Pendidikan Perempuan Di Indonesia Dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah


A. Pendahuluan

Jumlah anak perempuan yang tidak meneruskan pendidikan lanjutan pertama dan menengah lebih besar daripada murid laki-laki, sehingga bila tidak ada upaya untuk memperbaikinya maka usaha pemerintah untuk menekan kemiskinan tidak akan berhasil. Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Steven Allen dalam peluncuran The State of the World’s Children Report 2004 di Jakarta, Jumat.

Allen menyebutkan beberapa persoalan penting menyangkut pendidikan untuk anak perempuan yang oleh UNICEF dipandang masih perlu diperbaiki, serta mendapat perhatian serius. “Pemerintah Indonesia masih perlu menjadikan pendidikan sebagai prioritas jika negara ini ingin pembangunannya lebih berhasil. Salah satu masalah besar untuk menyediakan pendidikan berkualitas, khususnya anak perempuan, yaitu masih sedikitnya anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah untuk sektor pendidikan. Allen mengatakan anggaran Indonesia untuk pendidikan merupakan yang terendah di kawasan Asia Timur dan Pasifik, China, Malaysia, Filipina, dan Singapura, yang semuanya adalah pesaing utama Indonesia di bidang ekonomi.

Memperkuat data Unicef, dalam kesempatan yang sama, Menteri Peranan Wanita (Menperta)  mengatakan terbelakangnya anak perempuan dalam pendidikan tergambar dalam jumlah buta huruf dimana anak perempuan yang buta huruf lebih banyak tiga kali lipat dari anak laki-laki yang buta huruf. Sementara itu Dirjen Dikdasmen Depdiknas, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam hal pendanaan pendidikan di tanah air, termasuk dengan didirikannya Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan.[1]

Untuk mengatasi hambatan bagi anak perempuan tersebut, antara lain dengan memperdekat jarak sekolah dari rumah, memberikan subsidi biaya sekolah, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan melindungi anak perempuan dari ancaman kekerasan. Dalam hal ini tokoh utama dalam pemikiran pendidikan perempuan adalah Rahmah el Yunusiyah.

B. Pembahasan

Rahmah el Yunusiyah  adalah  sosok  pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Minangkabau. Pada usianya yang relatif muda, 23 tahun, Rahmah el-Yunusiyah telah mendirikan lembaga pendidikan khusus bagi kaum perempuan, yaitu Diniyah School Putri (1923 M.) guna memberikan pendidikan bagi kaum perempuan Minang pada masa itu. Rahmah el-Yunusiyah  tidak pernah memasuki suatu lembaga pendidikan secara tetap, baik sekolah gubernemen maupun pendidikan elementer tradisional, surau. Poisinya sebagai tokoh pembaharu pendidikan Islam bagi perempuan di Minangkabau didasarkan pada kemampuannya menciptakan pendidikan modern menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan saat itu. Konsep pendidikannya mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.

Perempuan, dalam pandangan Rahmah el-Yunusiyah, mempunyai peran penting dalam kehidupan. Perempuan adalah pendidik anak yang akan mengendalikan jalur kehidupan mereka selanjutnya.  Atas dasar itu, untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki kedudukan perempuan diperlukan pendidikan khusus kaum perempuan yang diajarkan oleh kaum perempuan sendiri. Dalam hal ini perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan, baik di bidang intelektual, kepribadian ataupun keterampilan.

Ketika Ia mendirikan gedung perguruannya pada tahun 1927 dan mengalami kekurangan biaya penyelesaian gedung tersebut, ia menolak bantuan yang diulurkan kepadanya dengan halus dan bijaksana. Ia ingin memperlihatkan kepada kaum laki-laki bahwa wanita yang selama ini dipandang lemah dan rendah derajatnya dapat berbuat sebagaimana laki-laki, bahkan bisa melebihinya. Tampaknya pikiran Rahmah el-Yunusiyah setengah abad yang lalu sejalan dengan pendapat kaum wanita dewasa ini yaitu: “membangun masyarakat tanpa  mengikutsertakan kaum wanita adalah sebagai seekor burung yang ingin terbang  dengan satu sayap saja. Mendidik seorang wanita berarti mendidik seluruh manusia ”.

Dengan berdirinya Diniyah Putri  pada 1923, sang pendiri, Rahmah el-Yunusiyah, memperluas misi kaum modernis untuk menyediakan sarana pendidikan bagi kaum perempuan yang akan menyiapkan  mereka  menjadi  warga  yang  produktif dan muslim  yang baik. Ia  menciptakan  wacana  baru  di Minangkabau,  dan  meletakkan  tradisi baru dalam pendidikan bagi kaum perempuan di kepulauan  Indonesia.  Diniyah Putri adalah  akademi agama  pertama bagi putri  yang  didirikan  di  Indonesia. Rahmah merasa bahwa pendidikan bersama (campuran) membatasi kemampuan  kaum perempuan untuk menerima pendidikan yang cocok dengan kebutuhan mereka.  Rahmah  ingin  menawarkan  kepada anak–anak perempuan pendidikan sekuler dan agama yang  setara  dengan pendidikan yang tersedia bagi kaum laki–laki, lengkap dengan program pelatihan dalam hal keterampilan yang berguna sehingga kaum perempuan  dapat  menjadi  anggota  masyarakat  yang  produktif.

Tujuan akhir Rahmah adalah meningkatkan kedudukan kaum perempuan dalam  masyarakat  melalui  pendidikan modern yang berlandaskan prinsip–prinsip Islam. Ia  percaya bahwa perbaikan posisi kaum perempuan dalam masyarakat tidak dapat  diserahkan kepada pihak lain, hal ini harus dilakukan oleh kaum  perempuan  sendiri. Melihat tekad dan kemauan keras adiknya itu, Labay mendukung cita–citanya.  Kemauan yang keras membaja ini ia  pegangi dari ayat Al-Qur’an surat Muhammad ayat 7 yang  artinya: “Hai orang–orang yang  beriman , jika  kamu  menolong  Allah, maka  Allah  akan  menolong kamu pula”. Begitu yakinnya ia akan janji Allah ini sehingga selalu  dijadikannya pegangan dalam berbuat kebajikan.

Dalam perkembangan selanjutnya, sekolah ini menerapkan sistem pendidikan  modern  yang mengintegrasikan pengajaran ilmu–ilmu agama dan ilmu–ilmu umum secara  klasikal, serta memberi pelajaran ketrampilan. Meskipun demikian, ilmu–ilmu  agama tetap menjadi pelajaran pokok dan merupakan kekhususan sekolah ini; karenanya dapat dibedakan dengan sekolah Dewi Sartika dan Maria Walanda  yang  lebih menitikberatkan  pada  pelajaran  kejuruan  dan keputrian.  Menurut Rahmah bahwa masyarakat bisa baik melalui rumah tangga sebab rumah  tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat tiang negara.

Sudah menjadi kenyataan  umum pada waktu itu. bahwa yang mendirikan dan  menyelenggarakan dunia pendidikan adalah kaum pria. Di  Pulau  Jawa  misalnya  semua  pesantren didirikan oleh kaum pria. Apalagi pada masa itu adat sangat kuat di  Minangkabau.  Tapi  Rahmah  el-Yunusiyah  dapat  menunjukkan  kepada  masyarakat dan kepada  dunia,  bahwa  wanita  dapat  berbuat  sebagaimana  halnya  kaum pria. Visi Rahmah tentang peran perempuan adalah peran dengan beberapa segi: sebagai pendidik,  pekerja sosial demi kesejahteraan masyarakat, teladan moral, muslim yang baik dan juru bicara untuk mendakwahkan pesan-pesan Islam.

Bentuk realisasi dari pemikiran pendidikan Rahmah el-Yunusiyah adalah berupa pendirian sekolah–sekolah bagi perempuan. Hal ini merupakan tanggapan dari situasi pada masa itu dan sejalan pula dengan teorinya Arnold J. Toynbee yaitu : “Challenge and Respons”. Sedangkan tujuan pendidikannya untuk mencerdaskan kaum perempuan agar pendidikan pada masa itu tidak berpusat pada laki–laki, dengan demikian hal ini sejalan dengan teori Feminisme, yaitu teori poststrukturalis dan postmodernisme. (Hamruni; makalah)

Beberapa hambatan  pada kaum  perempuan Indonesia. Pendidikan yang belum berpihak pada kaum perempuan dapat pula ditemui dalam bidang lain. Misalnya dalam bidang kesehatan dan pekerjaan. Perusahaan masih banyak yang belum memberi lapangan kerja pada perempuan. Angka perempuan menganggur lebih tinggi dapat ditemui dimana-mana dibanding laki-laki. Kalaupun perempuan banyak ditemui bekerja disektor informal (pabrik) itu bukan berarti hilangnya diskriminasi. Angka kaum perempuan upahnya tidak dibayar oleh perusahaan mencapai 41,3% lebih tinggi dibanding laki-laki yang hanya 10% menjadi bukti beban yang diterima perempuan diluar rumah.

Sementara di dalam rumah, hambatan keluarga dan mengurus anak serta kekerasan dalam rumah tangga yang dirasakannya membuat perempuan kerap susah bisa mengurus dirinya sendiri. Ini yang membuat kaum perempuan begitu susah mengembangkan dirinya dan potensinya secara maksimal. Dan kemiskinan yang melilit bangsa ini paling banyak dari kelompok kaum perempuan. Dalam data yang lain disebutkan wanita yang menamatkan perguruan tinggi dan akademi hanya 2,43% dari angka 35, 83% yang dimiliki laki-laki. Angka itu jelas membutuhkan kerja keras perempuan. Bagaimana tidak negara yang 50% lebih populasinya perempuan dan memiliki posisi paling sentral dalam rumah tangga.

Namun dalam realitas ternyata adalah komunitas yang paling merasakan kemiskinan dan kemelaratan yang menimpa negara saat krisis ekonomi tahun 1996 terjadi. Dan PHK besar-besaran korbannya mayoritas adalah perempuan. Kondisi itu adalah realitas yang harus diperbaiki oleh kaum perempuan sendiri, karena peran diluar institusi perempuan belum banyak yang berpihak untuk perempuan. Baca Indonesian News – Perempuan Nyaris Gagal Nikmati Hasil Pembangunan, 2006. Ada beberapa solusi, salah satunya pendidikan (jarak jauh) dan pemberdayaan gender.

Pendidikan yang mencerdaskan bangsa serta kompetitif dalam dunia global mutlak diperlukan oleh seluruh komponen bangsa dalam menghadapi semua persoalan di semua lini kehidupan. Artinya angka putus sekolah yang tinggi serta masih tingginya angka diskriminasi – rendahnya angka lulusan perguruan tinggi pada kaum perempuan serta masih tingginya angka buta huruf di kalangan perempuan Indonesia– serta kekerasan rumah tangga perempuan harus segera di reformasi. Tanpa itu posisi penting dalam pembangunan nasional tidak akan dirasakan kaum perempuan.

Oleh sebab itu masalah tersebut harus bisa diatasi bila perempuan ingin ada dalam posisinya yang sejajar dengan elemen-elemen lain di dalam mengisi arti kemerdekaan yang sudah diperoleh 66 tahun silam oleh bangsa kita. Reformasi yang paling mendasar yaitu memberdayakan kaum perempuan itu sendiri. Pemberdayaan itu harus mampu menyentuh akar persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Bidang – bidang paling strategis yang membuat perempuan termarjinalkan harus diangkat secara tuntas.

Dalam konteks itu, Universitas Terbuka (UT) dapat pula mengambil peran penting yang sama dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia dengan daya saing yang tak kalah dengan universitas-universitas terkemuka untuk menyiapkan kader-kader bangsa yang tangguh dalam menghadapi pasar bebas. UT yang tangguh sangat mungkin dapat berdiri sejajar dalam melahirkan lulusan-lulusan berkualitas dengan akreditasi yang diperolehnya dari International Council for Open and Distance Education (ICDE) sebagai universitas terbuka yang memenuhi standar internasional.

Lembaga pendidikan terbuka dan jarak jauh di dunia yang berbasis di Oslo, AS ini telah memeriksa semua standar dan mutu UT ini telah memenuhi kualifikasi terbaik. Bahkan dalam bahan ajar dan pelayanannya UT medapat ISO 9001;2000 dari SAI Global milik Australia. Ini adalah predikat luar biasa bagi sebuah universitas yang memang tidak mudah diperoleh sebuah lembaga pendidikan yang menjamur di Indonesia. Secara aplikatif pendidikan yang banyak bertumpu pada pengembangan kemandirian mahasiswa ini diperoleh melalui perangat-perangkat modernisasi.(Baca Tempo edisi 13-19 November 2006 ).

Kemudian  itu tidak harus melalui pertemuan tatap muka antara dosen dan mahasiswa dalam ruangan secara langsung. Misalnya pendidikan jarak jauh yang dapat mengintegrasikan beberapa aspek pengalaman perempuan dengan informasi yang disediakan perguruan tinggi melalui perangkat modern (website dan internet) yang dimiliki UT yang ada. Ini yang harus disediakan UT dalam mendesain pembelajaran bagi perempuan yang menuntut ilmu dalam pendidikan jarak jauh yang ada. Berikut beberapa hal yang harus dipenuhi UT dalam rangka mengintegrasikan kebutuhan pendikan yang ada, dengan capaian-capaian yang di inginkan sebagai berikut: (Baca, kompas the world bank, 2006)

(1). Pendidikan tatap muka ini harus menyediakan informasi tentang perkembangan dan kemajuan kaum perempuan secara global.

(2). Pendidikan ini juga harus memberi informasi mengenai keterlibatan perempuan dalam semua sektor pembangunan yang ada.

(3). Perguruan ini harus mampu menjadi ujung tombak lembaga pendidikan yang ikut peduli pada nasib perempuan Indonesia.

(4). Dan yang paling penting tenaga pengajar yang ada harus ikut terlibat dalam mendesain pengajaran dan memberdayakan mahasiswanya agar menjadi lulusan yang peduli pada masalah yang dialami kaum perempuan Indonesia. Poin-poin pembelajaran diatas sangat mungkin menjadi alternatif dari system pendidikan yang ada selama ini. Atau pendidikan dengan system yang berbeda. Tapi mampu mengintegrasikan mahasiswa yang menuntut ilmu dengan realitas yang ditemui kaum perempuan yang belum menguntungkan posisinya.

Berawal dari program ini standar kualifikasi yang berkualitas pada saat menamatkan pendidikan tingginya tetap harus dipertahankan. Itu artinya UT adalah salah satu lembaga pendidikan dengan standar dan mutu yang teruji juga berhasil membuka kesempatan bagi mahasiswa yang sibuk untuk memperoleh kesempatan untuk meluluskan calon-calon generasi bangsa dengan baik. Dan mereka yang selama ini belum terakomodir dalam pola pendidikan tatap muka, akan sangat tepat memilih kurikulum jarak jauh pendidikan yang disediakan UT. Sudah pasti kaum perempuan dapat menjadi kelompok paling pas untuk merealisasikan visi-misinya berkontribusi dalam desain kebijakan bangsa yang besar ini.

Kurikulum jarak jauh itu sangat bermanfaat bagi perempuan karena fleksibilitas yang ditawarkan begitu longgar. Yang pasti bagi perempuan sibuk bekerja akan memperoleh manfaat dari program ini. Mereka mendapatkan ilmu sekaligus dapat mengakses tekhnologi mutakhir yang ada. Dan ini sangat mungkin menutup gap antara partisipasi perempuan dan laki-laki dalam 8 pembangunan selama ini. Dan sudah pasti aspek paling penting dari pendidikan yaitu kualitas tidak diabaikan oleh UT.

Bangsa ini harus yakin bahwa generasinya mampu hidup sejajar bila kita buka peluang pendidikan dan pemberdayaan itu bisa berjalan seiring sebagai agenda penyelesaian masalah bangsa secara tuntas. Dan perempuan yang berjasa dalam merintis kemerdekaan juga bisa dirasakan perannya dalam pembangunan negara ini melalui perjuangan menentaskan kaumnya yang masih banyak yang tertinggal maupun termarjinalkan dalam pembangunan yang belum berpihak pada perempuan selama ini. Artinya hak-hak yang sama dalam pembangunan bangsa dan negara ini tidak boleh dibangun secara parsial.

Konstruksi pemikiran perempuan dan laki-laki yang bias gender dalam pembangunan yang kita lakukan dalam menentukan kebijakan negara dalam semua sektor harus dihilangkan. Pemikiran itu ternyata hanya menjadikan kita menjadi bangsa yang kerdil dalam pentas global. Dan itupula yang ikut membuat hak-hak perempuan sulit berkembang dalam berhadapan dengan ekses negatif budaya kompetisi pasar bebas. Sudah waktunya generasi bangsa yang tercerahkan itu lahir menjadi penyelamat bangsa yang terpuruk karena keterbelakangan. Dan itu bisa hilang bila bangsa ini percaya pada peran lembaga pendidikan dalam membangun bangsa yang berkualitas dan maju.

Saatnya bangsa ini mulai dari pemerintah, masyarakat dan elemen pentingdi negara ini harus mau mendorong upaya negara ini untuk membangun bangsa tercinta ini untuk memprioritaskan pendidikan dalam mencetak generasi muda yang tangguh dan kompetitif serta mandiri. Karena bukti negara-negara yang kuat dan maju yang kita saksikan lahir dari negara yang peduli pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lemahnya. Dan negara kita mayoritas perempuan dan paling rentan masalah harus bisa segera diangkat harkat dan martabatnya untuk bisa berkontribusi membangun bangsa ini secara bersamasama. Dan pendidikan yang belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang ada harus kita bangun dan kita buka seluas-luasnya di negara ini.[2]

C. Penutup

Untuk mengatasi hambatan bagi anak perempuan tersebut, antara lain dengan memperdekat jarak sekolah dari rumah, memberikan subsidi biaya sekolah, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan melindungi anak perempuan dari ancaman kekerasan.

Rahmah el Yunusiyah  adalah  sosok  pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Minangkabau. Ia dilahirkan pada tanggal 29 Desember 1900 M di kota Padang Panjang. Pada usianya yang ke 23 tahun Rahmah el-Yunusiyah telah mendirikan lembaga pendidikan Khusus bagi kaum perempuan, yaitu Diniyah School Putri (1923 M.) dalam rangka meningkatkan tingkat pendidikan kaum perempuan Minang pada masa itu. Dengan masa pendidikan yang tidak sistematik dan relatif sangat pendek, Rahmah el-Yunusiyah  tidak pernah memasuki suatu lembaga pendidikan secara tetap. Jika kemudian menjadi tokoh pembaharu pendidikan Islam bagi perempuan di Minangkabau, tidak lain berkat usaha dan kerja kerasnya dalam mendalami suatu ilmu. Selain tekun membaca, ia pun memiliki wawasan baca yang cukup luas. Rahmah el-Yunusiyah telah menciptakan pendidikan modernis menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.

Kiprah dan pemikiran Rahmah el-Yunusiyah dalam pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau bisa dilihat dengan adanya pendirian Diniyah School Putri (1923). Sebagai penunjang perguruan Diniyah School Putri Rahmah el-Yunusiyah juga mendirikan beberapa sekolah perempuan lainnya, yaitu : Menyesal  School (1925), Yunior Institut Putri (1938), Islamitisch Hollandse school (1940), Kulliyatul Mu’allimin El-Islamiyah (1940), kemudian di tahun 1947 ia mendirikan Sekolah Diniyah Rendah Putri dan Sekolah Diniyah Menengah Pertama Putri. Kemudian tahun 1964 Rahmah juga mendirikan Akademi Diniyah Putri.

Untuk mencapai tujuannya  Rahmah menganut sistem pendidikan  terpadu, yaitu : memadukan  pendidkan  yang  diperoleh  dari rumah  tangga, pendidikan yang diterima sekolah dan pendidikan yang diperoleh dari masyarakat di dalam pendidikan asrama. Dengan sistem terpadu ini, teori ilmu pengetahuan dan agama serta  pengalaman yang dibawa oleh masing–masing  murid  dipraktekkan  dan  disempurnakan dalam  pendidikan  asrama di bawah asuhan guru–guru asrama.

Rahmah mengakui peran perempuan sebagai ibu dan pendidik anak-anak mereka, seperti yang dibicarakan dalam wacana muslim kontemporer, baik di Minangkabau maupun di pusat-pusat intelektual Muslim di Indonesia seperti Jakarta. Rekonsiliasi antara peran-peran ini dengan tuntutan kehidupan kontemporer adalah tema yang popular dan menonjol dalam wacana kaum muslim di Indonesia dewasa ini, karena meningkatnya jumlah kaum perempuan yang terdidik dan berasal dari kelas menengah yang mencari kerja dan karier membuat mereka meninggalkan rumah sepanjang hari.

Peran isteri dan ibu sangat disanjung tinggi oleh para intelektual muslim perempuan seperti Dr. Zakiah Daradjat, psikolog kelahiran Minangkabau, perempuan sebagai isteri dan ibu dipandang oleh para intelektual Muslim perempuan sebagai sangat penting bagi pemeliharaan tatanan moral yang menempatkan keluarga sebagai basisnya dan bagi upaya penyiapan pendidikan dan perkembangan moral anak-anak mereka.  Dalam hal ini  pendidikan Islam telah berperan sebagai alat bagi kaum perempuan Minangkabau untuk mengkonfrontasikan pesan-pesan gender Islam dalam adat yang berbeda dan berupaya menegosiasikan antara keduanya.

Independensi yang ditunjukkan Rahmah el Yunusiyyah, juga tidak sebatas pada persoalan model dan conetnt pendidikannya, tetapi sampai dalam bidang penggalangan dana untuk pembangunan sarana pendidikan. Sebut misalnya, ketika bangunan dan asrama sekolahnya hancur karena gempa pada tahun 1926, ia menolak tawaran beberapa pihak, yang menyatakan keinginannya untuk membantu proses pembangunan kembali gedung pendidikannya. Termasuk tawaran subsidi dari pemerintah kolonial yang juga ditolaknya, karena dinilai akan mengurangi independensinya.

Pilihan Rahmah el Yunussiyah, justru melakukan perjalanan penggalangan dana pada tahun 1927, ke Sumtara Utara dan Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam perjalanan yang digunakan untuk menyampaikan cita-cita pendidikan dan program-programnya, Rahmah el Yunusiyyah, menyempatkan diri memberikan pelajaran agama di beberapa istana untuk putri-putri sultan. Perjalanan selama tiga bulan ini, telah berhasil menggalang dana yang cukup besar untuk melanjutkan pembangunan sarana pendidikannya.

Sebagaimana diketahui secara luas, gagasan pendidikan inilah yang kemudian hari, sampai saat ini, tetap berkembang baik, yaitu Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang sangat berpengaruh tidak saja pada level nasional, melainkan sampai tingkat internasional. Sebuah karya besar dan monumental dari perempuan Islam, yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan perempuan Islam dengan guru-guru perempuan di dalamnya.

Sebuah arsitek pendidikan progresif, yang hanya menyelesaikan pendidikan formalnya, selama tiga tahun di tanah kelahirannya, selebihnya mengikuti pengajian di surau-surau. Rahmah el Yunisiyyah benar-benar membuktikan, Islam mampu dijadikan basis gerakan untuk perbaikan situasi dan kondisi perempuan, sebagaimana yang ia cita-citakan. Pada tanggal 26 Pebruari 1969, Rahmah el Yunusiyyah, dengan tanpa diduga, karena sesaat sebelum wafatnya, ia masih bercengkerama dengan para tamunya.

*Makalah ini disusun oleh Yuliana (aktivis Risma Al-Qomar)

Daftar Pustaka

Hasbullah. 1999.  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nasution, Harun. 1995.    Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : Bulan Bintang.

Nata, Abuddin, dkk. 2001.    Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga – Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Grasindo.

————-. 1992 . Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Zuhairini, dkk. 1986.   Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama.


[1].  http://www.mediaindo.co.id/2003/Siswono

[2].  www.docstoc.com

About these ads

2 Tanggapan

  1. izin copas y… makasi sebelumnya___^

  2. ijin copas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.118 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: