Aplikasi Team Teaching Pada Level Sekolah

PENDAHULUAN

Sejalan kemajuan sistem di dunia pendidikan ini, menuntut para pendidik untuk lebih kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran. Dalam hal ini penekanannya adalah pada pengembangan ilmu pengetahuan anak didik. Berawal dari berubahnya kurikulum yang dulu pembelajaran berpusat pada guru(teacher centered) bergeser menjadi pembelajaran berpusat pada murid(student centerd), yang membuat para pendidik beralih fungsi, jika dulu guru mempunyai peran sebagai sumber belajar bagi anak didik, namun sekarang guru berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran, yang intinya adalah hanya menemani murid belajar. Sehingga ada kebutuhan yang lebih akan pengembangan ilmu pengetahuan. Pembelajaran team teaching solusinya. Dimana akan ada banyak pengembangan ilmu pengetahuan didalamnya.

Pembelajaran team teaching ini tepat sekali diterapkan pada pembelajaran multidisipliner. Dalam konteks ini sudah diterapkan di UIN dengan sistem integrasi-interkoneksi. Pembelajaran team teaching ini bisa diterapkan hanya untuk mata kuliah interdisipliner. Berangkat dari pemikiran diatas penulis ingin menggunakan team teaching ini untuk diaplikasikan di level sekolah menengah sampai sekolah atas. Dimana dilevel tersebut terjadi proses pembelajaran multidisipliner. Sehingga bisa saja disamakan prosesnya. Dari referensi yang penulis baca tipe dari team teaching adalah:

  1. Perencanaan   : yang dibuat oleh semua anggota
  2. Integrasi isi     : pengembangan perspektif disiplin yang beraneka ragam dan bisa saling melengkapi
  3. Pengajaran      : pembagian siapa yang mengajar dan bagaimana materi tersebut diajarkan
  4. Evaluasi          : penentuan jenis tes dan cara mengukur keberhasilan

PEMBAHASAN

Aplikasi

Di banding solusi-solusi lain sebagaimana ditawarkan oleh Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009, sebenarnya team teaching (pengajaran bertim)-lah yang paling relevan diterapkan, karena sekaligus berfungsi meningkatkan mutu pendidikan, sehingga dapat dikatakan sebagai sekali dayung dua pulau terlampui.

Prinsip umum team teaching adalah, ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung di sebuah kelas, di situ ada lebih dari satu guru.

Ada beberapa model team teaching yang dapat diterapkan, antara lain team teaching tradisional, yaitu sebuah model di mana dua orang guru mengajar dalam satu kelas dan mereka berbagi tanggung jawab yang sama dalam mengajar pada siswa-siwanya dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Misalnya, salah satu guru melaksanakan pembelajaran, sedangkan guru yang satunya lagi menulis atau membuat catatan di papan tulis.  Model inilah yang paling mudah dilakukan, dan dalam pelaksanaannya sering dipandang agak sinis oleh pihak dinas pendidikan, sehingga mereka menolak model ini sebagai solusi pemenuhan beban mengajar 24 jam/minggu.

Tentu saja ada model-model yang lebih menantang dan signifikan dapat meningkatkan mutu pendidikan, antara lain:

(1) “Supported Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching di mana salah seorang guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan rekan satu timnya tadi,

(2) “Parallel Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching yang pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing guru dalam kelas tersebut bertanggungjawab untuk mengajar masing-masing kelompok,

(3) “Differentiated Split Class” adalah team teaching yang pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat ketercapaiannya. Salah satu guru melakukan pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat pencapaian kompetensinya kurang (tidak mencapai KKM) sedang guru yang lain melakukan pengayaan kapada mereka yang telah mencapai dan/atau yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya (mencapai atau melebihi KKM),

(4) “Monitoring Teacher”, dilaksanakan dengan cara salah satu guru dipastikan melakukan peran sebagai pengajar yang memberikan pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling kelas memonitor perilaku dan kemajuan siswa. Di dalam satu jam pelajaran team teaching dapat diterapkan lebih dari satu model.

B. Konsep Dasar Team Teaching

Dewasa ini, seiring dengan semakin modernnya sistem pendidikan dan tuntutan yang semakin berkembang, tak jarang sekolah-sekolah yang masih menggunakan strategi pembelajaran konvensional dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran dengan strategi konvensional ini, proses pembelajaran dilakukan secara soliter, artinya proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi pembelajaran siswa dilakukan oleh satu orang guru.

Padahal sebenarnya, sekarang ini kurikulum pendidikan di Indonesia sudah makin berkembang. Telah banyak tuntutan-tuntutan yang ditujukan kepada guru. Saat ini, guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menentukan/ memilih metode pembelajaran yang digunakan, yang tentunya harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Selain itu, guru di era sekarang juga dituntut untuk lebih mengenal setiap individu dari diri siswa. Dan melihat ratio antara jumlah guru dan siswa yang tidak seimbang, tentu seorang guru tidak mungkin bisa menangani jumlah siswa yang banyak itu. Satu hal yang juga penting, bahwa yang namanya guru bukan berarti orang yang tahu akan segala hal.

Dalam hal ini, setiap manusia tentulah memiliki kekurangan pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa guru pun membutuhkan sosok lain yang bisa diajak kerja sama dalam menghadapi segala kesulitan yang ada pada saat melaksanakan proses pembelajaran. Jika melihat beberapa masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam hal ini pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya dalam memilih strategi yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan terhadap guru khususnya itu dapat terpenuhi dengan maksimal. Dan tampaknya strategi Team Teaching merupakan cara tepat.

Team Teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa “Metode pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.

Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.

Sebenarnya ada beberapa jenis dari strategi Team Teaching, sesuai yang dijelaskan oleh Soewalni S (2007), yaitu :

1. Semi Team Teaching :

Tipe 1 = sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Perencanaan materi dan metode disepakati bersama.

Tipe 2a = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru masing-masing.

Tipe 2b = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.

2. Team Teaching Penuh

Tipe 3 = satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas sama, pembelajaran mata pelajaran / materi tertentu. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat.

Adapun variasi Team Teaching Penuh menurut Soewalni S (2007) ialah :

Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual.  Anggota tim secara bergantian menyajikan topik/materi. Diskusi / tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim. Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi, praktek dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor, fasilitator, mediator). Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.

Namun, dari beberapa jenis Team Teaching yang dikemukakan oleh Soewalni S, penulis lebih condong ke jenis Team Teaching penuh, karena disana lebih terlihat nyata strategi Team Teaching-nya. Guru yang mengajar lebih dari satu orang, mereka mengajar di kelas yang sama dengan materi yang sama dan pada waktu yang sama, serta setiap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya pun dilakukan atas kesepakatan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip pembentukan team dalam sebuah pelaksanaan tugas, bahwa segala sesuatunya yang berkaitan dengan misi pencapaian tujuan dilakukan secara bersama-sama, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Tahapan Pembelajaran dengan Strategi Team Teaching

1. Tahap Awal

a. Perencanaan Pembelajaran Disusun secara Bersama

Perencanaan pembelajaran atau yang saat ini lebih populer dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh setiap guru yang tergabung dalam Team Teaching. Agar setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang tercantum dalam isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang harus diraih oleh siswa dari proses pembelajaran, sampai kepada sistem penilaian hasil evaluasi siswa.

b. Metode Pembelajaran Disusun Bersama

Selain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang harus disusun bersama oleh team, metode yang akan digunakan oleh mereka dalam proses pembelajaran Team Teaching pun harus direncanakan bersama-sama oleh anggota Team Teaching. Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap guru Team Teaching mengetahui alur proses pembelajaran dan tidak kehilangan arah pembelajaran.

c. Partner Team Teaching Memahami Materi dan Isi Pembelajaran

Guru sebagai partner dalam Team Teaching bukan hanya harus mengetahui tema dari materi yang akan disampaikan kepada siswa saja, lebih jauh dari itu, mereka juga harus sama-sama mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Hal ini agar keduanya bisa saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing. Terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atas penjelasan guru.

d. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Secara Jelas

Dalam Team Teaching, pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing guru harus dibicarakan secara jelas ketika merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas, mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada lagi yang namanya ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dalam hal ini.

2. Tahap Inti

Satu guru sebagai pemateri dalam dua jam mata pelajaran penuh, dan satu orang sebagai pengawas dan pembantu team.

Dua orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran, dalam hal ini berarti tugas sebagai pemateri dibagi dua dalam dua jam pelajaran yang ada.

3. Tahap Evaluasi

a. Evaluasi Guru

Evaluasi guru selama proses pembelajaran dilakukan oleh partner team setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini setiap guru yang diberi saran harus menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakekatnya itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa bahwa mereka banyak mengalami kekurangan dalam diri mereka, tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini dilakukan di luar ruang kelas, ini dilakukan untuk menjaga image masing-masing guru dihadapan siswa.

b. Evaluasi Siswa

Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya dilakukan secara bersama-sama oleh guru Team Teaching. Atas kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, disini guru Team Teaching harus secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan ataupun tulisan, baik pilihan ganda, uraian, atau kombinasi antara keduanya.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah dalam evaluasi siswa, guru juga diharuskan merencanakan metode evaluasi. Perencanaan metode evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru Team Teaching dalam pelaksanaan evaluasi, serta pembagian pos-pos pengawasan.

UU RI No 14 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 18 Tahun 2007 menyatakan, beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam seminggu. Beberapa sekolah yang memiliki cukup banyak guru mata pelajaran tertentu, sedangkan kelas yang tersedia tidak mampu memenuhi kuota guru tersebut, mengambil langkah alternatif. Di antaranya, team teaching.[1]

Pembelajaran team teaching dilaksanakan oleh dua guru atau lebih. Mereka berkolaborasi dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar dalam kelas yang sama. Umumnya, pembelajaran team teaching dilaksanakan dua guru dan dalam penerapannya mengalami penyesuaian berdasarkan potensi siswa dan potensi lingkungan tiap sekolah.

Tentu, sebelum pelaksanaan, lebih dulu dilakukan sosialisasi tentang konsep pembelajaran team teaching. Sebelum pembelajaran berlangsung, dua guru berdiskusi mengenai materi, model pembelajaran, dan teknik penilaiannya. Intinya, selalu terjalin komunikasi di antara kedua guru tersebut.

Secara umum, ada beberapa versi pelaksanaan pembelajaran team teaching. Pertama, seorang guru menjelaskan, guru lain memantau perilaku dan pemahaman siswa. Dalam pembelajaran matematika, misalnya, seorang guru menjelaskan “cara menentukan suku ke-n dalam deret geometri”. Guru tersebut memberikan contoh soal dan guru yang lain memantau perilaku dan tingkat pemahaman siswa. Kelebihan versi ini, suasana kelas cenderung tenang dan konsentrasi stabil. Namun, siswa cenderung kurang aktif karena merasa diawasi.

Kedua, materi disampaikan salah satu guru, lalu guru lain melengkapi dengan tambahan pengetahuan. Misalnya, dalam pembelajaran matematika, seorang guru menjelaskan logika matematika. Setelah itu, guru yang lain memotivasi siswa belajar logika dengan bercerita tentang Aristoteles, filsuf besar pada abad ke-4 SM yang merupakan tonggak pemikiran logika. Siswa lalu diarahkan menuju pemberdayaan pembelajaran logika.[2]

C. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Semakin berkembangnya kurikulum pengajaran, menuntut guru untuk semakin kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Berbagai tuntutan yang ditujukan kepada guru pun semakin kompleks, diantaranya ialah guru dituntut untuk mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, guru harus kreatif mendesain strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dan nyaman belajar, serta guru pun dituntut untuk mampu melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Berbagai hal yang harus dipenuhi guru tersebut, tentu merupakan hal yang sulit jika semua itu dilakukan seorang diri, untuk itu membutuhkan partner agar semua hal tersebut dapat dilakukan secara maksimal. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi Team Teaching dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Team Teaching merupakan suatu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian tugasnya secara jelas. Dilihat dari jenisnya, strategi Team Teaching ada dua jenis, yaitu semi Team Teaching dan Team Teaching penuh. Dalam strategi Team Teaching, seluruh aktivitas proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi dilakukan secara bersama oleh guru Team Teaching. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip kerja sama.

2. Saran

Bagi pihak sekolah, hendaknya kreatif dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dalam Proses Belajar Mengajar, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan hasil yang dicapai oleh siswa pun relatif baik. Dan bagi sekolah-sekolah yang sudah menggunakan strategi Team Teaching dalam proses pembelajaran, pelaksanaan Team Teaching harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang benar agar tidak terjadi penyimpangan dalam sistem pembelajaran.

*Makalah ini Disusun Oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. dan Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia.

Martiningsih. 2007. Team Teaching. (http://martiningsih.blogspot.com).(Diakses tgl 8 April 2008).

Media Massa. Jawa Pos. 29 Januari 2009.

Soewalni, S. 2007. Team Teaching. Makalah Program Pelatihan Applied Approach 2007 di Lembaga Pengembangan Pendidikan UNAS. (Diakses tgl 8 April 2008).

Yeni Artiningsih, adalah mahasiswa tingkat IV pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan.

http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1233352608&archive=&start_from=&ucat=2&



[1]. .Media Massa. Jawa Pos. 29 Januari 2009.

[2].http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1233352608&archive=&start_from=&ucat=2&.

2 thoughts on “Aplikasi Team Teaching Pada Level Sekolah

  1. mohon diinformasikan artikel-artikel atau buku tentang team teaching.karena saya menemukan kendala di lapangan terutama dengan pihak dinas pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s