Pemikiran Syekh Siti Jenar

A. RIWAYAT HIDUP SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar adalah seorang tokoh Jawa yang populer dan kontroversial hingga saat ini. Nama Syekh Siti Jenar yang lain adalah adalah Syekh Lemah Abang, Siti Abrit, dan Siti Rekta. Nama “Syekh Siti Jenar” mengandung muatan falsafah yang tinggi. Dalam bahasa Jawa, “siti” adalah tanah, “jenar” adalah merah. Manusia diciptakan dari tanah, tak lebih dari sekedar tanah merah. Sisanya adalah roh Allah. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Syekh Siti Jenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

Syekh Siti Jenar sebenarnya anak seorang raja-pendeta di daerah Cirebon. Dia sangat kritis terhadap tatanan yang ada. Sehingga kadang-kadang ayahnya Sang Raja-pendeta ini tersinggung dengan perilakunya. Siti Jenar yang nama aslinya Ali Hasan, menempuh pendidikan agamanya di Timur Tengah, di Bagdad khususnya. Tampaknya ia belajar agama dari orang-orang Syi’ah. Dalam ilmu sufi dia mempelajari kitab “Ihya Ulumuddin”nya Al-Ghazali, dan golongan Mu’tazilah. Kitab yang dikajinya adalah kitab Kailani. Dan tampaknya, Siti Jenar bukan hanya belajar teori, tetapi juga tahu dan mampu bagaimana mempratikkan ilmunya.

Dalam berbagai kepustakaan, ada yang menyebutkan bahwa nama aslinya adalah Kasan Ngali Ansar (Hasan Ali Ansar). Tempat tinggalnya di Krendhasawa, berasal dari rakyat jelata. Hanya saja jika ia berasal dari rakyat jelata, kecil kemungkinannya untuk berposisi menjadi wali. Menilik namanya (pada zaman itu), dia adalah orang asing dari Timur Tengah yang mengajar agama Islam di Jawa. Tetapi, jika kita memperhatikan ajarannya, dia berbeda dengan sufi Mansyur Al-Hallaj. Pandangan Siti Jenar adalah pandangan Jawa. Boleh jadi dia orang Jawa. Sisa-sisa bukti sejarah mengungkapkan bahwa Islam yang pertama kali mempengaruhi Jawa dan Sumatra itu berasal dari Syi’ah. Nah, raja (ayah Siti Jenar) rupanya memeluk Islam Syi’ah. Nama Hasan sendiri adalah nama untuk mengagungkan imam Syi’ah.
Setelah berguru dari Baghdad, dia mendapat julukan Siti Jenar (tanah kuning, daerah dari mana dia berasal). Dari segi sejarah, Jenar adalah suatu tempat di daerah Sragen, Jawa Tengah. Dari kepandaiannya dalam ilmu agama, dia diberi gelar syekh oleh para Wali. Kelak namanya sebagai Syekh Siti Jenar, Syekh Lemahbang atau Syekh Siti Brit (abang, abrit; Jawa berarti merah).

B. AJARAN TASAWUF SYEKH SITI JENAR
Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontroversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walaupun dengan pandangan berbeda-beda.

Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Siti Jenar dianggap telah merusak ketentraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia.

1. Bentuk dan Karakteristik Ajaran Tasawuf Syekh Siti Jenar
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian.

Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti sholat, zakat dan lain-lain); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu itu baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh.

Keselarasan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam menjadi ajaran pokok Syekh Siti Jenar. Hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat teologis tercermin dalam ungkapan manunggaling kawulo gusti dan curiga manjing warangka. Hubungan manusia dengan alam yang bersifat antropoekologis tercermin dalam ungkapan, mengasah mingising budi, memasuh malaning bumi, dan memayu hayuning bawana, yang bermuara pada pembentukan jalwa sulaksana, insane kamil, sarira bathara, manusia paripurna yang imbang lahir batin, jiwa-raga, intelektual-spiritual, dan kepala-dada.

Ungkapan mati sajroning urip, menurut Syekh Siti Jenar, mengajak manusia agar senantiasa eling lan waspada, bersahaja, mengendalikan diri, mengurangi kenikmatan badaniah duniawi, bersedia lara lapa tapa brata dan bersyukur meski dalam keadaan sempit. Perjuangan hidup di alam padang yang fana ini, menurut Serat Bima Suci, berkaitan dengan usaha untuk memahami sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan kehidupan, yaitu husnul khatimah atau akhir perjalanan hidup yang membahagiakan.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Sebagaimana aliran tarekat lain, tarekat Syekh Siti Jenar juga mengenal fana, istilah untuk pengalaman manusia ketika mencapai puncak hubungan dengan Tuhan. Proses ini sulit digambarkan, karena merupakan pengalaman batin yang tak terbayangkan oleh manusia.

2.Perbedaan Tasawuf Syekh Siti Jenar dengan Wali Songo
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Pandangan Syekh Siti Jenar bahwa ia tidak wajib shalat dan segala rukun dalam Islam dan aturan formal yang disusun dalam ilmu syariah, bukan hanya didasari oleh konsepnya tentang kesatuan manusia-Tuhan. Melainkan juga didasari oleh pandangannya tentang makna hidup dan mati. Syekh Siti Jenar memandang bahwa aturan syariah hanya berlaku bagi manusia yang hidup dan bukan bagi mereka yang telah mati. Pandangan ini sekilas mirip dengan pandangan kebanyakan ulama lainnya, namun sesungguhnya berbeda.

Letak perbedaannya ada pada konsep tentang siapa manusia yang disebut hidup dan siapa manusia yang dipandang mati dan dimana letak kehidupan dan kematian. Bagi Syekh Siti Jenar, alam dunia ini adalah tempat kematian manusia, sehingga hukum syariah tidak berlaku di sini. Hukum syariah baru berlaku nanti di sana sesudah manusia menemui ajalnya.

Karena itu, Syekh Siti Jenar memandang bahwa neraka dan surga sudah ada di dunia sekarang. Ia berupa pertentangan berpasangan yaitu susah-senang, bahagia-menderita, rugi-untung, dan pertentangan berpasangan lainnya yang merupakan kenampakan surga di dunia.
Bagi Syekh Siti Jenar, hakikat manusia itu ialah jiwanya yang terperangkap dalam raga, sehingga manusia terus menerus menghadapi kesengsaraan. Manusia baru akan memperoleh kebebasan dari segala penderitaan sesudah menemui ajal dimana kehidupan hakiki baru dimulai.

Syekh Siti Jenar memandang bahwa tempat dan posisi Tuhan ada di dalam diri manusia. Pandangan seperti ini juga bisa ditemukan dalam pandangan dan praktik sufi terkenal Al-Hallaj yang melahirkan konsep tentang wahdatul wujud. Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut.
Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’ kepada Allah (kecintaan yang sangat kepada Allah).

3.Pengaruh Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.

Dalam ajarannya ‘Manunggaling Kawula Gusti’ dijelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia “Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (Shaad; 71-72). Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Secara konsisten, semua ajaran diajarkan Syekh Siti Jenar kepada para murid, serta siapa saja yang berguru kepadanya. Dalam tingkat tertinggi, pengikutnya sampai merasa bahwa tidak ada dirinya sendiri, yang ada hanya Allah. Yang aneh adalah tidak ada rujukan mengenai penyebaran dan pengembangan ajaran ini. Bimbingan hanya disampaikan dari guru ke murid secara turun-temurun.

Konsep manunggaling kawulo gusti atau kesatuan manusia dengan Tuhan (wahdatul wujud) yang digunakan dalam kepustakaan Islam Kejawen, adalah curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Yakni, manusia masuk ke dalam diri Tuhan, laksana Arya Sena masuk dalam tubuh Dewaruci atau sebaliknya, warangka manjing curiga. Yakni Tuhan masuk ke dalam diri manusia, seperti halnya dewa Wisnu nitis ke dalam diri Kresna. Paham nitis tersebut, yakni masuknya roh dewa ke dalam diri manusia, atau roh manusia ke dalam diri binatang, tertera dalam serat wirid hidayat jati. Konon, toh manusia yang sesat tidak bisa kembali ke dalam singgasana Tuhan, melainkan akan nitis ke dalam alam brakasakan (jin), bangsa burung, binatang dan air.

Menurut Syekh Siti Jenar, bagi mereka yang telah menemukan kesatuan dengan hakikat hidup atau Zat Tuhan, segala bentuk peribadahan adalah kepalsuan. Karena Tuhan bebas dari hokum kealaman, maka manusia yang telah menyatu dengan Zat Tuhan akan mencapai keabadian yang tidak mengalami kerusakan. Konsep manunggaling kawulo gusti oleh Syekh Siti Jenar disebut dengan winong aning unong.

Seterusnya konsep manunggaling kawulo gusti diterangkan:
Mungguh pamoring kawulo lan gusti iku, kaya dene paesan karo sing ngilo. Wayangan kang ana sajroning pangilo, iya iku jenenge kawulo.
Terjemahan:
Menyatunya manusia dengan Tuhan itu ibarat cermin dengan orang yang bercermin. Bayangan dalam cermin itu adalah manusia.
Oleh karena itu, uraian dalam kepustakaan Islam Kejawen, yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, umumnya mengandung rumusan yang tumpah tindih. Tuhan dilukiskan memiliki sifat-sifat yang sama dengan manusia dan manusia digambarkan sama dengan Tuhan.

Pemahaman akan kemanunggalan dalam logika sintesis, tentu sangat penting dalam praktik keberagamaan seseorang. Hanya dengan pemahaman seperti itulah konsep ketuhanan bias diimplementasikan menjadi dasar ilmu pengetahuan yang merupakan alat memahami alam semesta. Tanpa logika itu, bisa jadi pemahaman akan Tuhan terjebak hanya pada penggambaran Tuhan dengan segala sifat dan af’al-Nya.

Implementasi konsep ketuhanan Manunggaling Kawulo Gusti adalah menjadikan spiritualitas sebagai kekuatan yang mampu membongkar stagnasi kebudayaan materalis. Dan hal itu, tidak akan bisa kita lakukan tanpa melakukan sintesa kebudayaan. Konsep manunggaling kawulo gusti di atas memahami bahwa kebudayaan Islam harus bersintesa dengan kebudayaan lokal manapun sehingga keduanya bisa melebur dalam shibghatullah (celupan Allah yang memanunggalkan).

Secara pribadi, konsep ketuhanan Manunggaling Kawulo Gusti yang membangun logika sintesis mendorong tiap-tiap pribadi umtuk selalu dinamis berkarya. Sebagaimana doa, kita diharapkan untuk banyak-banyak minta doa kepada orang lain karena kita tidak tahu dari mulut mana doa itu akan dikabulkan. Dengan demikian, kita tidak bisa hanya memasrahkan kebahagiaan hidup hanya pada sata karya kebaikan saja. Implementasi konsep di atas adalah: perbanyaklah karya kebaikan karena kita tidak tahu dari karya mana kebahagiaan dunia akherat akan kita dapatkan.

*ditulis oleh Ali Murtadlo (dalam salah satu tugas kuliah)

daftar pustaka:
Djaya, Ashad Kusuma. 2007. Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar”membuka pintu makrifat”. Kreasi Wacana: Yogyakarta.
Chodjim, Achmad. 2006. Syekh Siti Jenar “makna kematian”. Serambi Ilmu Semesta: Jakarta.
Muryanto, Sri. 2004. Ajaran Manunggaling Kawulo-Gusti. Kreasi Wacana: Yogyakarta.
Mulkhan, Abdul Munir. 2007. Ajaran dan Jalan Kematian SYEKH SITI JENAR. Kreasi Wacana: Yogyakarta.
Purwadi. 2004. Ilmu Makrifat Sunan Bonang. Sadasiva: Yogyakarta.
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. (www.wikimedia.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s