Karakteristik Keberagamaan Pada Anak


Religiositas (keberagamaan) adalah suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada Suatu Dzat pencipta manusia, menumbuhkan rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-aturan-Nya ( Clark, 1958, hal 22).

Religiousitas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia ( Clark, 1958, hal. 85). Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada prilaku sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja dan dewasa. Masing-masing fase perkembangan memiliki kekhasan dalam sifat serta peranannya terhadap keseluruhan perkembangan religiositas.

Perkembangan religiositas usia anak mempunyai peran yang sangat penting, baik bagi perkembangan religiositas pada usia anak itu sendiri maupun usia selanjutnya. Penanaman nilai-nilai keagamaan; menyangkut konsep tentang ketuhanan, ritual ibadah dan nilai moral yang berlangsung semenjak usia dini, akan mampu mengakar secara kuat dan membawa dampak yang signifikan pada diri seseorang sepanjang hidupnya ( Hurlock, 1978, hal.26). Hal ini dapat terjadi karena pada usia dini tersebut, seorang anak belum mempunyai konsep-konsep dasar yang dapat digunakan untuk menolak ataupun menyetujui segala pengetahuan yang masuk pada dirinya. Oleh karena itu, nilai-nilai  agama yang ditanamkan pada anak usia dini, akan menjadi warna pertama dan utama dari dasar konsep diri seorang anak. Pada proses selanjutnya nilai-nilai agama yang telah terinternalisasikan tersebut akan menjadi conscience ( kata hati ) yang  menjadi dasar penilaian dan penyaringan terhadap nilai-nilai yang masuk pada diri anak di usia remajanya kelak ( Clark, 1958, hal.91 ).

Karakteristik Keberagamaan Pada  Anak

Perkembangan religiositas pada usia anak memiliki karakteristik tersendiri. Mengenai hal ini Clark ( 1958, hal. 10-22) menyampaikan pendapat dari dua pendahulunya. Pertama, pendapat Harms tentang fase perkembangan konsep Tuhan pada anak, yang terdiri dari tiga fase yaitu fairy tale stage, realistic stage dan indivualistic stage. Kedua, Clark mengembangkan pendapat Alport ( 1950, hal.32-34 ) yang menyatakan adanya dua karakteristik perkembangan religiositas anak, yaitu egeocentricism dan anthropomorphism. Clark menyampaikan delapan karakteristik, yaitu ideas accepted on authority, unreflective, egocentric, anthropomorphic, verbalized and ritualistic, imitative, spontaneous in some resprct, windering ( 1958, hal. 14-22 ).

Pada teori Harms dinyatakan bahwa pemahaman anak tentang Tuhan mengalami tiga fase, yakni;

  1. Fase fairy tale stage (3-6 tahun.) Pada fase ini anak memahami tentang Tuhan lebih dipengaruhi oleh daya fantasi dan emosinya daripada sifat rasional. Penanaman rasa Ketuhanan diusahakan mampu mengembangkan fantasi anak tentang ke-Maha-an sifat-sifat Tuhan serta kecintaan dan ketaatan anak terhadap Tuhan, terutama dikaitkan dengan masalah yang dekat dengan kehidupan anak.
  2. Fase realistic stage (7-12 tahun.) Pada fase ini anak mampu memahami konsep Ketuhanan secara realistik dan konkrit. Pemahaman melalui hubungan sebab akibat misalnya, akan membentuk kecintaan dan keyakinan anak terhadap Tuhan.
  3. Fase individualistic stage (terjadi pada usia remaja.) Dua situasi jiwa yang mendukung perkembangan rasa ketuhanan pada usia ini adalah kemampuannya untuk berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya. Pemahaman Ketuhanan pada remaja dapat ditekankan pada makna dan keberadaan Tuhan bagi kehidupan manusia.

Adapun rumusan Clark tentang delapan karakteristik religiositas pada anak, meliputi;

a) Ideas accepted on authority.

Semua pengetahuan yang dimiliki anak adalah datang dari luar dirinya, terutama dari orangtuanya. Semenjak lahir anak sudah terbentuk untuk mau menerima dan terbiasa mentaati apa yang disampaikan orangtua. Dampak yang muncul kemudian adalah timbulnya rasa senang dan rasa aman dalam diri anak. Maka nilai-nilai agama yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa pengganti orang tua dengan sendirinya akan terekam dan melekat pada anak. Dalam hal ini maka orangtua mempunyai otoritas yang kuat untuk membentuk religiositas anak

b) Unreflective.

Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas. Jarang terdapat anak yang melakukan perenungan (refleksi) terhadap konsep keagamaan yang diterima. Pengetahuan agama yang diterima oleh anak usia dini akan dirasakan sebagai suatu yang menyenangkan bagi anak, jika dikemas (disampaikan) dalam bentuk yang menyenangkan. Oleh karena itu konsep tentang nilai-nilai keagamaan dapat sebanyak mungkin diberikan pada anak, yang  disampaikan dalam bentuk dongeng yang menarik, bernyanyi dan aneka permainan.

c) Egocentric.

Mulai usia sekitar 1 tahun, terkembangkan pada diri anak kesadaran tentang keberadaan dirinya. Dalam proses pembentukan rasa “pentingnya keberadaan diri”, tumbuhlah egocentrisme, di mana anak melihat lingkungannya dengan berpusat pada kepentingan dirinya. Maka pemahaman religiositas anak juga di dasarkan pada kepentingan diri tentang masalah keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama sebaiknya lebih dikaitkan pada kepentingan anak, misalnya ketaatan ibadah dikaitkan dengan kasih sayang Tuhan terhadap dirinya.

d) Anthropomorphic.

Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia. Dalam hal ketuhanan, anak akan mengkaitkan sifat-sifat  Tuhan dengan sifat manusia, sehingga manusialah sebagai ukuran bagi sesuatu yang lain. Oleh karena itu dalam pengenalan sifat-sifat Tuhan kepada anak sebaiknya ditekankan tentang perbedaan sifat antara manusia dan Tuhan.

e) Verbalized and ritualistic.

Perilaku keagamaan pada anak – baik yang menyangkut ibadah maupun moral – semuanya masih bersifat lahiriyah, verbal dan ritual, tanpa keinginan untuk memahami maknanya. Anak sekedar meniru dan melaksanakan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang dewasa. Akan tetapi bila perilaku keagamaan itu dilakukan secara terus menerus dan penuh minat akan membentuk suatu rutinitas perilaku yang sulit untuk  ditinggalkan. Pada waktu anak memasuki usia remaja baru akan muncul keinginan untuk mengetahui makna dan fungsi dari apa yang selama ini dilakukannya. Oleh karena itu pendidikan agama perlu menekankan pembiasaan perilaku dan pembentukan minat untuk melakukan perilaku keagamaan.

f) Imitative.

Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah meniru apa yang terserap dari lingkungannya. Demikian juga dalam perilaku keagamaan. Anak mampu memiliki perilaku keagamaan karena menyerap secara terus menerus perilaku keagamaan dari orang-orang terdekatnya, terutama orangtua dan anggota keluarga yang lain. Daya sugesti dan sikap positif orangtua terhadap perilaku yang telah dilakukan, juga akan memperkuat aktivitas anak dalam berperilaku keagamaan. Oleh karena itu menempatkan anak dalam lingkungan beragama menjadi prasyarat terbentuknya religiositas anak.

g) Spontaneous in some respect.

Berbeda dengan sifat imitative anak dalam melakukan perilaku keagamaan, kadang-kadang muncul perhatian secara spontan terhadap masalah keagamaan yang bersifat abstrak. Misalnya tentang surga, neraka, tempat Tuhan berada, atau yang lainnya. Keadaan tersebut perlu mendapat perhatian dari orangtua atau pendidik agama. Pertanyaan-pertanyaan spontan itulah sebenarnya permulaan munculnya tipe primer pengalaman religiositas yang dapat berkembang.

h) Wondering.

Ini bukan jenis ketakjuban yang mendorong munculnya pemikiran kreatif dalam arti intelektual, tetapi sejenis takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka di depannya. Bagi anak usia antara 3-6 tahun, seringkali kejadian  sehari-hari yang dianggap biasa oleh orang dewasa dapat menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi anak, misalnya keramaian lalu lintas, susunan kaleng warna-warni di toko dan lain sebagainya. Suasana ketakjuban dan kegembiraan ini masih dapat terbawa pada usia dewasa, ketika seseorang memproyeksikan ide-idenya mengenai Tuhan dan ciptaan-Nya serta menemukan rasa ketakjuban di sana. Pada anak rasa takjub ini dapat menimbulkan ketertarikan pada cerita-cerita keagamaan yang bersifat fantastis misalnya peristiwa mukjizat pada sejarah Nabi-nabi, serta cerita kehebatan para sahabat dan pahlawan Islam. Peristiwa-peristiwa itu akan berkembang bebas dalam alam fantasi anak yang akan dapat menjadi dasar kekaguman dan kecintaan pada Nabi dan sifat-sifat beliau.

*Oleh: Dra. Nadlifah, M. Pd (pembimbing Risma Al-Qomar)

Daftar Kepustakaan

Allport, G. W., (1950). The Individual and His Religion. New York : MacMillan Publishing Co., Inc.

Clark, W. H., (1958), The Psychology of Religion. New York : The Mac Millan Company.

Hurlock, E.B.,(1978), Child Development New York: McGraw- Hill Book Company, Inc.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.120 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: