Adab (Etika) Bangun Tidur

Rasulullah SAW bersabda : “ Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika kalian tidur. Ia pukulkan pada tiap  tempat ikatan itu ucapan “Malam masih panjang, tidur sajalah!”. Jika kalian bangun lalu berdzikir kepada Alloh, maka lepaslah satu ikatan. Jika kalian lanjutkan berwudhu’, maka terurailah ikatan yang kedua. Dan jika kalian sholat, maka lepaslah ikatan yang ketiga. Karenanya, pagi hari kalianpun bersemangat dan menjadi baik kondisi kejiwaan kalian. Sebaliknya jika tidak, kalianpun menjadi malas dan buruk kondisi jiwa kalian.” (HR. Bukhori Muslim)

Adapun adab (etika) setelah bangun tidur adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan doa kesyukuran kepada Allah s.w.t. kerana Allah masih memanjangkan umurnya untuk hidup. Mengucapkan ‘La Ilaha illa Allah’, lalu Alhamdulillah’ 3 kali, dan Alhamdulillahi alladzi ahyana ba`da ma amatana wa ilayhi an-nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita setelah kematian kita, dan kepada-Nyalah kita akan kembali). [Bukhari, Abu Dawud, dan lainnya]
  2. Jika bermimpi yang menggembirakan, maka diperbolehkan menceritakan kepada orang lain dan bila bermimpi yang tidak ia sukai, maka janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah dari tempat tidur lalu shalatlah (untuk memohon perlindungan kepada Allah) atau berinfak dengan niatan sebagai penolak bala`

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ فَبُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَحَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا تُعْجِبُهُ فَلْيَقُصَّهَا إِنْ شَاءَ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلاَ يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi r, beliau bersabda, “Ru’yah (mimpi) itu ada tiga jenis, kabar gembira (mimpi) dari Allah, kata hati (mimpi dari dalam diri orang yang bersangkutan) dan gangguan (mimpi) dari setan. Jika salah seorang kamu bermimpi yang menggembirakan, maka ia boleh menceritakan dan bila bermimpi sesuatu yang ia tidak sukai, maka janganlah ia menceritakan mimpi itu kepada orang lain, bangunlah dari tempat tidur lalu shalatlah (untuk memohon perlindungan kepada Allah)” (H.R. Muslim.

2. Menggosok muka dan mata dengan kedua tangan, untuk menghilangkan pengaruh dari tidur

3. Menggosok gigi, idealnya dengan siwak, sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud. kemudian berwudhu,

4. Merapikan tempat tidur

Waktu-waktu Tidur.

ýRasulullah saw bersabda, Lakukanlah tidur di siang hari, karena setan tidak melakukannya.

ý   Tidak disukai untuk tidur di pagi hari, dan di waktu Ashar dan Magrib dan antara Maghrib dan ‘Isya, karena biasanya dapat mengakibatkan terlewatnya shalat Magrib dan ‘Isya berjamaah.

ý  Sayyidina ‘Ali lebih menyukai untuk tidak tidur setelah ‘Isya sebelum tengah malam.

Tips Bangun Malam

  1. Kesampingkan sugesti bahwa bangun malam itu “sulit”
  2. Berniat kuat untuk bangun malam
  3. Perbanyak dzikir (terutama istighfar) sebelum tidur. Boleh jadi banyaknya dosa dan kealpaan diri menjadi factor sulitnya bangun malam
  4. Kenali kebiasaan lamanya kita istirahat tidur dalam setiap harinya. Sehingga kita bisa memperkirakan kapan kita harus beranjak tidur agar dapat bangun dini hari
  5. Sempatkan untuk sedikit tidur siang
  6. Tidak tidur dalam keadaan kenyang
  7. Aktifkan alarm

Tips  Mudah tidur:

  • Mandi air hangat pada malam hari
  • Minum susu, sari buah, atau teh hijau
  • Hindari tidur dalam suasana lapar atau kekenyangan
  • Matikan/redupkan lampu dan jauhkan diri dari peralatan pemancar elektromagnetik yang masih menyala (TV, laptop, dsb)
  • Lakukan aktifitas ringan yang dapat memancing kantuk seperti : membaca
  • Jadikan ruangan tidur hanya untuk istirahat, bukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Adab (Etika) Sebelum Tidur

Tidur bagi seorang muslim adalah ibadah jika memenuhi adab-adabnya. Tidur ideal yang memenuhi  standar kesehatan adalah 7 jam dalam sehari. Buat Jadwal waktu dan lama tidur. Disiplinkan diri dengan jadwal tersebut.

Hindari mengakhiri hari terlalu larut malam agar produksi melatonin (hormon yang diproduksi  dalam kondisi gelap yang berperan penting dalam menguatkan sistem pertahanan tubuh dan merupakan antioksidan yang sangat kuat) tetap terjaga yang berefek positif untuk tubuh kita.

Persiapan  Sebelum Tidur

  • Membersihkan diri dari dari najis dan kotoran (bersikat gigi, cuci tangan, cuci kaki dsb) dan sempurnakan dengan berwudhu’, dengan harapan, seandainya nyawa kita dicabut pada saat tidur, maka kita mati dalam keadaan bersih. Kegiatan menggosok gigi sebelum tidur sangatlah penting. Aktivitas otot kunyah (yang menggerakkan air ludah sehingga kuman-kuman lenyap) berhenti saat kita tidur. Jika otot kunyah tidak bekerja maka seyogyanya gigi dalam keadaan bersih, jika tidak, maka kuman berkumpul dan bereaksi terhadap gigi yang tidak bersih.
  • Membersihkan tempat tidur. Buat ruangan tidur senyaman mungkin untuk tidur (terhindar dari barang yang terserak, kebisingan, pencahayaan yang terang dan gelombang elektromagnetik yang masih aktif.) Rasulullah SAW bersabda : “Jangan kamu tinggalkan api di rumahmu ketika kamu tidur” (HR. Bukhori Muslim). Berdasarkan hadis tersebut, Nabi SAW  mengajarkan kita untuk hemat listrik, selain itu, efek tiadanya penerangan dikala tidur sangat bagus bagi kesehatan tubuh.
  • Sempatkan untuk menjadwal tugas-tugas yang akan dikerjakan pada keesokan harinya. Kegiatan ini dimaksudkan agar tidur malam nyenyak dan ketika bangun lebih semangat untuk beraktifitas
  • Lakukan introspersi/ perenungan diri atas segala aktifitas yang telah terlewati hari itu, agar aktifitas yang buruk tidak terulang kembali di kemudian hari.
  • Berniat bangun malam (untuk melaksanakan tahajud) dan memasrahkan diri sepenuhnya pada Alloh SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mau tidur dan berniat akan bangun melakukan sholat malam, lalu ia tertidur sampai pagi, maka akan dituliskan apa yang diniatkan itu sebagai sedekah untuk Tuhan” (HR Ibnu Majah dan Nasa’i)

  • Badan berbaring ke arah kanan. Rasulullah SAW bersabda : “jika engkau akan tidur, maka berwudhulah kemudian berbaring atas pinggang kanan..” (HR. Bukhori Muslim). Posisi yang demikian tidak menekan jantung, aliran darrah di dalam tubuh dapat berjalan dengan lebih lancar, sehingga sistem metabolisme tubuh meningkat dan terhindar dari rasa pegal.
  • Gunakan tangan kanan sebagai bantal di bawah pipi dan merenungkan dirinya seolah-olah ditempatkan dalam kubur, berbaring di sisinya, tanpa sesuatupun kecuali ditemani oleh  amal perbuatannya. Renungkan pula bahwa tidur adalah icip-icip kematian
  • Badan mengadap ke kiblat seperti kedudukan mayat dalam kubur.

 

Bacaan-bacaan Sebelum Tidur

Membaca surah-surah tertentu sewaktu hendak tidur. Rasulullah s.a.w. sebelum tidur membaca surah al-ikhlas, al-Falaq dan al-Nas dihembuskan bacaan itu di kedua belah tangannya dan digosok ke seluruh badannya (semampu tangan beliau menjangkaunya. Bacaan dan perbuatan ini beliau ulang sebanyak tiga kali berturut-turut.

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :

1.    Sebelum khatam Al Qur’an,

2.    Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,

3.    Sebelum para muslim meridloi kamu,

4.    Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh….

“Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasul tersenyum dan bersabda :

  1. Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.
  2. Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akanmemberi syafaat di hari kiamat.
  3. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
  4. Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”

Adab/Etika Ketika Bertamu

Diantara beberapa adab/etika bertamu ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:

  • Sebelum masuk rumah, ucapkan salam sambil mengatuk pintu
  • Ketuk pintu maksimal 3 kali. jika tidak ada sahutan, sebaiknya meninggalkan tempat tersebut atau bertanya keberadaan shohibul bait kepada tetangga sebelah.
  • Janganlah masuk rumah sebelum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah.karena mungkin tuan rumah belum siap dengan kedatangan kita  (belum berjilbab,dll)
  • Pulanglah jika tuan rumah tidak suka dengan kedatangan kita
  • Masuklah dengan kaki kanan sambil sambil menjabat tangan shohibbul bait jika muhrim atau sesama gender
  • Masuklah ke tempat yang dipersilahkan oleh tuan rumah, apabila ingin masuk ke ruangan yang lain (WC, Mushola dll), maka meminta izin terlebih dahulu dan jangan memaksa jika tidak diizinkan
  • Jangan duduk terlebih dahulu sebelum di persilahkan
  • Sebelum menyampaikan maksud kedatangan, bangun rapport (hubungan baik) dengan pemilik rumah. Misal: menanyakan kabar dll. terutama jika lama tidak bertemu
  • Sampaikan maksud kedatangan kita dengan kata yang sopan yang tidak menyakiti tuan rumah
  • Duduk dengan sopan, kaki tidak diangkat diatas kursi atau meja
  • Tidak bertindak semena-mena kepada pemilik rumah atau PRT (pembantu rumah tangga) rumah tersebut. Misal: minta dipijit, dibuatin kopi dsb
  • Memberi hadiah atau oleh-oleh itu lebih baik. Terutama jika kita jarang berkunjung ke rumah tersebut.
  • Pekalah terhadap perasaan tuan rumah. Misalnya: tuan rumah sedang lelah, ngantuk dll
  • Pelankan suara jika kita bertamu sampai larut malam sehingga tidak mengganggu istirahat anggota keluarga yang lain atau tetangga
  • Sebelum pulang, hendaklah pamit terlebih dahulu pada pemilik rumah dan mengucapkan salam

Jika hidangan datang………….

  • Jangan menikmati hidangan sebelum tuan rumah mempersilahkan untuk menikmatinya
  • Jika sudah dipersilahkan makan, maka ambil secukupnya sekiranya kita bisa menghabiskannya. Karena Alloh tidak menyukai sesuatu yang mubadzir
  • Janganlah lupa berdoa terlebih dahulu. Makanlah dengan sopan & pelan-pelan, jangan perlihatkan bahwa kita sedang kelaparan. Karena terkadang terkesan seperti rakus.
  • Jika yang disajikan makanan atau minuman yang ditakar (gelas atau mangkuk) usahakan di habiskan kecuali jika kita benar-benar sudah tidak mampu menghabiskannya.
  • Jika hidangan yang disajikan adalah makanan pantangan, sampaikanlah kepada pemilik rumah. Itu lebih baik daripada tidak mencicipinya sama sekali tanpa alasan.
  • Jika yang disajikan tidak enak, jangan perlihatkan reaksi tidak enak tersebut. Karena ini akan  lebih menjaga perasaan tuan rumah
  • Pujilah dan berterima kasihlah dengan hidangan dari shohibul bait walaupun hanya sebutir permen
  • Jagalah kebersihan. Jangan biarkan sampah makanan kita bertebaran di sekitar ruangan

Waktu bertamu yang baik…….

  • Bertamu pada waktu santai.pagi: diatas jam 8, malam:setelah maghrib sampai jam 9 malam. Terutama jika bertamu ke kost2an putri
  • Boleh bertamu pada jam sibuk / istirahat apabila sangat penting dan tentunya atas kesepakatan tuan rumah

 

disusun oleh:

Lhatifah Nur Khayati (Anggota divisi Seni, Kreativitas dan Olahraga, Risma Al-Qomar)

Adab/Etika Membaca Al-Qur’an (Mengaji)

Menurut Imam Ghazali dan Jaluddin As Suyuti:

  1. Membersihkan mulut dan gigi terlebih dahulu (kumur dan bersikat gigi/bersiwak)
  2. Berwudhu, mengingat yang akan dibaca adalah Kalam Ilahi
  3. Berpakaian rapi dan menutup aurat
  4. Membaca di tempat yang bersih dan Masjid adalah tempat yang utama
  5. Menghadap kiblat
  6. Mengambil Al-Qur`an dengan tangan kanan
  7. Berniat ibadah karena Alloh SWT serta berniat mengamalkan dan menyebarkan pesan al-Qur`an dengan semampunya
  8. Membaca taawudz dan Basmalah
  9. Membaca dengan pelan (tartil) dan tidak tergesa-gesa (dengan tajwid yang benar)
  10. Membaguskan suara ketika membacanya. Boleh membaca dengan dikeraskan, tetapi lebih baik dipelankan (terdengar oleh sendiri)
  11. Membaca Al-Qur’an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalamnya.
  12. Tidak membaca al-Qur`an sambil mengunyah makanan atau  makan
  13. Tidak memotong bacaan dengan kegiatan lain
  14. Setelah selesai membaca al-Qur’an membaca “shadaqallaahul ’azhiim”
  15. Membaca doa senandung al-Qur`an
  16. Al-Quran ditaruh di tempat yang tinggi dengan niatan memuliakan Kitab suci.

Sumber:

Kitab Minhajul Muslim

At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Qur’an

Etika Memakai Handphone (HP)

Disilent ketika:

  • Beribadah (sholat, ngaji, mendengarkan khutbah/pengajian)
  • Berada di tempat ibadah
  • Dalam aktifitas belajar dan mengajar
  • Rapat
  • Menghadiri acara-acara khidmat (pernikahan, ta`ziah, silaturrahim)

Adab mengangkat telpon

  • Tengok kanan kiri dan meminta izin orang didekat kita untuk mengangkat telpon
  • Beranjak menjauh dari orang-orang yang ada didekat kita (1. Agar orang tidak terganggu dengan percakapan kita di telpon. 2. Agar pembicaraan kita tidak di dengar oleh orang lain, sehingga kita nyaman berkomunikasi)
  • Jika tidak memungkinkan untuk berpindah tempat, maka berbicaralah dengan menelungkupkan telapak tangan di depan mulut)
  • Pastikan dengan siapa kita berbicara. Hendaknya tidak melayani panggilan dari private number
  • Baca Basmalah sebelum mengangkat telpon agar komunikasi membawa berkah

 

Adab berbicara di telpon

  • Dahului pembicaraan dengan salam sebagai doa kesejahteraan
  • Gunakan bahasa yang santun.
  • Bicara seperlunya sekalipun banyak pulsa karena sabda Nabi “ tidak ada kebaikan dalam pemborosan dan tidak ada pemborosan dalam kebaikan”. Faktanya, seringkali pemborosan pembicaraan + pemborosan pulsa tidak kita sadari.
  • Hindari berbicara panjang lebar/ bertele-tele/ iseng  dengan orang asing
  • Tidak memutus/ mengakhiri pembicaraan terlebih dahulu jika posisi kita sebagai pihak penerima telpon, kecuali jika ada kepentingan yang lebih utama. Jika hal ini terjadi (kita terpaksa harus mengakhiri pembicaraan), jangan lupa untuk memohon pengertian dan meminta maaf kepada si penelepon.

 

Adab SMS

  • Tunda untuk membalas sms pada saat aktivitas penting berlangsung (sedang rapat, pengajian, belajar/mengajar dalam kelas). Jika tidak memungkinkan (harus secepatnya dibalas) maka lebih baik izin beberapa saat untuk meninggalkan tempat.
  • Baca basmalah sebelum SMS maupun membalas SMS
  • Dahului sms dengan doa kesejahteraan (salam)
  • Jangan lupa untuk meminta maaf, jika terlambat/ tertunda dalam membalas SMS
  • Pahami, dengan siapa kita ber-SMS, kemudian sesuaikan dalam penggunaan bahasa dan susunan hurufnya. Jangan sampai guru/ortu kita menerima SMS yang menggunakan bahasa gaul, penuh singkatan dan huruf tak beraturan, yang semuanya itu menyulitkan beliau dalam membaca dan memahami isi SMS.

 

Hindarkan HP kita dari sampah (menyimpan situs porno, gambar/foto yang tidak layak, bluetooth hal-hal yang tak bermanfaat, menyimpan kata-kata jorok dsb) dan dari aktifitas yang menjadikan kita bernilai sampah (ngerjain/mengganggu ketentraman orang lain, menipu, berbohong, ingkar janji, mengumpat, mengakses apapun yang tidak layak dari sudut pandang agama dan etika.

 

Hindarkan diri dari aktifitas yang mengesankan “pamer HP”, membuka HP orang lain tanpa seizin pemiliknya, lengah HP serta ber-HP saat berkendaraan dan di dalam kamar mandi.

 

 

Perilaku ber-HP kita,

akan menentukan nilai kepribadian kita di mata masyarakat

 

Karakteristik Keberagamaan Pada Anak

Religiositas (keberagamaan) adalah suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada Suatu Dzat pencipta manusia, menumbuhkan rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-aturan-Nya ( Clark, 1958, hal 22).

Religiousitas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia ( Clark, 1958, hal. 85). Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada prilaku sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja dan dewasa. Masing-masing fase perkembangan memiliki kekhasan dalam sifat serta peranannya terhadap keseluruhan perkembangan religiositas.

Perkembangan religiositas usia anak mempunyai peran yang sangat penting, baik bagi perkembangan religiositas pada usia anak itu sendiri maupun usia selanjutnya. Penanaman nilai-nilai keagamaan; menyangkut konsep tentang ketuhanan, ritual ibadah dan nilai moral yang berlangsung semenjak usia dini, akan mampu mengakar secara kuat dan membawa dampak yang signifikan pada diri seseorang sepanjang hidupnya ( Hurlock, 1978, hal.26). Hal ini dapat terjadi karena pada usia dini tersebut, seorang anak belum mempunyai konsep-konsep dasar yang dapat digunakan untuk menolak ataupun menyetujui segala pengetahuan yang masuk pada dirinya. Oleh karena itu, nilai-nilai  agama yang ditanamkan pada anak usia dini, akan menjadi warna pertama dan utama dari dasar konsep diri seorang anak. Pada proses selanjutnya nilai-nilai agama yang telah terinternalisasikan tersebut akan menjadi conscience ( kata hati ) yang  menjadi dasar penilaian dan penyaringan terhadap nilai-nilai yang masuk pada diri anak di usia remajanya kelak ( Clark, 1958, hal.91 ).

Karakteristik Keberagamaan Pada  Anak

Perkembangan religiositas pada usia anak memiliki karakteristik tersendiri. Mengenai hal ini Clark ( 1958, hal. 10-22) menyampaikan pendapat dari dua pendahulunya. Pertama, pendapat Harms tentang fase perkembangan konsep Tuhan pada anak, yang terdiri dari tiga fase yaitu fairy tale stage, realistic stage dan indivualistic stage. Kedua, Clark mengembangkan pendapat Alport ( 1950, hal.32-34 ) yang menyatakan adanya dua karakteristik perkembangan religiositas anak, yaitu egeocentricism dan anthropomorphism. Clark menyampaikan delapan karakteristik, yaitu ideas accepted on authority, unreflective, egocentric, anthropomorphic, verbalized and ritualistic, imitative, spontaneous in some resprct, windering ( 1958, hal. 14-22 ).

Pada teori Harms dinyatakan bahwa pemahaman anak tentang Tuhan mengalami tiga fase, yakni;

  1. Fase fairy tale stage (3-6 tahun.) Pada fase ini anak memahami tentang Tuhan lebih dipengaruhi oleh daya fantasi dan emosinya daripada sifat rasional. Penanaman rasa Ketuhanan diusahakan mampu mengembangkan fantasi anak tentang ke-Maha-an sifat-sifat Tuhan serta kecintaan dan ketaatan anak terhadap Tuhan, terutama dikaitkan dengan masalah yang dekat dengan kehidupan anak.
  2. Fase realistic stage (7-12 tahun.) Pada fase ini anak mampu memahami konsep Ketuhanan secara realistik dan konkrit. Pemahaman melalui hubungan sebab akibat misalnya, akan membentuk kecintaan dan keyakinan anak terhadap Tuhan.
  3. Fase individualistic stage (terjadi pada usia remaja.) Dua situasi jiwa yang mendukung perkembangan rasa ketuhanan pada usia ini adalah kemampuannya untuk berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya. Pemahaman Ketuhanan pada remaja dapat ditekankan pada makna dan keberadaan Tuhan bagi kehidupan manusia.

Adapun rumusan Clark tentang delapan karakteristik religiositas pada anak, meliputi;

a) Ideas accepted on authority.

Semua pengetahuan yang dimiliki anak adalah datang dari luar dirinya, terutama dari orangtuanya. Semenjak lahir anak sudah terbentuk untuk mau menerima dan terbiasa mentaati apa yang disampaikan orangtua. Dampak yang muncul kemudian adalah timbulnya rasa senang dan rasa aman dalam diri anak. Maka nilai-nilai agama yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa pengganti orang tua dengan sendirinya akan terekam dan melekat pada anak. Dalam hal ini maka orangtua mempunyai otoritas yang kuat untuk membentuk religiositas anak

b) Unreflective.

Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas. Jarang terdapat anak yang melakukan perenungan (refleksi) terhadap konsep keagamaan yang diterima. Pengetahuan agama yang diterima oleh anak usia dini akan dirasakan sebagai suatu yang menyenangkan bagi anak, jika dikemas (disampaikan) dalam bentuk yang menyenangkan. Oleh karena itu konsep tentang nilai-nilai keagamaan dapat sebanyak mungkin diberikan pada anak, yang  disampaikan dalam bentuk dongeng yang menarik, bernyanyi dan aneka permainan.

c) Egocentric.

Mulai usia sekitar 1 tahun, terkembangkan pada diri anak kesadaran tentang keberadaan dirinya. Dalam proses pembentukan rasa “pentingnya keberadaan diri”, tumbuhlah egocentrisme, di mana anak melihat lingkungannya dengan berpusat pada kepentingan dirinya. Maka pemahaman religiositas anak juga di dasarkan pada kepentingan diri tentang masalah keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama sebaiknya lebih dikaitkan pada kepentingan anak, misalnya ketaatan ibadah dikaitkan dengan kasih sayang Tuhan terhadap dirinya.

d) Anthropomorphic.

Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia. Dalam hal ketuhanan, anak akan mengkaitkan sifat-sifat  Tuhan dengan sifat manusia, sehingga manusialah sebagai ukuran bagi sesuatu yang lain. Oleh karena itu dalam pengenalan sifat-sifat Tuhan kepada anak sebaiknya ditekankan tentang perbedaan sifat antara manusia dan Tuhan.

e) Verbalized and ritualistic.

Perilaku keagamaan pada anak – baik yang menyangkut ibadah maupun moral – semuanya masih bersifat lahiriyah, verbal dan ritual, tanpa keinginan untuk memahami maknanya. Anak sekedar meniru dan melaksanakan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang dewasa. Akan tetapi bila perilaku keagamaan itu dilakukan secara terus menerus dan penuh minat akan membentuk suatu rutinitas perilaku yang sulit untuk  ditinggalkan. Pada waktu anak memasuki usia remaja baru akan muncul keinginan untuk mengetahui makna dan fungsi dari apa yang selama ini dilakukannya. Oleh karena itu pendidikan agama perlu menekankan pembiasaan perilaku dan pembentukan minat untuk melakukan perilaku keagamaan.

f) Imitative.

Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah meniru apa yang terserap dari lingkungannya. Demikian juga dalam perilaku keagamaan. Anak mampu memiliki perilaku keagamaan karena menyerap secara terus menerus perilaku keagamaan dari orang-orang terdekatnya, terutama orangtua dan anggota keluarga yang lain. Daya sugesti dan sikap positif orangtua terhadap perilaku yang telah dilakukan, juga akan memperkuat aktivitas anak dalam berperilaku keagamaan. Oleh karena itu menempatkan anak dalam lingkungan beragama menjadi prasyarat terbentuknya religiositas anak.

g) Spontaneous in some respect.

Berbeda dengan sifat imitative anak dalam melakukan perilaku keagamaan, kadang-kadang muncul perhatian secara spontan terhadap masalah keagamaan yang bersifat abstrak. Misalnya tentang surga, neraka, tempat Tuhan berada, atau yang lainnya. Keadaan tersebut perlu mendapat perhatian dari orangtua atau pendidik agama. Pertanyaan-pertanyaan spontan itulah sebenarnya permulaan munculnya tipe primer pengalaman religiositas yang dapat berkembang.

h) Wondering.

Ini bukan jenis ketakjuban yang mendorong munculnya pemikiran kreatif dalam arti intelektual, tetapi sejenis takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka di depannya. Bagi anak usia antara 3-6 tahun, seringkali kejadian  sehari-hari yang dianggap biasa oleh orang dewasa dapat menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi anak, misalnya keramaian lalu lintas, susunan kaleng warna-warni di toko dan lain sebagainya. Suasana ketakjuban dan kegembiraan ini masih dapat terbawa pada usia dewasa, ketika seseorang memproyeksikan ide-idenya mengenai Tuhan dan ciptaan-Nya serta menemukan rasa ketakjuban di sana. Pada anak rasa takjub ini dapat menimbulkan ketertarikan pada cerita-cerita keagamaan yang bersifat fantastis misalnya peristiwa mukjizat pada sejarah Nabi-nabi, serta cerita kehebatan para sahabat dan pahlawan Islam. Peristiwa-peristiwa itu akan berkembang bebas dalam alam fantasi anak yang akan dapat menjadi dasar kekaguman dan kecintaan pada Nabi dan sifat-sifat beliau.

*Oleh: Dra. Nadlifah, M. Pd (pembimbing Risma Al-Qomar)

Daftar Kepustakaan

Allport, G. W., (1950). The Individual and His Religion. New York : MacMillan Publishing Co., Inc.

Clark, W. H., (1958), The Psychology of Religion. New York : The Mac Millan Company.

Hurlock, E.B.,(1978), Child Development New York: McGraw- Hill Book Company, Inc.

Inspirasi Dan Apresiasi Islam Dalam Budaya Dan Seni

PENDAHULUAN

Budaya atau kebudayaan dipahami sebagai tri potensi manusia, yakni berfikir, berkemauan dan berperasaan yang terjelma dalam kumpulan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah sosial dan kesenian. Dalam pengertian ini tergambar adanya proses yang menjadikan manusia – individu dan masyarakat sebagai wadah pembentukan potensi yaag dijelmakan dalam bentuk logika, etika dan estetika.

Sedang inspirasi dan apresiasi Islam dimaksudkan bagaimana nilai-nilai Islami memberi ilham dan semangat dalam budaya dan sastra lokal, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabatnya berhadapan dengan budaya global di suatu kawasan tertentu, misalnya budaya lokal pada setiap suku yang mayoritas penganut Islam di Indonesia.

Oleh karena itu, perlu adanya pelestarian dalam hal aplikasi seni budaya. Pada taraf global budaya sangat menentukan cirri khas, bahkan menunjukkan identitas suatu daerah tertentu. Maka dari itu, masyarakat secara bersama dan individu harus menjadi agen tunggal yang menjadi proses penyebaran budaya sekaligus mempertahankan eksistensi keberadaan budaya itu sendiri.

PEMBAHASAN

Manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan lingkungannya. Ikatannya adalah kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar dimungkinkan karena dalam kebudayaan terdapat sejumlah kaidah, aturan dan kategori, yang dapat diketahui melalui pengalaman dan pengamatan terhadap Ungkungan sosial. Selanjutnya, pencocokan dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebehunnya, dan akhimya interpretasi dengan kembali mengadakan sistematisasi dan kategorisasi.

Dalam proses analisis dan interpretasi, manusia selalu dihadapkan dengan “model pengetahuan” yang telah diketahui terlebih dahulu. Model pengetahuan ini memiliki variasi beraneka ragam, terkait dengan keragaman pengalaman dan pengamatan terhadap lingkungan sosial. Kaitan atau hubungan antara model-model pengetahuan membentuk sistem dan pola pikir. Inilah yang merupakan hakekat kebudayaan.

Manusia dapat membedakan kategori-katogori dari setiap model dan sistem dalam pola pikir melalui simbol. Simbol itu berwujud   “bahasa yang diketahui secara bersama dan tersebar luas. Misalnya masjid, pasar dan nightclub adalah simbol, ada modelnya dalam pola pikir manusia.

Masjid sebagai simbol dapat menjadi referensi sistem religi – tempat shalat, juga sistem teknologi – arsitektur. Demikian pula pasar dan nightclub adalah simbol untuk sistem ekonomi dan estetika, tersendiri atau kedua-duanya sekaligus.[1]

Integrasi Nilai-nilai Wahyu dalam Kebudayaan

Nilai-nilai budaya dalam keyakinan umat Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad sebagai hudan — petunjuk — bagi manusia untuk kebahagiaan hidupnya dunia-akhirat. Sunnah juga merupakan wahyu (QS. 53:1-11), meskipun untuk menyakini kewahyuannya diperlukan proses pentarjihan kesahihan sanad maupun matannya.

Budaya dan nilai-nilai Islami dapat saling isi dan karena kesamaan unsur   esensial. Esensi budaya adalah-pengetahuan, sedang sumber utama nilai-nilai Islam juga “pengetahuan” yang dapat mengendap dalam pola dan tata yang berfungsi untuk merespons setiap stimulus dari lingkungan sosial, melalui simbol-simbol bahasa.

Namun, bagi umat Islam karena sumber wahyu bersifat transendental maka diimani mutlak kebenarannya (QS. 3:60); sedang sumber budaya adalah manusia sendiri yang ada dalam dinamika perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, wahyu menjadi rujukan dalam pengembangan kebudayaan. Titik temu ini membawa integrasi wahyu dalam kebudayaan. Proses integrasi terjadi ketika penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan pensyarahan as-Sunnah ash-Shahihah dengan menggunakan metode dan sistematika disiplin ilmu tertentu dalam rangka inereson problem hidup dari berbagai aspeknya.

Apresiasi Islam terhadap Kebudayaan

Sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifah-Nya di dunia ini. Manusia terbagi dalam dua kelompok, sebagian mukmin dan sebagian kafir (QS. 64:2). Namun tidak analog bahwa umat Islam melahirkan budaya Islam, sedang yang kafir melahirkan budaya kafir. Wahyu terintegrasi dalam kebudayaan sejak manusia menghuni bumi ini, sampai kiamat; sedang manusia mukmin dan non mukmin terlahir baik selaku individu maupun sebagai umat, pada gilirannya berhadapan dengan ajal dan kematian (QS. 6:60; 7:43).

Inspirasi dan apresiasi nilai Islam ini dihadapkan pada arus perubahan sosial dan tantangan “budaya global” yang cukup berpengaruh. Arus perubahan yang paling menonjol antara lain:

1. Perubahan dari era agraris yang tradisional ke era industri mod­ern. Meskipun di Barat perubahan ini dimulai awal abad ke. 20, namun pengaruhnya di Indonesia dirasakan kemudian pada awal pemerintahan Orde Baru, yakni sekitar tahun 65-an.

2. Setelah Perang Dunia II, terjadi pergeseran antara kekuatan kolektif, nation-state, dan kekuatan individu, negara dikuasai konglomerasi. Pengaruh ini dirasakan di Indonesia pada masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru, tepatnya dekade 90-an.

3. Menjelang abad 21 (millineum III), terjadi pergeseran dari ideologi negara dan ideologi individu ke arah ideologi global yang pada gilirannya membuat batas-batas negara menjadi semakin longgar dan memberi peluang terbentuknya “budaya global”. Pengaruh ini juga dirasakan di Indonesia sejalan dengan arus reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru sejak Mei 1998.

Cita-cita perubahan ke arah ideologi global ini. arusnya dapat dilihat pada:

1. Terbukanya berbagai kesempatan untuk kegiatan interaksi secara global baik di bidang ekonomi, perdagangan, industri, dan jasa, maupun di bidang pendidikan dan kebudayaan.

2. Tumbuhnya bentuk-bentuk kerja sama antara bangsa-bangsa pada tingkat internasional dan regional, dengan melibatkan seluruh wilayah negara di bidang ekonomi, maupun bidang sosial budaya.

3.  Terjadinya strukturisasi yang mencakup wilayah kawasan dunia sebagai, satu keseluruhan global baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Dengan ciri-ciri utama seperti disebutkan di atas, mendorong bangsa-bangsa di dunia cepat atau lambat, menjalani proses perubahan menuju suatu budaya global.

Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya”: “Siapa yang tidak terkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.[2]

Quraish Shihab berpendapat: “Mengabaikan sisi-sisi keindahan di alam raya ini, berarti mengabaikan salah satu sisi dari bukti keesaan Allah; dan dengan demikian mengekspresikannya dapat merupakan upaya membuktikan kebesaran-Nya. Tidak kalah – kalau enggan berkata lebih kuat — daripada upaya membuktikannya dengan akal fikiran melalui dakwah lisan atau tulisan. Islam adalah agama fitrah.

Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya. Seni adalah fitrah; kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian manusia selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia vang suci itu. Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.[3]

Kontekstualisme Ajaran Islam tentang Seni

Sebenarnyalah, dalam literatur Islam klasik pernah dipersoalkan seni rupa yang obyeknya adalah makhluk bernyawa, manusia atau binatang. Terdapat kekhawatiran “menjadi penyebab kemusyrikan”. Oleh karena itu, seniman penciptanya sangat dicela dengan ancaman bakal diminta untuk meniupkan ruh pada karyanya itu.

Sementara itu, kolektor penikmat seni rupa “mahluk bernyawa” diancam, rumahnya tak akan dimasuki Malaikat pembawa rahmat, begitu pula dengan dipersoalkan tentang seni suara, yang dipandang sebagai lahw al-hadiih yang diartikan sama dengan nyanyian yang tidak berguna, karena menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuannya (QS. Luqman, 31:6). Namun, persoaian ini dapat ditemukan jalan penyelesaiannya melalui analisis kontekstual, rasional dan estetika terhadap kedua obyek seni tersebut.

Di antara berbagai cabang kesenian, seni rupa merupakan” kesenian yang paling jelas dan paling sederhana. Dengan mengandalkan pendekatan visual dan peradaban, seni rupa langsung menggambarkan sisi paling konkrit suatu karya artistic di lingkungan alam sekitarnya.

Pada dasarnya, seni rupa bertolak dari asumsi bahwa manusia normal itu dapat memberi reaksi terhadap bentuk, permukaan, massa, volume dan sebagainya dari hal-hal yang ia hadapi. Dalam suasana tertentu, dengan didukung oleh pengalaman subjektif, suatu bentuk dapat memancing sensasi, kesan dan pengalaman dalam perasaan. Hubungan-hubungan tersebut membangun citra tentang keindahan yang memberi rasa bahagia.

Dengan demikian, penolakan al-Qur’an bukan tertuju pada basil karya seni rupa yang berupa patung tersebut, tetapi pada kemusyrikan dan penyembahan terhadapnya.

Demikan pula penolakan al-Qur’an terhadap lahw al-hadfth, dan ayat yang semakna dengannya, bukan karena keindahan olah vokal dan alat-alat instrumen yang menyertainya, tetapi pada kata atau kalimat yang tidak berguna yang menjadi alat “komunikasi” untuk menyesatkan manusia, membangkitkan syahwat untuk berbuat .maksiat dan menebar fitnah serta permusuhan.

Selanjutnya, al-Qur’an memberi isyarat bahwa menikmati nyanyian dan   instrumen pengiringnya yang merdu dapat dikategorikan sebagai at-tayyibat min ar-rizq, sesuatu yang baik dan indah dari yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan zinatallah mengandung isyarat bahwa hiasan dari Allah  sebagai sesuatu yang mengandung nilai yang mencakup semua cabang kesenian (QS. 7:32).

Sekarang, ketika kekhawatiran itu dapat diantisipasi, dan obyek seni rupa dan seni buaru selain menjadi komoditi ekonomi yang bernilai tinggi, juga dapat dijadikan “media estetika” mendekatkan diri pada keindahan, yang pada gilirannya mengarahkan kepada kedekatan dengan Allah. Sebagian besar ulama di abad modern ini memfatwakan  kebolehan  melukis, dan   mematung  makhluk bernyawa serta menfatwakan kebolehan seni suara, seni tari serta instrumen yang menyertainya.

Dalam dataran ini pula diletakkan konteks inspirasi dan apresiasi nilai Islam dalam budaya lokal yang sementara bergelut menghadapi budaya global. Selama tidak terjebak dalam “lahw al-hadith”, selama itu pula budaya lokal dapat diekspresikan pada setiap cabang seni dan budaya.

PENUTUP

Mengingat manusia sepanjang hayat sejarahnya berada dalam budaya pluralis yang membedakan antara satu bangsa (etnis) dan bangsa lain, dan juga membedakan antara satu pemeluk agama (kepercayaan) dengan pemeluk agama lain, dan bahkan antara generasi pewaris dan generasi penerus, maka globalisasi sebagai proses yang dihadapkan pada peristiwa lintas budaya dengan beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama, pertemuan antar budaya yang member peluang terjadinya proses saling mempengaruhi antara satu system budaya dengan system budaya lain.

Kedua, pertemuan antar system budaya tidak saja berlangsung melalui proses dua arah, timbal balik, dan berimbang, tapi seringnya terjadi budaya mayoritas yang dominan menekan budaya minoritas yang tersisih

Ketiga, pada banyak peristiwa, budaya-budaya dari Negara berkembang bersikap terbuka untuk menerima pengaruh dari budaya lain.

Oleh karena itu, sebagai pelaku budaya dan sekaligus objek budaya, ada keharusan untuk senantiasa mendorong proses budaya agar mampu bertahan di dunia global yang mulai merebak penyebaran budaya asing.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafid, M. Rodhi. 2003. Agama dan Plurallitas Budaya Lokal. Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Al Ghazali.1981. Ihya Ulum ad-Din. Kairo: Dar al-Kuttab.

Shihab, M. Quraish. 1995. Islam dan Kesenian. Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan.


[1] M. Rodhi al-Hafid, Agama dan Plurallitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi Budaya dab Perubahan Sosial, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hal. 187-188.

[2] Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Kairo: Dar al-Kuttab, 1981), hal. 1131

[3] M. Quraish Shihab, Islam dan Kesenian, (Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan, 1995), hal 2-3

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.120 pengikut lainnya.