Perubahan Paradigma Pendidikan Islam

A. Pembaruan Paradigma Pendidikan Islam

Terminology paradigma dapat diartikan sebagai berikut cara pandang dan cara berpikir. Paradigma sebagai dasar system pendidikan adalah cara berpikir atau sketsa pandang menyeluruh  yang mendasari rancang bangunan suatu system pendidikan. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan memang sangat terkait dengan perubahan cara berpikir dan cara pandang dalam hidup dan masyarakat, karena pendidikan itu berpengaruh dengan masa kini dan masa yang akan datang.

Pandangan hidup tersebut telah dimanifestasikan dalam sikap hidup dan keterampilan hidup sehingga bisa mendatangkan keberkahan dalam hidup yang merupakan nilai tambah bagi manusia itu sendiri. Adanya perbedaan dalam aspek kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dari system politik dan secara historis cultural yang mengitari mereka.

B. Paradigma Baru Pendidikan Islam “Dualisme Pendidikan”

Munculnya pandangan ini berasal dari formisme yakni, segala sesuatu dilihat dari dua sisi yang berlawanan dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit, dikembangkan oleh kehidupan dunia atau akhirat. Selnjutnya akar munculnya dikotomik system pendidikan di Indonesia adalah bekas warisan Belanda para penjajah dahulu yang membedakan antara sekolah umum dan sekolah agama. Walaupun sebenarnya dari agam islam sendiri tidak membedakan kedua ilmu tersebut.

Arah perubahan paradigma lama menuju paradigm baru terdapat berbagai aspek mendasar, pertama,pardigma lama lebih cenderung sentrallistik, kebijalan bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan parsial, Karena pendidikan didesain untuk pertumbuhan sector ekonomi, politik, keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigm baru berorientasi pada desentralistik, kebijakan bersifat bottom up, orientasi perkembangan bersifat holistic, yakni pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya,kemajuan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, inovatif dan produktif.

C. Strategi Pembaruan Dalam Pendidikan Islam

Dengan adanya persoalan baru diatas harus dituntaskan adalah  dikotomis, yaitu berusaha mengintegrasi-interkoneksi kedua ilmu tersebut baik pada tingkat metode, kurikulum, filosofinya baik pada departemnya . Dari pandangan Fazlur Rahman ada 3 pendekatan pembaruan pendidikan yang harus ada, mengislamkan pendidikan sekuler modern yakni menerima pendidikan sekuler modern, menyederhanakan silabus tradisional yakni mereformasi silabus pendidikan yang sarat dengan materi tambahan yang tidak perlu, dan menggabungkan cabang ilmu pengetahuan lama dan pengetahuan baru.

Dengan melalui usaha semacam ini system pendidikan diharapkan dapat mengintegrasi nilai-nilai pengetahuan, nilai agama dan etik, sehingga mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi srta memiliki kematangan profesionalitas dan hidup dalam nila-nilai agama. Sebab pendidikan harus mampu membangun manusia berkualitas yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan, keterampilan dan ketakwaan sebagai relasi vertical dengan nilai-nilai ilahiyah.

Dengan demikian kerangka acuan pemikiran dalam system pendidikan islam

Harus mampu mengakomodasi berbagai pandangan secara selektif: pertama, pendidikan harus mempunyai prinsip kesetaraan antara sector pendidikan dengan sector lain. Kedua, pendidikan merupakan wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber yang berpengaruh, seperti keluarga, sekolah, media dan dunia usaha. Ketiga, prinsip masyarakat dengan segala institusi social yang ada, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi. Keempat, prinsip kemandirian dan pemerataan secara individual mampu bersaing dan sekaligus bekerja sama. Kellima, dalam kondisi masyarakat yang pluralistic dinutuhkan toleransi dan konsnsus. Keenam, prinsip perencanaan pendidikan, untuk selalu cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya tepat secara normative sesuai cita-cita Indonesia. Ketujuh, prinsip rekontruksionisme, bahwa kondisi masyarakat selalu mengalami perubahan mendasar. Kedelapan, prisip pendidikan berorientasi pada peserta didik dalm memberikan pelayanan. Kesembilan, prinsip pendidikan multicultural yakni harus memahami bahwa masyarakat bersifat plural. Kesepuluh, pendidikan dengan prinsip global yakni pendidikan harus berperan dalam menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global.


Kesimpulan

Berdasrkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa paradigm pendidikan islam yang dimaksud adalah pemikiran yang terus-menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan IPTEK. Pendidikan islam harus berorientasi kepada pembangunan dan pembaruan, pengembangan kreativitas, intelektualitas, keterampilan, kecakapan penalaran yang dilandasi dengan keluhuran moral dan kepribadian, sehingga pendidikan mampu memperthankan relevansinya ditengah-tengah laju pembangunan dan pembaruan paradigm saat ini, sehingga mampu melahirkan manusia yang belajar terus, mandiri, disiplin, terbuka, inovatif, mampu memecahkan masalah kehidupan, serta berdaya guna bagi kehidupan diri sendir maupun masyarakat.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insani Press

Sutrisno, 2006, Pendidikan Islam Yang Menghidupkan(Studi Kritis Terhadp Fazlur Rahman), Yogyakarta: Kota Kembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s