pertemuan antar system budaya tidak saja berlangsung melalui proses dua arah, timbal balik, dan berimbang, tapi seringnya terjadi budaya mayoritas yang dominan menekan budaya minoritas yang tersisih

Ketiga, pada banyak peristiwa, budaya-budaya dari Negara berkembang bersikap terbuka untuk menerima pengaruh dari budaya lain.

Oleh karena itu, sebagai pelaku budaya dan sekaligus objek budaya, ada keharusan untuk senantiasa mendorong proses budaya agar mampu bertahan di dunia global yang mulai merebak penyebaran budaya asing.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafid, M. Rodhi. 2003. Agama dan Plurallitas Budaya Lokal. Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Al Ghazali.1981. Ihya Ulum ad-Din. Kairo: Dar al-Kuttab.

Shihab, M. Quraish. 1995. Islam dan Kesenian. Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan.


[1] M. Rodhi al-Hafid, Agama dan Plurallitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hal. 187-188.

[2] Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Kairo: Dar al-Kuttab, 1981), hal. 1131

[3] M. Quraish Shihab, Islam dan Kesenian, (Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan, 1995), hal 2-3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s