Adab (Etika) Bangun Tidur

Rasulullah SAW bersabda : “ Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika kalian tidur. Ia pukulkan pada tiap  tempat ikatan itu ucapan “Malam masih panjang, tidur sajalah!”. Jika kalian bangun lalu berdzikir kepada Alloh, maka lepaslah satu ikatan. Jika kalian lanjutkan berwudhu’, maka terurailah ikatan yang kedua. Dan jika kalian sholat, maka lepaslah ikatan yang ketiga. Karenanya, pagi hari kalianpun bersemangat dan menjadi baik kondisi kejiwaan kalian. Sebaliknya jika tidak, kalianpun menjadi malas dan buruk kondisi jiwa kalian.” (HR. Bukhori Muslim)

Adapun adab (etika) setelah bangun tidur adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan doa kesyukuran kepada Allah s.w.t. kerana Allah masih memanjangkan umurnya untuk hidup. Mengucapkan ‘La Ilaha illa Allah’, lalu Alhamdulillah’ 3 kali, dan Alhamdulillahi alladzi ahyana ba`da ma amatana wa ilayhi an-nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita setelah kematian kita, dan kepada-Nyalah kita akan kembali). [Bukhari, Abu Dawud, dan lainnya]
  2. Jika bermimpi yang menggembirakan, maka diperbolehkan menceritakan kepada orang lain dan bila bermimpi yang tidak ia sukai, maka janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah dari tempat tidur lalu shalatlah (untuk memohon perlindungan kepada Allah) atau berinfak dengan niatan sebagai penolak bala`

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ فَبُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَحَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا تُعْجِبُهُ فَلْيَقُصَّهَا إِنْ شَاءَ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلاَ يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi r, beliau bersabda, “Ru’yah (mimpi) itu ada tiga jenis, kabar gembira (mimpi) dari Allah, kata hati (mimpi dari dalam diri orang yang bersangkutan) dan gangguan (mimpi) dari setan. Jika salah seorang kamu bermimpi yang menggembirakan, maka ia boleh menceritakan dan bila bermimpi sesuatu yang ia tidak sukai, maka janganlah ia menceritakan mimpi itu kepada orang lain, bangunlah dari tempat tidur lalu shalatlah (untuk memohon perlindungan kepada Allah)” (H.R. Muslim.

2. Menggosok muka dan mata dengan kedua tangan, untuk menghilangkan pengaruh dari tidur

3. Menggosok gigi, idealnya dengan siwak, sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud. kemudian berwudhu,

4. Merapikan tempat tidur

Waktu-waktu Tidur.

ýRasulullah saw bersabda, Lakukanlah tidur di siang hari, karena setan tidak melakukannya.

ý   Tidak disukai untuk tidur di pagi hari, dan di waktu Ashar dan Magrib dan antara Maghrib dan ‘Isya, karena biasanya dapat mengakibatkan terlewatnya shalat Magrib dan ‘Isya berjamaah.

ý  Sayyidina ‘Ali lebih menyukai untuk tidak tidur setelah ‘Isya sebelum tengah malam.

Tips Bangun Malam

  1. Kesampingkan sugesti bahwa bangun malam itu “sulit”
  2. Berniat kuat untuk bangun malam
  3. Perbanyak dzikir (terutama istighfar) sebelum tidur. Boleh jadi banyaknya dosa dan kealpaan diri menjadi factor sulitnya bangun malam
  4. Kenali kebiasaan lamanya kita istirahat tidur dalam setiap harinya. Sehingga kita bisa memperkirakan kapan kita harus beranjak tidur agar dapat bangun dini hari
  5. Sempatkan untuk sedikit tidur siang
  6. Tidak tidur dalam keadaan kenyang
  7. Aktifkan alarm

Tips  Mudah tidur:

  • Mandi air hangat pada malam hari
  • Minum susu, sari buah, atau teh hijau
  • Hindari tidur dalam suasana lapar atau kekenyangan
  • Matikan/redupkan lampu dan jauhkan diri dari peralatan pemancar elektromagnetik yang masih menyala (TV, laptop, dsb)
  • Lakukan aktifitas ringan yang dapat memancing kantuk seperti : membaca
  • Jadikan ruangan tidur hanya untuk istirahat, bukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Adab (Etika) Sebelum Tidur

Tidur bagi seorang muslim adalah ibadah jika memenuhi adab-adabnya. Tidur ideal yang memenuhi  standar kesehatan adalah 7 jam dalam sehari. Buat Jadwal waktu dan lama tidur. Disiplinkan diri dengan jadwal tersebut.

Hindari mengakhiri hari terlalu larut malam agar produksi melatonin (hormon yang diproduksi  dalam kondisi gelap yang berperan penting dalam menguatkan sistem pertahanan tubuh dan merupakan antioksidan yang sangat kuat) tetap terjaga yang berefek positif untuk tubuh kita.

Persiapan  Sebelum Tidur

  • Membersihkan diri dari dari najis dan kotoran (bersikat gigi, cuci tangan, cuci kaki dsb) dan sempurnakan dengan berwudhu’, dengan harapan, seandainya nyawa kita dicabut pada saat tidur, maka kita mati dalam keadaan bersih. Kegiatan menggosok gigi sebelum tidur sangatlah penting. Aktivitas otot kunyah (yang menggerakkan air ludah sehingga kuman-kuman lenyap) berhenti saat kita tidur. Jika otot kunyah tidak bekerja maka seyogyanya gigi dalam keadaan bersih, jika tidak, maka kuman berkumpul dan bereaksi terhadap gigi yang tidak bersih.
  • Membersihkan tempat tidur. Buat ruangan tidur senyaman mungkin untuk tidur (terhindar dari barang yang terserak, kebisingan, pencahayaan yang terang dan gelombang elektromagnetik yang masih aktif.) Rasulullah SAW bersabda : “Jangan kamu tinggalkan api di rumahmu ketika kamu tidur” (HR. Bukhori Muslim). Berdasarkan hadis tersebut, Nabi SAW  mengajarkan kita untuk hemat listrik, selain itu, efek tiadanya penerangan dikala tidur sangat bagus bagi kesehatan tubuh.
  • Sempatkan untuk menjadwal tugas-tugas yang akan dikerjakan pada keesokan harinya. Kegiatan ini dimaksudkan agar tidur malam nyenyak dan ketika bangun lebih semangat untuk beraktifitas
  • Lakukan introspersi/ perenungan diri atas segala aktifitas yang telah terlewati hari itu, agar aktifitas yang buruk tidak terulang kembali di kemudian hari.
  • Berniat bangun malam (untuk melaksanakan tahajud) dan memasrahkan diri sepenuhnya pada Alloh SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mau tidur dan berniat akan bangun melakukan sholat malam, lalu ia tertidur sampai pagi, maka akan dituliskan apa yang diniatkan itu sebagai sedekah untuk Tuhan” (HR Ibnu Majah dan Nasa’i)

  • Badan berbaring ke arah kanan. Rasulullah SAW bersabda : “jika engkau akan tidur, maka berwudhulah kemudian berbaring atas pinggang kanan..” (HR. Bukhori Muslim). Posisi yang demikian tidak menekan jantung, aliran darrah di dalam tubuh dapat berjalan dengan lebih lancar, sehingga sistem metabolisme tubuh meningkat dan terhindar dari rasa pegal.
  • Gunakan tangan kanan sebagai bantal di bawah pipi dan merenungkan dirinya seolah-olah ditempatkan dalam kubur, berbaring di sisinya, tanpa sesuatupun kecuali ditemani oleh  amal perbuatannya. Renungkan pula bahwa tidur adalah icip-icip kematian
  • Badan mengadap ke kiblat seperti kedudukan mayat dalam kubur.

 

Bacaan-bacaan Sebelum Tidur

Membaca surah-surah tertentu sewaktu hendak tidur. Rasulullah s.a.w. sebelum tidur membaca surah al-ikhlas, al-Falaq dan al-Nas dihembuskan bacaan itu di kedua belah tangannya dan digosok ke seluruh badannya (semampu tangan beliau menjangkaunya. Bacaan dan perbuatan ini beliau ulang sebanyak tiga kali berturut-turut.

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :

1.    Sebelum khatam Al Qur’an,

2.    Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,

3.    Sebelum para muslim meridloi kamu,

4.    Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh….

“Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasul tersenyum dan bersabda :

  1. Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.
  2. Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akanmemberi syafaat di hari kiamat.
  3. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
  4. Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”

Adab/Etika Ketika Bertamu

Diantara beberapa adab/etika bertamu ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:

  • Sebelum masuk rumah, ucapkan salam sambil mengatuk pintu
  • Ketuk pintu maksimal 3 kali. jika tidak ada sahutan, sebaiknya meninggalkan tempat tersebut atau bertanya keberadaan shohibul bait kepada tetangga sebelah.
  • Janganlah masuk rumah sebelum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah.karena mungkin tuan rumah belum siap dengan kedatangan kita  (belum berjilbab,dll)
  • Pulanglah jika tuan rumah tidak suka dengan kedatangan kita
  • Masuklah dengan kaki kanan sambil sambil menjabat tangan shohibbul bait jika muhrim atau sesama gender
  • Masuklah ke tempat yang dipersilahkan oleh tuan rumah, apabila ingin masuk ke ruangan yang lain (WC, Mushola dll), maka meminta izin terlebih dahulu dan jangan memaksa jika tidak diizinkan
  • Jangan duduk terlebih dahulu sebelum di persilahkan
  • Sebelum menyampaikan maksud kedatangan, bangun rapport (hubungan baik) dengan pemilik rumah. Misal: menanyakan kabar dll. terutama jika lama tidak bertemu
  • Sampaikan maksud kedatangan kita dengan kata yang sopan yang tidak menyakiti tuan rumah
  • Duduk dengan sopan, kaki tidak diangkat diatas kursi atau meja
  • Tidak bertindak semena-mena kepada pemilik rumah atau PRT (pembantu rumah tangga) rumah tersebut. Misal: minta dipijit, dibuatin kopi dsb
  • Memberi hadiah atau oleh-oleh itu lebih baik. Terutama jika kita jarang berkunjung ke rumah tersebut.
  • Pekalah terhadap perasaan tuan rumah. Misalnya: tuan rumah sedang lelah, ngantuk dll
  • Pelankan suara jika kita bertamu sampai larut malam sehingga tidak mengganggu istirahat anggota keluarga yang lain atau tetangga
  • Sebelum pulang, hendaklah pamit terlebih dahulu pada pemilik rumah dan mengucapkan salam

Jika hidangan datang………….

  • Jangan menikmati hidangan sebelum tuan rumah mempersilahkan untuk menikmatinya
  • Jika sudah dipersilahkan makan, maka ambil secukupnya sekiranya kita bisa menghabiskannya. Karena Alloh tidak menyukai sesuatu yang mubadzir
  • Janganlah lupa berdoa terlebih dahulu. Makanlah dengan sopan & pelan-pelan, jangan perlihatkan bahwa kita sedang kelaparan. Karena terkadang terkesan seperti rakus.
  • Jika yang disajikan makanan atau minuman yang ditakar (gelas atau mangkuk) usahakan di habiskan kecuali jika kita benar-benar sudah tidak mampu menghabiskannya.
  • Jika hidangan yang disajikan adalah makanan pantangan, sampaikanlah kepada pemilik rumah. Itu lebih baik daripada tidak mencicipinya sama sekali tanpa alasan.
  • Jika yang disajikan tidak enak, jangan perlihatkan reaksi tidak enak tersebut. Karena ini akan  lebih menjaga perasaan tuan rumah
  • Pujilah dan berterima kasihlah dengan hidangan dari shohibul bait walaupun hanya sebutir permen
  • Jagalah kebersihan. Jangan biarkan sampah makanan kita bertebaran di sekitar ruangan

Waktu bertamu yang baik…….

  • Bertamu pada waktu santai.pagi: diatas jam 8, malam:setelah maghrib sampai jam 9 malam. Terutama jika bertamu ke kost2an putri
  • Boleh bertamu pada jam sibuk / istirahat apabila sangat penting dan tentunya atas kesepakatan tuan rumah

 

disusun oleh:

Lhatifah Nur Khayati (Anggota divisi Seni, Kreativitas dan Olahraga, Risma Al-Qomar)

Adab/Etika Membaca Al-Qur’an (Mengaji)

Menurut Imam Ghazali dan Jaluddin As Suyuti:

  1. Membersihkan mulut dan gigi terlebih dahulu (kumur dan bersikat gigi/bersiwak)
  2. Berwudhu, mengingat yang akan dibaca adalah Kalam Ilahi
  3. Berpakaian rapi dan menutup aurat
  4. Membaca di tempat yang bersih dan Masjid adalah tempat yang utama
  5. Menghadap kiblat
  6. Mengambil Al-Qur`an dengan tangan kanan
  7. Berniat ibadah karena Alloh SWT serta berniat mengamalkan dan menyebarkan pesan al-Qur`an dengan semampunya
  8. Membaca taawudz dan Basmalah
  9. Membaca dengan pelan (tartil) dan tidak tergesa-gesa (dengan tajwid yang benar)
  10. Membaguskan suara ketika membacanya. Boleh membaca dengan dikeraskan, tetapi lebih baik dipelankan (terdengar oleh sendiri)
  11. Membaca Al-Qur’an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalamnya.
  12. Tidak membaca al-Qur`an sambil mengunyah makanan atau  makan
  13. Tidak memotong bacaan dengan kegiatan lain
  14. Setelah selesai membaca al-Qur’an membaca “shadaqallaahul ’azhiim”
  15. Membaca doa senandung al-Qur`an
  16. Al-Quran ditaruh di tempat yang tinggi dengan niatan memuliakan Kitab suci.

Sumber:

Kitab Minhajul Muslim

At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Qur’an

Etika Memakai Handphone (HP)

Disilent ketika:

  • Beribadah (sholat, ngaji, mendengarkan khutbah/pengajian)
  • Berada di tempat ibadah
  • Dalam aktifitas belajar dan mengajar
  • Rapat
  • Menghadiri acara-acara khidmat (pernikahan, ta`ziah, silaturrahim)

Adab mengangkat telpon

  • Tengok kanan kiri dan meminta izin orang didekat kita untuk mengangkat telpon
  • Beranjak menjauh dari orang-orang yang ada didekat kita (1. Agar orang tidak terganggu dengan percakapan kita di telpon. 2. Agar pembicaraan kita tidak di dengar oleh orang lain, sehingga kita nyaman berkomunikasi)
  • Jika tidak memungkinkan untuk berpindah tempat, maka berbicaralah dengan menelungkupkan telapak tangan di depan mulut)
  • Pastikan dengan siapa kita berbicara. Hendaknya tidak melayani panggilan dari private number
  • Baca Basmalah sebelum mengangkat telpon agar komunikasi membawa berkah

 

Adab berbicara di telpon

  • Dahului pembicaraan dengan salam sebagai doa kesejahteraan
  • Gunakan bahasa yang santun.
  • Bicara seperlunya sekalipun banyak pulsa karena sabda Nabi “ tidak ada kebaikan dalam pemborosan dan tidak ada pemborosan dalam kebaikan”. Faktanya, seringkali pemborosan pembicaraan + pemborosan pulsa tidak kita sadari.
  • Hindari berbicara panjang lebar/ bertele-tele/ iseng  dengan orang asing
  • Tidak memutus/ mengakhiri pembicaraan terlebih dahulu jika posisi kita sebagai pihak penerima telpon, kecuali jika ada kepentingan yang lebih utama. Jika hal ini terjadi (kita terpaksa harus mengakhiri pembicaraan), jangan lupa untuk memohon pengertian dan meminta maaf kepada si penelepon.

 

Adab SMS

  • Tunda untuk membalas sms pada saat aktivitas penting berlangsung (sedang rapat, pengajian, belajar/mengajar dalam kelas). Jika tidak memungkinkan (harus secepatnya dibalas) maka lebih baik izin beberapa saat untuk meninggalkan tempat.
  • Baca basmalah sebelum SMS maupun membalas SMS
  • Dahului sms dengan doa kesejahteraan (salam)
  • Jangan lupa untuk meminta maaf, jika terlambat/ tertunda dalam membalas SMS
  • Pahami, dengan siapa kita ber-SMS, kemudian sesuaikan dalam penggunaan bahasa dan susunan hurufnya. Jangan sampai guru/ortu kita menerima SMS yang menggunakan bahasa gaul, penuh singkatan dan huruf tak beraturan, yang semuanya itu menyulitkan beliau dalam membaca dan memahami isi SMS.

 

Hindarkan HP kita dari sampah (menyimpan situs porno, gambar/foto yang tidak layak, bluetooth hal-hal yang tak bermanfaat, menyimpan kata-kata jorok dsb) dan dari aktifitas yang menjadikan kita bernilai sampah (ngerjain/mengganggu ketentraman orang lain, menipu, berbohong, ingkar janji, mengumpat, mengakses apapun yang tidak layak dari sudut pandang agama dan etika.

 

Hindarkan diri dari aktifitas yang mengesankan “pamer HP”, membuka HP orang lain tanpa seizin pemiliknya, lengah HP serta ber-HP saat berkendaraan dan di dalam kamar mandi.

 

 

Perilaku ber-HP kita,

akan menentukan nilai kepribadian kita di mata masyarakat

 

Karakteristik Keberagamaan Pada Anak

Religiositas (keberagamaan) adalah suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada Suatu Dzat pencipta manusia, menumbuhkan rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-aturan-Nya ( Clark, 1958, hal 22).

Religiousitas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia ( Clark, 1958, hal. 85). Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada prilaku sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja dan dewasa. Masing-masing fase perkembangan memiliki kekhasan dalam sifat serta peranannya terhadap keseluruhan perkembangan religiositas.

Perkembangan religiositas usia anak mempunyai peran yang sangat penting, baik bagi perkembangan religiositas pada usia anak itu sendiri maupun usia selanjutnya. Penanaman nilai-nilai keagamaan; menyangkut konsep tentang ketuhanan, ritual ibadah dan nilai moral yang berlangsung semenjak usia dini, akan mampu mengakar secara kuat dan membawa dampak yang signifikan pada diri seseorang sepanjang hidupnya ( Hurlock, 1978, hal.26). Hal ini dapat terjadi karena pada usia dini tersebut, seorang anak belum mempunyai konsep-konsep dasar yang dapat digunakan untuk menolak ataupun menyetujui segala pengetahuan yang masuk pada dirinya. Oleh karena itu, nilai-nilai  agama yang ditanamkan pada anak usia dini, akan menjadi warna pertama dan utama dari dasar konsep diri seorang anak. Pada proses selanjutnya nilai-nilai agama yang telah terinternalisasikan tersebut akan menjadi conscience ( kata hati ) yang  menjadi dasar penilaian dan penyaringan terhadap nilai-nilai yang masuk pada diri anak di usia remajanya kelak ( Clark, 1958, hal.91 ).

Karakteristik Keberagamaan Pada  Anak

Perkembangan religiositas pada usia anak memiliki karakteristik tersendiri. Mengenai hal ini Clark ( 1958, hal. 10-22) menyampaikan pendapat dari dua pendahulunya. Pertama, pendapat Harms tentang fase perkembangan konsep Tuhan pada anak, yang terdiri dari tiga fase yaitu fairy tale stage, realistic stage dan indivualistic stage. Kedua, Clark mengembangkan pendapat Alport ( 1950, hal.32-34 ) yang menyatakan adanya dua karakteristik perkembangan religiositas anak, yaitu egeocentricism dan anthropomorphism. Clark menyampaikan delapan karakteristik, yaitu ideas accepted on authority, unreflective, egocentric, anthropomorphic, verbalized and ritualistic, imitative, spontaneous in some resprct, windering ( 1958, hal. 14-22 ).

Pada teori Harms dinyatakan bahwa pemahaman anak tentang Tuhan mengalami tiga fase, yakni;

  1. Fase fairy tale stage (3-6 tahun.) Pada fase ini anak memahami tentang Tuhan lebih dipengaruhi oleh daya fantasi dan emosinya daripada sifat rasional. Penanaman rasa Ketuhanan diusahakan mampu mengembangkan fantasi anak tentang ke-Maha-an sifat-sifat Tuhan serta kecintaan dan ketaatan anak terhadap Tuhan, terutama dikaitkan dengan masalah yang dekat dengan kehidupan anak.
  2. Fase realistic stage (7-12 tahun.) Pada fase ini anak mampu memahami konsep Ketuhanan secara realistik dan konkrit. Pemahaman melalui hubungan sebab akibat misalnya, akan membentuk kecintaan dan keyakinan anak terhadap Tuhan.
  3. Fase individualistic stage (terjadi pada usia remaja.) Dua situasi jiwa yang mendukung perkembangan rasa ketuhanan pada usia ini adalah kemampuannya untuk berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya. Pemahaman Ketuhanan pada remaja dapat ditekankan pada makna dan keberadaan Tuhan bagi kehidupan manusia.

Adapun rumusan Clark tentang delapan karakteristik religiositas pada anak, meliputi;

a) Ideas accepted on authority.

Semua pengetahuan yang dimiliki anak adalah datang dari luar dirinya, terutama dari orangtuanya. Semenjak lahir anak sudah terbentuk untuk mau menerima dan terbiasa mentaati apa yang disampaikan orangtua. Dampak yang muncul kemudian adalah timbulnya rasa senang dan rasa aman dalam diri anak. Maka nilai-nilai agama yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa pengganti orang tua dengan sendirinya akan terekam dan melekat pada anak. Dalam hal ini maka orangtua mempunyai otoritas yang kuat untuk membentuk religiositas anak

b) Unreflective.

Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas. Jarang terdapat anak yang melakukan perenungan (refleksi) terhadap konsep keagamaan yang diterima. Pengetahuan agama yang diterima oleh anak usia dini akan dirasakan sebagai suatu yang menyenangkan bagi anak, jika dikemas (disampaikan) dalam bentuk yang menyenangkan. Oleh karena itu konsep tentang nilai-nilai keagamaan dapat sebanyak mungkin diberikan pada anak, yang  disampaikan dalam bentuk dongeng yang menarik, bernyanyi dan aneka permainan.

c) Egocentric.

Mulai usia sekitar 1 tahun, terkembangkan pada diri anak kesadaran tentang keberadaan dirinya. Dalam proses pembentukan rasa “pentingnya keberadaan diri”, tumbuhlah egocentrisme, di mana anak melihat lingkungannya dengan berpusat pada kepentingan dirinya. Maka pemahaman religiositas anak juga di dasarkan pada kepentingan diri tentang masalah keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama sebaiknya lebih dikaitkan pada kepentingan anak, misalnya ketaatan ibadah dikaitkan dengan kasih sayang Tuhan terhadap dirinya.

d) Anthropomorphic.

Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia. Dalam hal ketuhanan, anak akan mengkaitkan sifat-sifat  Tuhan dengan sifat manusia, sehingga manusialah sebagai ukuran bagi sesuatu yang lain. Oleh karena itu dalam pengenalan sifat-sifat Tuhan kepada anak sebaiknya ditekankan tentang perbedaan sifat antara manusia dan Tuhan.

e) Verbalized and ritualistic.

Perilaku keagamaan pada anak – baik yang menyangkut ibadah maupun moral – semuanya masih bersifat lahiriyah, verbal dan ritual, tanpa keinginan untuk memahami maknanya. Anak sekedar meniru dan melaksanakan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang dewasa. Akan tetapi bila perilaku keagamaan itu dilakukan secara terus menerus dan penuh minat akan membentuk suatu rutinitas perilaku yang sulit untuk  ditinggalkan. Pada waktu anak memasuki usia remaja baru akan muncul keinginan untuk mengetahui makna dan fungsi dari apa yang selama ini dilakukannya. Oleh karena itu pendidikan agama perlu menekankan pembiasaan perilaku dan pembentukan minat untuk melakukan perilaku keagamaan.

f) Imitative.

Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah meniru apa yang terserap dari lingkungannya. Demikian juga dalam perilaku keagamaan. Anak mampu memiliki perilaku keagamaan karena menyerap secara terus menerus perilaku keagamaan dari orang-orang terdekatnya, terutama orangtua dan anggota keluarga yang lain. Daya sugesti dan sikap positif orangtua terhadap perilaku yang telah dilakukan, juga akan memperkuat aktivitas anak dalam berperilaku keagamaan. Oleh karena itu menempatkan anak dalam lingkungan beragama menjadi prasyarat terbentuknya religiositas anak.

g) Spontaneous in some respect.

Berbeda dengan sifat imitative anak dalam melakukan perilaku keagamaan, kadang-kadang muncul perhatian secara spontan terhadap masalah keagamaan yang bersifat abstrak. Misalnya tentang surga, neraka, tempat Tuhan berada, atau yang lainnya. Keadaan tersebut perlu mendapat perhatian dari orangtua atau pendidik agama. Pertanyaan-pertanyaan spontan itulah sebenarnya permulaan munculnya tipe primer pengalaman religiositas yang dapat berkembang.

h) Wondering.

Ini bukan jenis ketakjuban yang mendorong munculnya pemikiran kreatif dalam arti intelektual, tetapi sejenis takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka di depannya. Bagi anak usia antara 3-6 tahun, seringkali kejadian  sehari-hari yang dianggap biasa oleh orang dewasa dapat menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi anak, misalnya keramaian lalu lintas, susunan kaleng warna-warni di toko dan lain sebagainya. Suasana ketakjuban dan kegembiraan ini masih dapat terbawa pada usia dewasa, ketika seseorang memproyeksikan ide-idenya mengenai Tuhan dan ciptaan-Nya serta menemukan rasa ketakjuban di sana. Pada anak rasa takjub ini dapat menimbulkan ketertarikan pada cerita-cerita keagamaan yang bersifat fantastis misalnya peristiwa mukjizat pada sejarah Nabi-nabi, serta cerita kehebatan para sahabat dan pahlawan Islam. Peristiwa-peristiwa itu akan berkembang bebas dalam alam fantasi anak yang akan dapat menjadi dasar kekaguman dan kecintaan pada Nabi dan sifat-sifat beliau.

*Oleh: Dra. Nadlifah, M. Pd (pembimbing Risma Al-Qomar)

Daftar Kepustakaan

Allport, G. W., (1950). The Individual and His Religion. New York : MacMillan Publishing Co., Inc.

Clark, W. H., (1958), The Psychology of Religion. New York : The Mac Millan Company.

Hurlock, E.B.,(1978), Child Development New York: McGraw- Hill Book Company, Inc.

Inspirasi Dan Apresiasi Islam Dalam Budaya Dan Seni

PENDAHULUAN

Budaya atau kebudayaan dipahami sebagai tri potensi manusia, yakni berfikir, berkemauan dan berperasaan yang terjelma dalam kumpulan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah sosial dan kesenian. Dalam pengertian ini tergambar adanya proses yang menjadikan manusia – individu dan masyarakat sebagai wadah pembentukan potensi yaag dijelmakan dalam bentuk logika, etika dan estetika.

Sedang inspirasi dan apresiasi Islam dimaksudkan bagaimana nilai-nilai Islami memberi ilham dan semangat dalam budaya dan sastra lokal, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabatnya berhadapan dengan budaya global di suatu kawasan tertentu, misalnya budaya lokal pada setiap suku yang mayoritas penganut Islam di Indonesia.

Oleh karena itu, perlu adanya pelestarian dalam hal aplikasi seni budaya. Pada taraf global budaya sangat menentukan cirri khas, bahkan menunjukkan identitas suatu daerah tertentu. Maka dari itu, masyarakat secara bersama dan individu harus menjadi agen tunggal yang menjadi proses penyebaran budaya sekaligus mempertahankan eksistensi keberadaan budaya itu sendiri.

PEMBAHASAN

Manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan lingkungannya. Ikatannya adalah kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar dimungkinkan karena dalam kebudayaan terdapat sejumlah kaidah, aturan dan kategori, yang dapat diketahui melalui pengalaman dan pengamatan terhadap Ungkungan sosial. Selanjutnya, pencocokan dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebehunnya, dan akhimya interpretasi dengan kembali mengadakan sistematisasi dan kategorisasi.

Dalam proses analisis dan interpretasi, manusia selalu dihadapkan dengan “model pengetahuan” yang telah diketahui terlebih dahulu. Model pengetahuan ini memiliki variasi beraneka ragam, terkait dengan keragaman pengalaman dan pengamatan terhadap lingkungan sosial. Kaitan atau hubungan antara model-model pengetahuan membentuk sistem dan pola pikir. Inilah yang merupakan hakekat kebudayaan.

Manusia dapat membedakan kategori-katogori dari setiap model dan sistem dalam pola pikir melalui simbol. Simbol itu berwujud   “bahasa yang diketahui secara bersama dan tersebar luas. Misalnya masjid, pasar dan nightclub adalah simbol, ada modelnya dalam pola pikir manusia.

Masjid sebagai simbol dapat menjadi referensi sistem religi – tempat shalat, juga sistem teknologi – arsitektur. Demikian pula pasar dan nightclub adalah simbol untuk sistem ekonomi dan estetika, tersendiri atau kedua-duanya sekaligus.[1]

Integrasi Nilai-nilai Wahyu dalam Kebudayaan

Nilai-nilai budaya dalam keyakinan umat Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad sebagai hudan — petunjuk — bagi manusia untuk kebahagiaan hidupnya dunia-akhirat. Sunnah juga merupakan wahyu (QS. 53:1-11), meskipun untuk menyakini kewahyuannya diperlukan proses pentarjihan kesahihan sanad maupun matannya.

Budaya dan nilai-nilai Islami dapat saling isi dan karena kesamaan unsur   esensial. Esensi budaya adalah-pengetahuan, sedang sumber utama nilai-nilai Islam juga “pengetahuan” yang dapat mengendap dalam pola dan tata yang berfungsi untuk merespons setiap stimulus dari lingkungan sosial, melalui simbol-simbol bahasa.

Namun, bagi umat Islam karena sumber wahyu bersifat transendental maka diimani mutlak kebenarannya (QS. 3:60); sedang sumber budaya adalah manusia sendiri yang ada dalam dinamika perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, wahyu menjadi rujukan dalam pengembangan kebudayaan. Titik temu ini membawa integrasi wahyu dalam kebudayaan. Proses integrasi terjadi ketika penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan pensyarahan as-Sunnah ash-Shahihah dengan menggunakan metode dan sistematika disiplin ilmu tertentu dalam rangka inereson problem hidup dari berbagai aspeknya.

Apresiasi Islam terhadap Kebudayaan

Sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifah-Nya di dunia ini. Manusia terbagi dalam dua kelompok, sebagian mukmin dan sebagian kafir (QS. 64:2). Namun tidak analog bahwa umat Islam melahirkan budaya Islam, sedang yang kafir melahirkan budaya kafir. Wahyu terintegrasi dalam kebudayaan sejak manusia menghuni bumi ini, sampai kiamat; sedang manusia mukmin dan non mukmin terlahir baik selaku individu maupun sebagai umat, pada gilirannya berhadapan dengan ajal dan kematian (QS. 6:60; 7:43).

Inspirasi dan apresiasi nilai Islam ini dihadapkan pada arus perubahan sosial dan tantangan “budaya global” yang cukup berpengaruh. Arus perubahan yang paling menonjol antara lain:

1. Perubahan dari era agraris yang tradisional ke era industri mod­ern. Meskipun di Barat perubahan ini dimulai awal abad ke. 20, namun pengaruhnya di Indonesia dirasakan kemudian pada awal pemerintahan Orde Baru, yakni sekitar tahun 65-an.

2. Setelah Perang Dunia II, terjadi pergeseran antara kekuatan kolektif, nation-state, dan kekuatan individu, negara dikuasai konglomerasi. Pengaruh ini dirasakan di Indonesia pada masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru, tepatnya dekade 90-an.

3. Menjelang abad 21 (millineum III), terjadi pergeseran dari ideologi negara dan ideologi individu ke arah ideologi global yang pada gilirannya membuat batas-batas negara menjadi semakin longgar dan memberi peluang terbentuknya “budaya global”. Pengaruh ini juga dirasakan di Indonesia sejalan dengan arus reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru sejak Mei 1998.

Cita-cita perubahan ke arah ideologi global ini. arusnya dapat dilihat pada:

1. Terbukanya berbagai kesempatan untuk kegiatan interaksi secara global baik di bidang ekonomi, perdagangan, industri, dan jasa, maupun di bidang pendidikan dan kebudayaan.

2. Tumbuhnya bentuk-bentuk kerja sama antara bangsa-bangsa pada tingkat internasional dan regional, dengan melibatkan seluruh wilayah negara di bidang ekonomi, maupun bidang sosial budaya.

3.  Terjadinya strukturisasi yang mencakup wilayah kawasan dunia sebagai, satu keseluruhan global baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Dengan ciri-ciri utama seperti disebutkan di atas, mendorong bangsa-bangsa di dunia cepat atau lambat, menjalani proses perubahan menuju suatu budaya global.

Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya”: “Siapa yang tidak terkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.[2]

Quraish Shihab berpendapat: “Mengabaikan sisi-sisi keindahan di alam raya ini, berarti mengabaikan salah satu sisi dari bukti keesaan Allah; dan dengan demikian mengekspresikannya dapat merupakan upaya membuktikan kebesaran-Nya. Tidak kalah – kalau enggan berkata lebih kuat — daripada upaya membuktikannya dengan akal fikiran melalui dakwah lisan atau tulisan. Islam adalah agama fitrah.

Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya. Seni adalah fitrah; kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian manusia selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia vang suci itu. Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.[3]

Kontekstualisme Ajaran Islam tentang Seni

Sebenarnyalah, dalam literatur Islam klasik pernah dipersoalkan seni rupa yang obyeknya adalah makhluk bernyawa, manusia atau binatang. Terdapat kekhawatiran “menjadi penyebab kemusyrikan”. Oleh karena itu, seniman penciptanya sangat dicela dengan ancaman bakal diminta untuk meniupkan ruh pada karyanya itu.

Sementara itu, kolektor penikmat seni rupa “mahluk bernyawa” diancam, rumahnya tak akan dimasuki Malaikat pembawa rahmat, begitu pula dengan dipersoalkan tentang seni suara, yang dipandang sebagai lahw al-hadiih yang diartikan sama dengan nyanyian yang tidak berguna, karena menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuannya (QS. Luqman, 31:6). Namun, persoaian ini dapat ditemukan jalan penyelesaiannya melalui analisis kontekstual, rasional dan estetika terhadap kedua obyek seni tersebut.

Di antara berbagai cabang kesenian, seni rupa merupakan” kesenian yang paling jelas dan paling sederhana. Dengan mengandalkan pendekatan visual dan peradaban, seni rupa langsung menggambarkan sisi paling konkrit suatu karya artistic di lingkungan alam sekitarnya.

Pada dasarnya, seni rupa bertolak dari asumsi bahwa manusia normal itu dapat memberi reaksi terhadap bentuk, permukaan, massa, volume dan sebagainya dari hal-hal yang ia hadapi. Dalam suasana tertentu, dengan didukung oleh pengalaman subjektif, suatu bentuk dapat memancing sensasi, kesan dan pengalaman dalam perasaan. Hubungan-hubungan tersebut membangun citra tentang keindahan yang memberi rasa bahagia.

Dengan demikian, penolakan al-Qur’an bukan tertuju pada basil karya seni rupa yang berupa patung tersebut, tetapi pada kemusyrikan dan penyembahan terhadapnya.

Demikan pula penolakan al-Qur’an terhadap lahw al-hadfth, dan ayat yang semakna dengannya, bukan karena keindahan olah vokal dan alat-alat instrumen yang menyertainya, tetapi pada kata atau kalimat yang tidak berguna yang menjadi alat “komunikasi” untuk menyesatkan manusia, membangkitkan syahwat untuk berbuat .maksiat dan menebar fitnah serta permusuhan.

Selanjutnya, al-Qur’an memberi isyarat bahwa menikmati nyanyian dan   instrumen pengiringnya yang merdu dapat dikategorikan sebagai at-tayyibat min ar-rizq, sesuatu yang baik dan indah dari yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan zinatallah mengandung isyarat bahwa hiasan dari Allah  sebagai sesuatu yang mengandung nilai yang mencakup semua cabang kesenian (QS. 7:32).

Sekarang, ketika kekhawatiran itu dapat diantisipasi, dan obyek seni rupa dan seni buaru selain menjadi komoditi ekonomi yang bernilai tinggi, juga dapat dijadikan “media estetika” mendekatkan diri pada keindahan, yang pada gilirannya mengarahkan kepada kedekatan dengan Allah. Sebagian besar ulama di abad modern ini memfatwakan  kebolehan  melukis, dan   mematung  makhluk bernyawa serta menfatwakan kebolehan seni suara, seni tari serta instrumen yang menyertainya.

Dalam dataran ini pula diletakkan konteks inspirasi dan apresiasi nilai Islam dalam budaya lokal yang sementara bergelut menghadapi budaya global. Selama tidak terjebak dalam “lahw al-hadith”, selama itu pula budaya lokal dapat diekspresikan pada setiap cabang seni dan budaya.

PENUTUP

Mengingat manusia sepanjang hayat sejarahnya berada dalam budaya pluralis yang membedakan antara satu bangsa (etnis) dan bangsa lain, dan juga membedakan antara satu pemeluk agama (kepercayaan) dengan pemeluk agama lain, dan bahkan antara generasi pewaris dan generasi penerus, maka globalisasi sebagai proses yang dihadapkan pada peristiwa lintas budaya dengan beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama, pertemuan antar budaya yang member peluang terjadinya proses saling mempengaruhi antara satu system budaya dengan system budaya lain.

Kedua, pertemuan antar system budaya tidak saja berlangsung melalui proses dua arah, timbal balik, dan berimbang, tapi seringnya terjadi budaya mayoritas yang dominan menekan budaya minoritas yang tersisih

Ketiga, pada banyak peristiwa, budaya-budaya dari Negara berkembang bersikap terbuka untuk menerima pengaruh dari budaya lain.

Oleh karena itu, sebagai pelaku budaya dan sekaligus objek budaya, ada keharusan untuk senantiasa mendorong proses budaya agar mampu bertahan di dunia global yang mulai merebak penyebaran budaya asing.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafid, M. Rodhi. 2003. Agama dan Plurallitas Budaya Lokal. Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Al Ghazali.1981. Ihya Ulum ad-Din. Kairo: Dar al-Kuttab.

Shihab, M. Quraish. 1995. Islam dan Kesenian. Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan.


[1] M. Rodhi al-Hafid, Agama dan Plurallitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hal. 187-188.

[2] Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Kairo: Dar al-Kuttab, 1981), hal. 1131

[3] M. Quraish Shihab, Islam dan Kesenian, (Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan, 1995), hal 2-3

Perubahan Paradigma Pendidikan Islam

A. Pembaruan Paradigma Pendidikan Islam

Terminology paradigma dapat diartikan sebagai berikut cara pandang dan cara berpikir. Paradigma sebagai dasar system pendidikan adalah cara berpikir atau sketsa pandang menyeluruh  yang mendasari rancang bangunan suatu system pendidikan. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan memang sangat terkait dengan perubahan cara berpikir dan cara pandang dalam hidup dan masyarakat, karena pendidikan itu berpengaruh dengan masa kini dan masa yang akan datang.

Pandangan hidup tersebut telah dimanifestasikan dalam sikap hidup dan keterampilan hidup sehingga bisa mendatangkan keberkahan dalam hidup yang merupakan nilai tambah bagi manusia itu sendiri. Adanya perbedaan dalam aspek kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dari system politik dan secara historis cultural yang mengitari mereka.

B. Paradigma Baru Pendidikan Islam “Dualisme Pendidikan”

Munculnya pandangan ini berasal dari formisme yakni, segala sesuatu dilihat dari dua sisi yang berlawanan dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit, dikembangkan oleh kehidupan dunia atau akhirat. Selnjutnya akar munculnya dikotomik system pendidikan di Indonesia adalah bekas warisan Belanda para penjajah dahulu yang membedakan antara sekolah umum dan sekolah agama. Walaupun sebenarnya dari agam islam sendiri tidak membedakan kedua ilmu tersebut.

Arah perubahan paradigma lama menuju paradigm baru terdapat berbagai aspek mendasar, pertama,pardigma lama lebih cenderung sentrallistik, kebijalan bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan parsial, Karena pendidikan didesain untuk pertumbuhan sector ekonomi, politik, keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigm baru berorientasi pada desentralistik, kebijakan bersifat bottom up, orientasi perkembangan bersifat holistic, yakni pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya,kemajuan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, inovatif dan produktif.

C. Strategi Pembaruan Dalam Pendidikan Islam

Dengan adanya persoalan baru diatas harus dituntaskan adalah  dikotomis, yaitu berusaha mengintegrasi-interkoneksi kedua ilmu tersebut baik pada tingkat metode, kurikulum, filosofinya baik pada departemnya . Dari pandangan Fazlur Rahman ada 3 pendekatan pembaruan pendidikan yang harus ada, mengislamkan pendidikan sekuler modern yakni menerima pendidikan sekuler modern, menyederhanakan silabus tradisional yakni mereformasi silabus pendidikan yang sarat dengan materi tambahan yang tidak perlu, dan menggabungkan cabang ilmu pengetahuan lama dan pengetahuan baru.

Dengan melalui usaha semacam ini system pendidikan diharapkan dapat mengintegrasi nilai-nilai pengetahuan, nilai agama dan etik, sehingga mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi srta memiliki kematangan profesionalitas dan hidup dalam nila-nilai agama. Sebab pendidikan harus mampu membangun manusia berkualitas yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan, keterampilan dan ketakwaan sebagai relasi vertical dengan nilai-nilai ilahiyah.

Dengan demikian kerangka acuan pemikiran dalam system pendidikan islam

Harus mampu mengakomodasi berbagai pandangan secara selektif: pertama, pendidikan harus mempunyai prinsip kesetaraan antara sector pendidikan dengan sector lain. Kedua, pendidikan merupakan wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber yang berpengaruh, seperti keluarga, sekolah, media dan dunia usaha. Ketiga, prinsip masyarakat dengan segala institusi social yang ada, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi. Keempat, prinsip kemandirian dan pemerataan secara individual mampu bersaing dan sekaligus bekerja sama. Kellima, dalam kondisi masyarakat yang pluralistic dinutuhkan toleransi dan konsnsus. Keenam, prinsip perencanaan pendidikan, untuk selalu cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya tepat secara normative sesuai cita-cita Indonesia. Ketujuh, prinsip rekontruksionisme, bahwa kondisi masyarakat selalu mengalami perubahan mendasar. Kedelapan, prisip pendidikan berorientasi pada peserta didik dalm memberikan pelayanan. Kesembilan, prinsip pendidikan multicultural yakni harus memahami bahwa masyarakat bersifat plural. Kesepuluh, pendidikan dengan prinsip global yakni pendidikan harus berperan dalam menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global.


Kesimpulan

Berdasrkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa paradigm pendidikan islam yang dimaksud adalah pemikiran yang terus-menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan IPTEK. Pendidikan islam harus berorientasi kepada pembangunan dan pembaruan, pengembangan kreativitas, intelektualitas, keterampilan, kecakapan penalaran yang dilandasi dengan keluhuran moral dan kepribadian, sehingga pendidikan mampu memperthankan relevansinya ditengah-tengah laju pembangunan dan pembaruan paradigm saat ini, sehingga mampu melahirkan manusia yang belajar terus, mandiri, disiplin, terbuka, inovatif, mampu memecahkan masalah kehidupan, serta berdaya guna bagi kehidupan diri sendir maupun masyarakat.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insani Press

Sutrisno, 2006, Pendidikan Islam Yang Menghidupkan(Studi Kritis Terhadp Fazlur Rahman), Yogyakarta: Kota Kembang

Pendidikan Perempuan Di Indonesia Dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah

A. Pendahuluan

Jumlah anak perempuan yang tidak meneruskan pendidikan lanjutan pertama dan menengah lebih besar daripada murid laki-laki, sehingga bila tidak ada upaya untuk memperbaikinya maka usaha pemerintah untuk menekan kemiskinan tidak akan berhasil. Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Steven Allen dalam peluncuran The State of the World’s Children Report 2004 di Jakarta, Jumat.

Allen menyebutkan beberapa persoalan penting menyangkut pendidikan untuk anak perempuan yang oleh UNICEF dipandang masih perlu diperbaiki, serta mendapat perhatian serius. “Pemerintah Indonesia masih perlu menjadikan pendidikan sebagai prioritas jika negara ini ingin pembangunannya lebih berhasil. Salah satu masalah besar untuk menyediakan pendidikan berkualitas, khususnya anak perempuan, yaitu masih sedikitnya anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah untuk sektor pendidikan. Allen mengatakan anggaran Indonesia untuk pendidikan merupakan yang terendah di kawasan Asia Timur dan Pasifik, China, Malaysia, Filipina, dan Singapura, yang semuanya adalah pesaing utama Indonesia di bidang ekonomi.

Memperkuat data Unicef, dalam kesempatan yang sama, Menteri Peranan Wanita (Menperta)  mengatakan terbelakangnya anak perempuan dalam pendidikan tergambar dalam jumlah buta huruf dimana anak perempuan yang buta huruf lebih banyak tiga kali lipat dari anak laki-laki yang buta huruf. Sementara itu Dirjen Dikdasmen Depdiknas, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam hal pendanaan pendidikan di tanah air, termasuk dengan didirikannya Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan.[1]

Untuk mengatasi hambatan bagi anak perempuan tersebut, antara lain dengan memperdekat jarak sekolah dari rumah, memberikan subsidi biaya sekolah, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan melindungi anak perempuan dari ancaman kekerasan. Dalam hal ini tokoh utama dalam pemikiran pendidikan perempuan adalah Rahmah el Yunusiyah.

B. Pembahasan

Rahmah el Yunusiyah  adalah  sosok  pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Minangkabau. Pada usianya yang relatif muda, 23 tahun, Rahmah el-Yunusiyah telah mendirikan lembaga pendidikan khusus bagi kaum perempuan, yaitu Diniyah School Putri (1923 M.) guna memberikan pendidikan bagi kaum perempuan Minang pada masa itu. Rahmah el-Yunusiyah  tidak pernah memasuki suatu lembaga pendidikan secara tetap, baik sekolah gubernemen maupun pendidikan elementer tradisional, surau. Poisinya sebagai tokoh pembaharu pendidikan Islam bagi perempuan di Minangkabau didasarkan pada kemampuannya menciptakan pendidikan modern menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan saat itu. Konsep pendidikannya mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.

Perempuan, dalam pandangan Rahmah el-Yunusiyah, mempunyai peran penting dalam kehidupan. Perempuan adalah pendidik anak yang akan mengendalikan jalur kehidupan mereka selanjutnya.  Atas dasar itu, untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki kedudukan perempuan diperlukan pendidikan khusus kaum perempuan yang diajarkan oleh kaum perempuan sendiri. Dalam hal ini perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan, baik di bidang intelektual, kepribadian ataupun keterampilan.

Ketika Ia mendirikan gedung perguruannya pada tahun 1927 dan mengalami kekurangan biaya penyelesaian gedung tersebut, ia menolak bantuan yang diulurkan kepadanya dengan halus dan bijaksana. Ia ingin memperlihatkan kepada kaum laki-laki bahwa wanita yang selama ini dipandang lemah dan rendah derajatnya dapat berbuat sebagaimana laki-laki, bahkan bisa melebihinya. Tampaknya pikiran Rahmah el-Yunusiyah setengah abad yang lalu sejalan dengan pendapat kaum wanita dewasa ini yaitu: “membangun masyarakat tanpa  mengikutsertakan kaum wanita adalah sebagai seekor burung yang ingin terbang  dengan satu sayap saja. Mendidik seorang wanita berarti mendidik seluruh manusia ”.

Dengan berdirinya Diniyah Putri  pada 1923, sang pendiri, Rahmah el-Yunusiyah, memperluas misi kaum modernis untuk menyediakan sarana pendidikan bagi kaum perempuan yang akan menyiapkan  mereka  menjadi  warga  yang  produktif dan muslim  yang baik. Ia  menciptakan  wacana  baru  di Minangkabau,  dan  meletakkan  tradisi baru dalam pendidikan bagi kaum perempuan di kepulauan  Indonesia.  Diniyah Putri adalah  akademi agama  pertama bagi putri  yang  didirikan  di  Indonesia. Rahmah merasa bahwa pendidikan bersama (campuran) membatasi kemampuan  kaum perempuan untuk menerima pendidikan yang cocok dengan kebutuhan mereka.  Rahmah  ingin  menawarkan  kepada anak–anak perempuan pendidikan sekuler dan agama yang  setara  dengan pendidikan yang tersedia bagi kaum laki–laki, lengkap dengan program pelatihan dalam hal keterampilan yang berguna sehingga kaum perempuan  dapat  menjadi  anggota  masyarakat  yang  produktif.

Tujuan akhir Rahmah adalah meningkatkan kedudukan kaum perempuan dalam  masyarakat  melalui  pendidikan modern yang berlandaskan prinsip–prinsip Islam. Ia  percaya bahwa perbaikan posisi kaum perempuan dalam masyarakat tidak dapat  diserahkan kepada pihak lain, hal ini harus dilakukan oleh kaum  perempuan  sendiri. Melihat tekad dan kemauan keras adiknya itu, Labay mendukung cita–citanya.  Kemauan yang keras membaja ini ia  pegangi dari ayat Al-Qur’an surat Muhammad ayat 7 yang  artinya: “Hai orang–orang yang  beriman , jika  kamu  menolong  Allah, maka  Allah  akan  menolong kamu pula”. Begitu yakinnya ia akan janji Allah ini sehingga selalu  dijadikannya pegangan dalam berbuat kebajikan.

Dalam perkembangan selanjutnya, sekolah ini menerapkan sistem pendidikan  modern  yang mengintegrasikan pengajaran ilmu–ilmu agama dan ilmu–ilmu umum secara  klasikal, serta memberi pelajaran ketrampilan. Meskipun demikian, ilmu–ilmu  agama tetap menjadi pelajaran pokok dan merupakan kekhususan sekolah ini; karenanya dapat dibedakan dengan sekolah Dewi Sartika dan Maria Walanda  yang  lebih menitikberatkan  pada  pelajaran  kejuruan  dan keputrian.  Menurut Rahmah bahwa masyarakat bisa baik melalui rumah tangga sebab rumah  tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat tiang negara.

Sudah menjadi kenyataan  umum pada waktu itu. bahwa yang mendirikan dan  menyelenggarakan dunia pendidikan adalah kaum pria. Di  Pulau  Jawa  misalnya  semua  pesantren didirikan oleh kaum pria. Apalagi pada masa itu adat sangat kuat di  Minangkabau.  Tapi  Rahmah  el-Yunusiyah  dapat  menunjukkan  kepada  masyarakat dan kepada  dunia,  bahwa  wanita  dapat  berbuat  sebagaimana  halnya  kaum pria. Visi Rahmah tentang peran perempuan adalah peran dengan beberapa segi: sebagai pendidik,  pekerja sosial demi kesejahteraan masyarakat, teladan moral, muslim yang baik dan juru bicara untuk mendakwahkan pesan-pesan Islam.

Bentuk realisasi dari pemikiran pendidikan Rahmah el-Yunusiyah adalah berupa pendirian sekolah–sekolah bagi perempuan. Hal ini merupakan tanggapan dari situasi pada masa itu dan sejalan pula dengan teorinya Arnold J. Toynbee yaitu : “Challenge and Respons”. Sedangkan tujuan pendidikannya untuk mencerdaskan kaum perempuan agar pendidikan pada masa itu tidak berpusat pada laki–laki, dengan demikian hal ini sejalan dengan teori Feminisme, yaitu teori poststrukturalis dan postmodernisme. (Hamruni; makalah)

Beberapa hambatan  pada kaum  perempuan Indonesia. Pendidikan yang belum berpihak pada kaum perempuan dapat pula ditemui dalam bidang lain. Misalnya dalam bidang kesehatan dan pekerjaan. Perusahaan masih banyak yang belum memberi lapangan kerja pada perempuan. Angka perempuan menganggur lebih tinggi dapat ditemui dimana-mana dibanding laki-laki. Kalaupun perempuan banyak ditemui bekerja disektor informal (pabrik) itu bukan berarti hilangnya diskriminasi. Angka kaum perempuan upahnya tidak dibayar oleh perusahaan mencapai 41,3% lebih tinggi dibanding laki-laki yang hanya 10% menjadi bukti beban yang diterima perempuan diluar rumah.

Sementara di dalam rumah, hambatan keluarga dan mengurus anak serta kekerasan dalam rumah tangga yang dirasakannya membuat perempuan kerap susah bisa mengurus dirinya sendiri. Ini yang membuat kaum perempuan begitu susah mengembangkan dirinya dan potensinya secara maksimal. Dan kemiskinan yang melilit bangsa ini paling banyak dari kelompok kaum perempuan. Dalam data yang lain disebutkan wanita yang menamatkan perguruan tinggi dan akademi hanya 2,43% dari angka 35, 83% yang dimiliki laki-laki. Angka itu jelas membutuhkan kerja keras perempuan. Bagaimana tidak negara yang 50% lebih populasinya perempuan dan memiliki posisi paling sentral dalam rumah tangga.

Namun dalam realitas ternyata adalah komunitas yang paling merasakan kemiskinan dan kemelaratan yang menimpa negara saat krisis ekonomi tahun 1996 terjadi. Dan PHK besar-besaran korbannya mayoritas adalah perempuan. Kondisi itu adalah realitas yang harus diperbaiki oleh kaum perempuan sendiri, karena peran diluar institusi perempuan belum banyak yang berpihak untuk perempuan. Baca Indonesian News – Perempuan Nyaris Gagal Nikmati Hasil Pembangunan, 2006. Ada beberapa solusi, salah satunya pendidikan (jarak jauh) dan pemberdayaan gender.

Pendidikan yang mencerdaskan bangsa serta kompetitif dalam dunia global mutlak diperlukan oleh seluruh komponen bangsa dalam menghadapi semua persoalan di semua lini kehidupan. Artinya angka putus sekolah yang tinggi serta masih tingginya angka diskriminasi – rendahnya angka lulusan perguruan tinggi pada kaum perempuan serta masih tingginya angka buta huruf di kalangan perempuan Indonesia– serta kekerasan rumah tangga perempuan harus segera di reformasi. Tanpa itu posisi penting dalam pembangunan nasional tidak akan dirasakan kaum perempuan.

Oleh sebab itu masalah tersebut harus bisa diatasi bila perempuan ingin ada dalam posisinya yang sejajar dengan elemen-elemen lain di dalam mengisi arti kemerdekaan yang sudah diperoleh 66 tahun silam oleh bangsa kita. Reformasi yang paling mendasar yaitu memberdayakan kaum perempuan itu sendiri. Pemberdayaan itu harus mampu menyentuh akar persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Bidang – bidang paling strategis yang membuat perempuan termarjinalkan harus diangkat secara tuntas.

Dalam konteks itu, Universitas Terbuka (UT) dapat pula mengambil peran penting yang sama dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia dengan daya saing yang tak kalah dengan universitas-universitas terkemuka untuk menyiapkan kader-kader bangsa yang tangguh dalam menghadapi pasar bebas. UT yang tangguh sangat mungkin dapat berdiri sejajar dalam melahirkan lulusan-lulusan berkualitas dengan akreditasi yang diperolehnya dari International Council for Open and Distance Education (ICDE) sebagai universitas terbuka yang memenuhi standar internasional.

Lembaga pendidikan terbuka dan jarak jauh di dunia yang berbasis di Oslo, AS ini telah memeriksa semua standar dan mutu UT ini telah memenuhi kualifikasi terbaik. Bahkan dalam bahan ajar dan pelayanannya UT medapat ISO 9001;2000 dari SAI Global milik Australia. Ini adalah predikat luar biasa bagi sebuah universitas yang memang tidak mudah diperoleh sebuah lembaga pendidikan yang menjamur di Indonesia. Secara aplikatif pendidikan yang banyak bertumpu pada pengembangan kemandirian mahasiswa ini diperoleh melalui perangat-perangkat modernisasi.(Baca Tempo edisi 13-19 November 2006 ).

Kemudian  itu tidak harus melalui pertemuan tatap muka antara dosen dan mahasiswa dalam ruangan secara langsung. Misalnya pendidikan jarak jauh yang dapat mengintegrasikan beberapa aspek pengalaman perempuan dengan informasi yang disediakan perguruan tinggi melalui perangkat modern (website dan internet) yang dimiliki UT yang ada. Ini yang harus disediakan UT dalam mendesain pembelajaran bagi perempuan yang menuntut ilmu dalam pendidikan jarak jauh yang ada. Berikut beberapa hal yang harus dipenuhi UT dalam rangka mengintegrasikan kebutuhan pendikan yang ada, dengan capaian-capaian yang di inginkan sebagai berikut: (Baca, kompas the world bank, 2006)

(1). Pendidikan tatap muka ini harus menyediakan informasi tentang perkembangan dan kemajuan kaum perempuan secara global.

(2). Pendidikan ini juga harus memberi informasi mengenai keterlibatan perempuan dalam semua sektor pembangunan yang ada.

(3). Perguruan ini harus mampu menjadi ujung tombak lembaga pendidikan yang ikut peduli pada nasib perempuan Indonesia.

(4). Dan yang paling penting tenaga pengajar yang ada harus ikut terlibat dalam mendesain pengajaran dan memberdayakan mahasiswanya agar menjadi lulusan yang peduli pada masalah yang dialami kaum perempuan Indonesia. Poin-poin pembelajaran diatas sangat mungkin menjadi alternatif dari system pendidikan yang ada selama ini. Atau pendidikan dengan system yang berbeda. Tapi mampu mengintegrasikan mahasiswa yang menuntut ilmu dengan realitas yang ditemui kaum perempuan yang belum menguntungkan posisinya.

Berawal dari program ini standar kualifikasi yang berkualitas pada saat menamatkan pendidikan tingginya tetap harus dipertahankan. Itu artinya UT adalah salah satu lembaga pendidikan dengan standar dan mutu yang teruji juga berhasil membuka kesempatan bagi mahasiswa yang sibuk untuk memperoleh kesempatan untuk meluluskan calon-calon generasi bangsa dengan baik. Dan mereka yang selama ini belum terakomodir dalam pola pendidikan tatap muka, akan sangat tepat memilih kurikulum jarak jauh pendidikan yang disediakan UT. Sudah pasti kaum perempuan dapat menjadi kelompok paling pas untuk merealisasikan visi-misinya berkontribusi dalam desain kebijakan bangsa yang besar ini.

Kurikulum jarak jauh itu sangat bermanfaat bagi perempuan karena fleksibilitas yang ditawarkan begitu longgar. Yang pasti bagi perempuan sibuk bekerja akan memperoleh manfaat dari program ini. Mereka mendapatkan ilmu sekaligus dapat mengakses tekhnologi mutakhir yang ada. Dan ini sangat mungkin menutup gap antara partisipasi perempuan dan laki-laki dalam 8 pembangunan selama ini. Dan sudah pasti aspek paling penting dari pendidikan yaitu kualitas tidak diabaikan oleh UT.

Bangsa ini harus yakin bahwa generasinya mampu hidup sejajar bila kita buka peluang pendidikan dan pemberdayaan itu bisa berjalan seiring sebagai agenda penyelesaian masalah bangsa secara tuntas. Dan perempuan yang berjasa dalam merintis kemerdekaan juga bisa dirasakan perannya dalam pembangunan negara ini melalui perjuangan menentaskan kaumnya yang masih banyak yang tertinggal maupun termarjinalkan dalam pembangunan yang belum berpihak pada perempuan selama ini. Artinya hak-hak yang sama dalam pembangunan bangsa dan negara ini tidak boleh dibangun secara parsial.

Konstruksi pemikiran perempuan dan laki-laki yang bias gender dalam pembangunan yang kita lakukan dalam menentukan kebijakan negara dalam semua sektor harus dihilangkan. Pemikiran itu ternyata hanya menjadikan kita menjadi bangsa yang kerdil dalam pentas global. Dan itupula yang ikut membuat hak-hak perempuan sulit berkembang dalam berhadapan dengan ekses negatif budaya kompetisi pasar bebas. Sudah waktunya generasi bangsa yang tercerahkan itu lahir menjadi penyelamat bangsa yang terpuruk karena keterbelakangan. Dan itu bisa hilang bila bangsa ini percaya pada peran lembaga pendidikan dalam membangun bangsa yang berkualitas dan maju.

Saatnya bangsa ini mulai dari pemerintah, masyarakat dan elemen pentingdi negara ini harus mau mendorong upaya negara ini untuk membangun bangsa tercinta ini untuk memprioritaskan pendidikan dalam mencetak generasi muda yang tangguh dan kompetitif serta mandiri. Karena bukti negara-negara yang kuat dan maju yang kita saksikan lahir dari negara yang peduli pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lemahnya. Dan negara kita mayoritas perempuan dan paling rentan masalah harus bisa segera diangkat harkat dan martabatnya untuk bisa berkontribusi membangun bangsa ini secara bersamasama. Dan pendidikan yang belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang ada harus kita bangun dan kita buka seluas-luasnya di negara ini.[2]

C. Penutup

Untuk mengatasi hambatan bagi anak perempuan tersebut, antara lain dengan memperdekat jarak sekolah dari rumah, memberikan subsidi biaya sekolah, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan melindungi anak perempuan dari ancaman kekerasan.

Rahmah el Yunusiyah  adalah  sosok  pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Minangkabau. Ia dilahirkan pada tanggal 29 Desember 1900 M di kota Padang Panjang. Pada usianya yang ke 23 tahun Rahmah el-Yunusiyah telah mendirikan lembaga pendidikan Khusus bagi kaum perempuan, yaitu Diniyah School Putri (1923 M.) dalam rangka meningkatkan tingkat pendidikan kaum perempuan Minang pada masa itu. Dengan masa pendidikan yang tidak sistematik dan relatif sangat pendek, Rahmah el-Yunusiyah  tidak pernah memasuki suatu lembaga pendidikan secara tetap. Jika kemudian menjadi tokoh pembaharu pendidikan Islam bagi perempuan di Minangkabau, tidak lain berkat usaha dan kerja kerasnya dalam mendalami suatu ilmu. Selain tekun membaca, ia pun memiliki wawasan baca yang cukup luas. Rahmah el-Yunusiyah telah menciptakan pendidikan modernis menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.

Kiprah dan pemikiran Rahmah el-Yunusiyah dalam pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau bisa dilihat dengan adanya pendirian Diniyah School Putri (1923). Sebagai penunjang perguruan Diniyah School Putri Rahmah el-Yunusiyah juga mendirikan beberapa sekolah perempuan lainnya, yaitu : Menyesal  School (1925), Yunior Institut Putri (1938), Islamitisch Hollandse school (1940), Kulliyatul Mu’allimin El-Islamiyah (1940), kemudian di tahun 1947 ia mendirikan Sekolah Diniyah Rendah Putri dan Sekolah Diniyah Menengah Pertama Putri. Kemudian tahun 1964 Rahmah juga mendirikan Akademi Diniyah Putri.

Untuk mencapai tujuannya  Rahmah menganut sistem pendidikan  terpadu, yaitu : memadukan  pendidkan  yang  diperoleh  dari rumah  tangga, pendidikan yang diterima sekolah dan pendidikan yang diperoleh dari masyarakat di dalam pendidikan asrama. Dengan sistem terpadu ini, teori ilmu pengetahuan dan agama serta  pengalaman yang dibawa oleh masing–masing  murid  dipraktekkan  dan  disempurnakan dalam  pendidikan  asrama di bawah asuhan guru–guru asrama.

Rahmah mengakui peran perempuan sebagai ibu dan pendidik anak-anak mereka, seperti yang dibicarakan dalam wacana muslim kontemporer, baik di Minangkabau maupun di pusat-pusat intelektual Muslim di Indonesia seperti Jakarta. Rekonsiliasi antara peran-peran ini dengan tuntutan kehidupan kontemporer adalah tema yang popular dan menonjol dalam wacana kaum muslim di Indonesia dewasa ini, karena meningkatnya jumlah kaum perempuan yang terdidik dan berasal dari kelas menengah yang mencari kerja dan karier membuat mereka meninggalkan rumah sepanjang hari.

Peran isteri dan ibu sangat disanjung tinggi oleh para intelektual muslim perempuan seperti Dr. Zakiah Daradjat, psikolog kelahiran Minangkabau, perempuan sebagai isteri dan ibu dipandang oleh para intelektual Muslim perempuan sebagai sangat penting bagi pemeliharaan tatanan moral yang menempatkan keluarga sebagai basisnya dan bagi upaya penyiapan pendidikan dan perkembangan moral anak-anak mereka.  Dalam hal ini  pendidikan Islam telah berperan sebagai alat bagi kaum perempuan Minangkabau untuk mengkonfrontasikan pesan-pesan gender Islam dalam adat yang berbeda dan berupaya menegosiasikan antara keduanya.

Independensi yang ditunjukkan Rahmah el Yunusiyyah, juga tidak sebatas pada persoalan model dan conetnt pendidikannya, tetapi sampai dalam bidang penggalangan dana untuk pembangunan sarana pendidikan. Sebut misalnya, ketika bangunan dan asrama sekolahnya hancur karena gempa pada tahun 1926, ia menolak tawaran beberapa pihak, yang menyatakan keinginannya untuk membantu proses pembangunan kembali gedung pendidikannya. Termasuk tawaran subsidi dari pemerintah kolonial yang juga ditolaknya, karena dinilai akan mengurangi independensinya.

Pilihan Rahmah el Yunussiyah, justru melakukan perjalanan penggalangan dana pada tahun 1927, ke Sumtara Utara dan Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam perjalanan yang digunakan untuk menyampaikan cita-cita pendidikan dan program-programnya, Rahmah el Yunusiyyah, menyempatkan diri memberikan pelajaran agama di beberapa istana untuk putri-putri sultan. Perjalanan selama tiga bulan ini, telah berhasil menggalang dana yang cukup besar untuk melanjutkan pembangunan sarana pendidikannya.

Sebagaimana diketahui secara luas, gagasan pendidikan inilah yang kemudian hari, sampai saat ini, tetap berkembang baik, yaitu Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang sangat berpengaruh tidak saja pada level nasional, melainkan sampai tingkat internasional. Sebuah karya besar dan monumental dari perempuan Islam, yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan perempuan Islam dengan guru-guru perempuan di dalamnya.

Sebuah arsitek pendidikan progresif, yang hanya menyelesaikan pendidikan formalnya, selama tiga tahun di tanah kelahirannya, selebihnya mengikuti pengajian di surau-surau. Rahmah el Yunisiyyah benar-benar membuktikan, Islam mampu dijadikan basis gerakan untuk perbaikan situasi dan kondisi perempuan, sebagaimana yang ia cita-citakan. Pada tanggal 26 Pebruari 1969, Rahmah el Yunusiyyah, dengan tanpa diduga, karena sesaat sebelum wafatnya, ia masih bercengkerama dengan para tamunya.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

Daftar Pustaka

Hasbullah. 1999.  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nasution, Harun. 1995.    Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : Bulan Bintang.

Nata, Abuddin, dkk. 2001.    Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga – Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Grasindo.

————-. 1992 . Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Zuhairini, dkk. 1986.   Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama.


[1].  http://www.mediaindo.co.id/2003/Siswono

[2].  www.docstoc.com

Aplikasi Team Teaching Pada Level Sekolah

PENDAHULUAN

Sejalan kemajuan sistem di dunia pendidikan ini, menuntut para pendidik untuk lebih kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran. Dalam hal ini penekanannya adalah pada pengembangan ilmu pengetahuan anak didik. Berawal dari berubahnya kurikulum yang dulu pembelajaran berpusat pada guru(teacher centered) bergeser menjadi pembelajaran berpusat pada murid(student centerd), yang membuat para pendidik beralih fungsi, jika dulu guru mempunyai peran sebagai sumber belajar bagi anak didik, namun sekarang guru berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran, yang intinya adalah hanya menemani murid belajar. Sehingga ada kebutuhan yang lebih akan pengembangan ilmu pengetahuan. Pembelajaran team teaching solusinya. Dimana akan ada banyak pengembangan ilmu pengetahuan didalamnya.

Pembelajaran team teaching ini tepat sekali diterapkan pada pembelajaran multidisipliner. Dalam konteks ini sudah diterapkan di UIN dengan sistem integrasi-interkoneksi. Pembelajaran team teaching ini bisa diterapkan hanya untuk mata kuliah interdisipliner. Berangkat dari pemikiran diatas penulis ingin menggunakan team teaching ini untuk diaplikasikan di level sekolah menengah sampai sekolah atas. Dimana dilevel tersebut terjadi proses pembelajaran multidisipliner. Sehingga bisa saja disamakan prosesnya. Dari referensi yang penulis baca tipe dari team teaching adalah:

  1. Perencanaan   : yang dibuat oleh semua anggota
  2. Integrasi isi     : pengembangan perspektif disiplin yang beraneka ragam dan bisa saling melengkapi
  3. Pengajaran      : pembagian siapa yang mengajar dan bagaimana materi tersebut diajarkan
  4. Evaluasi          : penentuan jenis tes dan cara mengukur keberhasilan

PEMBAHASAN

Aplikasi

Di banding solusi-solusi lain sebagaimana ditawarkan oleh Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009, sebenarnya team teaching (pengajaran bertim)-lah yang paling relevan diterapkan, karena sekaligus berfungsi meningkatkan mutu pendidikan, sehingga dapat dikatakan sebagai sekali dayung dua pulau terlampui.

Prinsip umum team teaching adalah, ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung di sebuah kelas, di situ ada lebih dari satu guru.

Ada beberapa model team teaching yang dapat diterapkan, antara lain team teaching tradisional, yaitu sebuah model di mana dua orang guru mengajar dalam satu kelas dan mereka berbagi tanggung jawab yang sama dalam mengajar pada siswa-siwanya dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Misalnya, salah satu guru melaksanakan pembelajaran, sedangkan guru yang satunya lagi menulis atau membuat catatan di papan tulis.  Model inilah yang paling mudah dilakukan, dan dalam pelaksanaannya sering dipandang agak sinis oleh pihak dinas pendidikan, sehingga mereka menolak model ini sebagai solusi pemenuhan beban mengajar 24 jam/minggu.

Tentu saja ada model-model yang lebih menantang dan signifikan dapat meningkatkan mutu pendidikan, antara lain:

(1) “Supported Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching di mana salah seorang guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan rekan satu timnya tadi,

(2) “Parallel Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching yang pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing guru dalam kelas tersebut bertanggungjawab untuk mengajar masing-masing kelompok,

(3) “Differentiated Split Class” adalah team teaching yang pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat ketercapaiannya. Salah satu guru melakukan pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat pencapaian kompetensinya kurang (tidak mencapai KKM) sedang guru yang lain melakukan pengayaan kapada mereka yang telah mencapai dan/atau yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya (mencapai atau melebihi KKM),

(4) “Monitoring Teacher”, dilaksanakan dengan cara salah satu guru dipastikan melakukan peran sebagai pengajar yang memberikan pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling kelas memonitor perilaku dan kemajuan siswa. Di dalam satu jam pelajaran team teaching dapat diterapkan lebih dari satu model.

B. Konsep Dasar Team Teaching

Dewasa ini, seiring dengan semakin modernnya sistem pendidikan dan tuntutan yang semakin berkembang, tak jarang sekolah-sekolah yang masih menggunakan strategi pembelajaran konvensional dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran dengan strategi konvensional ini, proses pembelajaran dilakukan secara soliter, artinya proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi pembelajaran siswa dilakukan oleh satu orang guru.

Padahal sebenarnya, sekarang ini kurikulum pendidikan di Indonesia sudah makin berkembang. Telah banyak tuntutan-tuntutan yang ditujukan kepada guru. Saat ini, guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menentukan/ memilih metode pembelajaran yang digunakan, yang tentunya harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Selain itu, guru di era sekarang juga dituntut untuk lebih mengenal setiap individu dari diri siswa. Dan melihat ratio antara jumlah guru dan siswa yang tidak seimbang, tentu seorang guru tidak mungkin bisa menangani jumlah siswa yang banyak itu. Satu hal yang juga penting, bahwa yang namanya guru bukan berarti orang yang tahu akan segala hal.

Dalam hal ini, setiap manusia tentulah memiliki kekurangan pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa guru pun membutuhkan sosok lain yang bisa diajak kerja sama dalam menghadapi segala kesulitan yang ada pada saat melaksanakan proses pembelajaran. Jika melihat beberapa masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam hal ini pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya dalam memilih strategi yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan terhadap guru khususnya itu dapat terpenuhi dengan maksimal. Dan tampaknya strategi Team Teaching merupakan cara tepat.

Team Teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa “Metode pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.

Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.

Sebenarnya ada beberapa jenis dari strategi Team Teaching, sesuai yang dijelaskan oleh Soewalni S (2007), yaitu :

1. Semi Team Teaching :

Tipe 1 = sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Perencanaan materi dan metode disepakati bersama.

Tipe 2a = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru masing-masing.

Tipe 2b = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.

2. Team Teaching Penuh

Tipe 3 = satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas sama, pembelajaran mata pelajaran / materi tertentu. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat.

Adapun variasi Team Teaching Penuh menurut Soewalni S (2007) ialah :

Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual.  Anggota tim secara bergantian menyajikan topik/materi. Diskusi / tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim. Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi, praktek dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor, fasilitator, mediator). Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.

Namun, dari beberapa jenis Team Teaching yang dikemukakan oleh Soewalni S, penulis lebih condong ke jenis Team Teaching penuh, karena disana lebih terlihat nyata strategi Team Teaching-nya. Guru yang mengajar lebih dari satu orang, mereka mengajar di kelas yang sama dengan materi yang sama dan pada waktu yang sama, serta setiap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya pun dilakukan atas kesepakatan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip pembentukan team dalam sebuah pelaksanaan tugas, bahwa segala sesuatunya yang berkaitan dengan misi pencapaian tujuan dilakukan secara bersama-sama, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Tahapan Pembelajaran dengan Strategi Team Teaching

1. Tahap Awal

a. Perencanaan Pembelajaran Disusun secara Bersama

Perencanaan pembelajaran atau yang saat ini lebih populer dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh setiap guru yang tergabung dalam Team Teaching. Agar setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang tercantum dalam isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang harus diraih oleh siswa dari proses pembelajaran, sampai kepada sistem penilaian hasil evaluasi siswa.

b. Metode Pembelajaran Disusun Bersama

Selain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang harus disusun bersama oleh team, metode yang akan digunakan oleh mereka dalam proses pembelajaran Team Teaching pun harus direncanakan bersama-sama oleh anggota Team Teaching. Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap guru Team Teaching mengetahui alur proses pembelajaran dan tidak kehilangan arah pembelajaran.

c. Partner Team Teaching Memahami Materi dan Isi Pembelajaran

Guru sebagai partner dalam Team Teaching bukan hanya harus mengetahui tema dari materi yang akan disampaikan kepada siswa saja, lebih jauh dari itu, mereka juga harus sama-sama mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Hal ini agar keduanya bisa saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing. Terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atas penjelasan guru.

d. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Secara Jelas

Dalam Team Teaching, pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing guru harus dibicarakan secara jelas ketika merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas, mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada lagi yang namanya ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dalam hal ini.

2. Tahap Inti

Satu guru sebagai pemateri dalam dua jam mata pelajaran penuh, dan satu orang sebagai pengawas dan pembantu team.

Dua orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran, dalam hal ini berarti tugas sebagai pemateri dibagi dua dalam dua jam pelajaran yang ada.

3. Tahap Evaluasi

a. Evaluasi Guru

Evaluasi guru selama proses pembelajaran dilakukan oleh partner team setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini setiap guru yang diberi saran harus menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakekatnya itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa bahwa mereka banyak mengalami kekurangan dalam diri mereka, tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini dilakukan di luar ruang kelas, ini dilakukan untuk menjaga image masing-masing guru dihadapan siswa.

b. Evaluasi Siswa

Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya dilakukan secara bersama-sama oleh guru Team Teaching. Atas kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, disini guru Team Teaching harus secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan ataupun tulisan, baik pilihan ganda, uraian, atau kombinasi antara keduanya.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah dalam evaluasi siswa, guru juga diharuskan merencanakan metode evaluasi. Perencanaan metode evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru Team Teaching dalam pelaksanaan evaluasi, serta pembagian pos-pos pengawasan.

UU RI No 14 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 18 Tahun 2007 menyatakan, beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam seminggu. Beberapa sekolah yang memiliki cukup banyak guru mata pelajaran tertentu, sedangkan kelas yang tersedia tidak mampu memenuhi kuota guru tersebut, mengambil langkah alternatif. Di antaranya, team teaching.[1]

Pembelajaran team teaching dilaksanakan oleh dua guru atau lebih. Mereka berkolaborasi dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar dalam kelas yang sama. Umumnya, pembelajaran team teaching dilaksanakan dua guru dan dalam penerapannya mengalami penyesuaian berdasarkan potensi siswa dan potensi lingkungan tiap sekolah.

Tentu, sebelum pelaksanaan, lebih dulu dilakukan sosialisasi tentang konsep pembelajaran team teaching. Sebelum pembelajaran berlangsung, dua guru berdiskusi mengenai materi, model pembelajaran, dan teknik penilaiannya. Intinya, selalu terjalin komunikasi di antara kedua guru tersebut.

Secara umum, ada beberapa versi pelaksanaan pembelajaran team teaching. Pertama, seorang guru menjelaskan, guru lain memantau perilaku dan pemahaman siswa. Dalam pembelajaran matematika, misalnya, seorang guru menjelaskan “cara menentukan suku ke-n dalam deret geometri”. Guru tersebut memberikan contoh soal dan guru yang lain memantau perilaku dan tingkat pemahaman siswa. Kelebihan versi ini, suasana kelas cenderung tenang dan konsentrasi stabil. Namun, siswa cenderung kurang aktif karena merasa diawasi.

Kedua, materi disampaikan salah satu guru, lalu guru lain melengkapi dengan tambahan pengetahuan. Misalnya, dalam pembelajaran matematika, seorang guru menjelaskan logika matematika. Setelah itu, guru yang lain memotivasi siswa belajar logika dengan bercerita tentang Aristoteles, filsuf besar pada abad ke-4 SM yang merupakan tonggak pemikiran logika. Siswa lalu diarahkan menuju pemberdayaan pembelajaran logika.[2]

C. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Semakin berkembangnya kurikulum pengajaran, menuntut guru untuk semakin kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Berbagai tuntutan yang ditujukan kepada guru pun semakin kompleks, diantaranya ialah guru dituntut untuk mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, guru harus kreatif mendesain strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dan nyaman belajar, serta guru pun dituntut untuk mampu melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Berbagai hal yang harus dipenuhi guru tersebut, tentu merupakan hal yang sulit jika semua itu dilakukan seorang diri, untuk itu membutuhkan partner agar semua hal tersebut dapat dilakukan secara maksimal. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi Team Teaching dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Team Teaching merupakan suatu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian tugasnya secara jelas. Dilihat dari jenisnya, strategi Team Teaching ada dua jenis, yaitu semi Team Teaching dan Team Teaching penuh. Dalam strategi Team Teaching, seluruh aktivitas proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi dilakukan secara bersama oleh guru Team Teaching. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip kerja sama.

2. Saran

Bagi pihak sekolah, hendaknya kreatif dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dalam Proses Belajar Mengajar, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan hasil yang dicapai oleh siswa pun relatif baik. Dan bagi sekolah-sekolah yang sudah menggunakan strategi Team Teaching dalam proses pembelajaran, pelaksanaan Team Teaching harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang benar agar tidak terjadi penyimpangan dalam sistem pembelajaran.

*Makalah ini Disusun Oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. dan Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia.

Martiningsih. 2007. Team Teaching. (http://martiningsih.blogspot.com).(Diakses tgl 8 April 2008).

Media Massa. Jawa Pos. 29 Januari 2009.

Soewalni, S. 2007. Team Teaching. Makalah Program Pelatihan Applied Approach 2007 di Lembaga Pengembangan Pendidikan UNAS. (Diakses tgl 8 April 2008).

Yeni Artiningsih, adalah mahasiswa tingkat IV pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan.

http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1233352608&archive=&start_from=&ucat=2&



[1]. .Media Massa. Jawa Pos. 29 Januari 2009.

[2].http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1233352608&archive=&start_from=&ucat=2&.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.118 pengikut lainnya.