Menuju Muara Akhlakul Karimah

Waktu berjalan beitu cepat. Detik-detik segera berlalu, menit-menit pun berkejaran, jarum jam terus berdetak seirama denyut jantung kehidupan yang menyertainya. Matahari terus menjadi penanda hari menuju pekan, sementara rembulan menghantarkan kita kepada putaran tahun. Begitulah, sang waktu terus bergulir tanpa peduli kita mengisinya dengan amal saleh atau maksiat.

Pun demikian dengan negeri kita. Ketika bangsa-bangsa tertimpa krisis telah mulai bangkit seiring waktu, kita justru mengalami metastase krisis. Bahkan setelah 10 tahun sejak 1997, belum ada tanda-tanda krisis bakal terurai—sebagian yang pesimis berserapah kita masih akan terjerembab dalam krisis hingga beberapa generasi. Apa pasal? Padahal, Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bukankah Islam, agama yang dipeluk sebagian besar penduduknya, adalah ajaran penyempurna akhlak paripurna. Adakah itu hanya jargon belaka?

Tepat sekali! Memang bukan ajaran Islam yang salah. Tetapi, kitalah yang perlu lebih serius mempelajari dan mengamalkan Islam sebagai Pedoman Hidup. Tugas pengabdian (ibadah) kepada Allah, hendaknya terimplementasikan dalam segala gerak rasa, karsa dan cipta. Meminjam ungkapan Amien Rais, kita harus segera memperbarui Islam kita. Yang dimaksud dengan memperbarui Islam di sini adalah perspektif kita dalam memahami dan mengamalkan Islam harus dimurnikan dan kembali berkiblat kepada AlQuran dan Sunnah.

Muslim Indonesia mestinya malu sebenar-benar malu. Kita yang Islam, memeluk agama yang mengajarkan akhlakul karimah, justru menjadi super koruptor, super manipulator, bermuka badak, bahkan terlalu mudah didikte oleh kepentingan asing. Padahal Islam, mengajarkan shalat. Yang dengan shalat itu, ia akan menjadi penolong bagi yang sedang kesulitan. Yang dengan shalat itu, kemunkaran dan kekejian perilaku manusia bisa dicegah.

Dari berbagai tausiyah yang kami dapati banyak sekali manfaat tentang shalat. Setidaknya ada lima nilai akhlak yang seharusnya dapat dipancarkan dari energi shalat yang didirikan. Kelima nilai itu adalah, jujur, tawadhu’, disiplin, ikhlas, dan sabar.

Pertama, Jujur. Seseorang yang melakukan sholat, sejatinya sedang setor muka kepada Khaliknya. Ia menghadapkan dirinya kepada Allah swt, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar. Karenanya, ia tak akan mengkorup rakaat shalat, mengurangi bacaan shalatnya, bahkan ketika ia melakukan shalat sendirian di mihrabnya. Ia akan bertanggung jawab pada amanah yakni menunaikan rukun shalat secara tertib.Karenanya, sangat aneh apabila sebuah negeri bernama Indonesia, penduduknya yang mayoritas Muslim dan sebagian taat Shalat, kok,rangking korupnya teratas sedunia.

Kedua,  Tawadhu’. Yang dimaksud dengan sikap tawadhu’ adalah kita menyadari kedudukan kita dihadapan Allah. Kesadaran itu dalam bahasa Ibnul Qayyim Al Jauziyah “Allah Maha Kaya, dan Hamba fakir.” Karena itu, ketika shalat kita manut saja meski harus sujud, meletakkan kepala lebih rendah dari farji dan dubur. Tidak ada yang protes kenapa otak (baca: akal) yang menjadi pemulia manusia dari makhluk yang lain, tiba-tiba harus ditempatkan lebih rendah dari perut, farji, dan dubur—simbol hawa nafsu dan kekotoran. Kita sadar siapa yang Tuan dan Siapa yang Hamba. Karenanya, kita tidak pernah mbalelo ketika sholat. Saatnya sujud ya sujud, ruku ikut ruku, dan tahiyat nurut tahiyat. Semuanya adalah ekspresi ketundukan pada syariat! Sayang, lebih banyak shalat kita tidak berbekas. Akibatnya, selepas shalat, kita kembali buas, jadi mesin uang, kemaruk harta dan kuasa, dan mudah terbuai syahwat. Buktinya, meski telah banyak orang mendirikan shalat, tetapi merajalela pula unjuk harta dan unjuk kuasa. Mentang-mentang kuasa lalu minta segala difasilitasi, sementara rakyat dan dhuafa sebenarnya terlalu banyak yang lebih butuh dibantu. Kesadaran bahwa kita hanya tukang parkir—meminjam istilah Aa Gym—menguap seiring tolehan salam ketika menutup shalat.

Ketiga, Disiplin. Shalat adalah Ibadah yang telah ditentukan waktunya. Surat al-Isra (17) ayat 78 menerangkan “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Begitulah seorang Muslim dididik langsung oleh Allah swt untuk setor muka pada waktu-waktu yang telah dijadwalkannya. Dan pesan Nabi saw, sebaik-baik shalat adalah shalat di awal waktu. Implikasi yang seharusnya muncul pada setiap shalaters adalah pribadi yang komitmen dalam menepati waktu alias disiplin. Bukan hendak mengorek luka, tetapi harus diakui bahwa mentalitas kebudayaan sangat rendah sekali dalam berdisiplin. Bukan hal aneh, kalau rapat-rapat RT/RW dan Desa/Kelurahan yang melibatkan warga dijadwalkan jam 9 dimulai pukul 10. Demikian juga dengan jadwal pengajian jam 8 baru bisa dimulai 8.30 atau jam 9. Semuanya hampir disebabkan jumlah peserta yang hadir dianggap belum memenuhi kuorum. Kebiasaan ini membuat orang-orang yang menjadi terhukum. Betapa tidak, seharusnya yang ketinggalan yang harus mengejar. Tetapi di kita, justru yang datang tepat waktu berarti menyia-nyiakan waktunya untuk menunggu! Ketidakdisiplinan ini membuat semua harus berjalan lambat, tersendat dan tentu saja tidak efisien. Tegasnya, Shalat kita belum bisa menjadi cermin diri, selama kita belum berhasil menginternalisasi disiplin sebagai salah satu karakter pribadi kita.

Keempat, Ikhlas. Ingatkah setiap kali kita shalat, bibir kita sudah terlalu fasih  berikrar “inna shalati, wa nusuki wa mahya ya, wa mamati lillahi rabbil a’lamien—sesungguhnya shalatku, ibadahku,hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Penguasa semesta alam.” Benarkah? Jujur, kenyataannya belum seperti yang kita ucapkan sehari lima kali tersebut. Di luar shalat masih lazim terjadi, dan mungkin salah satunya adalah kita, naudzubillah. Yang ada bukan penghambaan tulus demi menggapai ridhoNya, justru gegabah kita yang merasa aman dari azabNya. Kadang secara tidak disadari, kita berharap secara tidak proporsional kepada makhluk. Banyak hal haram dihalalkan karena sekadar ingin masuk jajaran pejabat, promosi dan melanggengkan jabatan, menipu untuk sebuah keuntungan bisnis, dan sejenisnya.

Kelima, Sabar. Setiap rukun shalat harus dilakukan secara tertib. Setiap rakaat shalat harus digenapkan sesuai kaidah waktunya. Zuhur tetap harus empat rakaat, tidak boleh hanya 2 rakaat meskipun panas begitu terik menyengat—kecuali memang sedang dalam kondisi yang mendapat keringanan (rukhsah). Begitupun dengan usaha mencari penyelesaian krisis. Meskipun tekanan begitu menghimpit, tetapi kita harus tetap teguh memperjuangkan perbaikan. Bukankah Alquran diturunkan dalam kurun hampir 24 tahun. Demikian pula upaya reformasi harus terus diperjuangkan sampai birokrasi menjadi lebih sederhana, pelayanan publik lebih optimal, dan  terus pada jalan yang lurus. Sabar juga diperlukan dalam menyampaikan kebenaran. Betapa tidak?! Komitmen kita untuk berpegang pada satu prinsip kebenaran Islam, selama hal itu belum tercapai ya kita terus berjuang. Lihatlah Nabi saw selama 13 tahun pertama di mekah, dilempar kotoran setiap hari oleh Keluarga Abu Jahal serta banyak derita lain yang menjadi ujian bagi beliau. Kesabaranlah dan keteguhan tekadlah yang membuat risalah yang dibawa Rasulullah itu kita peluk sekarang.

Pertanyaannya adalah apa yang salah dengan shalat kita, sehingga karakter shalaters belum menjadi bagian dari karakter pribadi? Sepakat! Barangkali memang ada yang salah dengan shalat kita. Marilah kita merenung sejenak sebelum menjawab pertanyaan berikut. Kenapa shalat yang minimal 17 rakaat sehari semalam kita laksanakan tidak berdampak signifikan dalam kehidupan kita? Kenapa begitu banyak orang shalat, tetapi akhlaknya tetap saja tercela. Istilahnya STMJ. Shalat terus maksiat jalan, naudzubillah.Semoga kita senantiasa menjadi hamba muttaqin,hamba yang mampu menjadikan sholat sebagai bentuk penghambaan kita kepada sang kholiq,serta senantiasa menjadikan akhlaqul karimah sebagai cermin diri dan sebagai karakter seorang muslim.

Wawan P Harmono,S.Sos.

Manager  di BMT Nur Ikhlas Babarsari

One thought on “Menuju Muara Akhlakul Karimah

  1. askum….
    Q salah stu mahsisi\wa di blora, meminta bantuan untuk menemukan ulama nusantara yang melakukan penelitan hadits,sebelumnya maaf telah lancang meminta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s